POTPOURRIVeritas

Kita Semua Adalah Jelata yang Berwawasan Kebangsatan

“Kita Adalah Jelata” dibuka dengan “Kita Adalah Affan” pada pengantar”: kisah pengemudi ojek daring yang tewas dilindas mobil taktis polisi pada demonstrasi akhir Agustus 2025. Puisi itu pertama kali dibacakan Okky dalam podcast Madilog-Forum Keadilan bertajuk “Kita Wajib Gentayangan.” Episode itu nyaris tak muncul di linimasa publik, seolah ada kekuatan ‘mistis’ di dunia maya yang kukuh menolak algoritma media menayangkan dua kata sederhana: “Affan Kurniawan.” Okky memang  memilih tidak ikut tenang. Ia meminjam tradisi “pamflet”, tapi memberinya bentuk baru—lebih reflektif, lebih jenaka, dan kadang lebih kejam.

Oleh     :  Darmawan Sepriyossa

JERNIH– Sejak “Entrok” mengguncang pembaca pada 2010, Okky Madasari selalu menulis dengan satu nada dasar: melawan. Kini, lima belas tahun kemudian, nada itu tak berubah—hanya suaranya yang lebih getir. Dalam dua buku barunya, “Kita Adalah Jelata” dan “Wawasan Kebangsatan: 80 Catatan”, ia seakan menyodorkan cermin retak di hadapan bangsa yang terus memuja ilusi kemerdekaan sambil membiarkan rakyatnya tetap jelata.

Dari puisi “Kita Adalah Affan” hingga catatan “Republik Rekayasa”, Okky menulis dengan darah dan ironi, menegakkan kembali tradisi sastra perlawanan yang dulu dijaga Rendra, Taufiq Ismail, hingga Wiji Thukul—mereka yang percaya bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan keberanian. Di tangan Okky, puisi dan esai bukan lagi dua bentuk seni, tapi dua senjata: satu menembak hati, satu menembak kepala.

Puisi Sebagai Saksi

“Kita Adalah Jelata” dibuka dengan “Kita Adalah Affan” pada pengantar, kisah pengemudi ojek daring yang tewas dilindas mobil taktis polisi pada demonstrasi akhir Agustus 2025. Puisi itu pertama kali dibacakan Okky dalam podcast Madilog-Forum Keadilan bertajuk “Kita Wajib Gentayangan.” Episode itu nyaris tak muncul di linimasa publik, seolah ada kekuatan ‘mistis’ di dunia maya yang kukuh menolak algoritma media menayangkan dua kata sederhana: “Affan Kurniawan.”

Tapi mungkin justru di situ letak kekuatannya. Okky menulis untuk mereka yang tak bisa bersuara, dan tentang hal-hal yang sistem tak ingin dengar. Puisinya kasar, getir, dan sengaja tidak molek. Ia menolak estetika steril, sebagaimana Rendra dulu menolak panggung yang berjarak dari rakyat. Dalam puisinya yang sarkastik, Okky menulis: “Setiap ada pekik Merdeka, aku dengar bunyi kentut. Merdeka! Tuut! Merdeka! Tuut!”  Nyaris sevulgar Rendra yang menulis pada sajaknya,”Sajak SLA”: “Murid-murid mengobel kelentit ibu gurunya. Bagaimana itu mungkin? Itu mungkin. Karena tidak ada patokan untuk apa saja. Semua boleh. Semua tidak boleh.”

Okky mengaku menyukai Rendra, juga Joko Pinurbo dan Wiji Thukul. Tapi jika Rendra berorasi, Okky lebih memilih berbisik tajam. Puisinya tidak “se-pamflet” Rendra, tapi juga tidak pura-pura halus. Ia menulis dengan napas kemarahan yang dingin, karena tahu bahwa di zaman ini, suara lantang bisa dituduh bising, dan keheningan pun bisa dibaca sebagai ancaman.

Sementara “Wawasan Kebangsatan” berisi 80 tulisan pendek yang menusuk di bagian-bagian paling sensitif dari kehidupan bernegara: sejarah yang dikarang ulang, ilmu pengetahuan yang dikebiri, politik yang dijalankan dengan martabak ganda, dan agama yang dijadikan sabun cuci dosa.

Okky menulis dengan disiplin sosiologis yang jarang ditemui pada penulis populer. Ia menelusuri bagaimana bangsa ini gemar memoles kepalsuan dan mengarsipkan kebodohan. Catatan-catatannya bukan rengekan moral, tapi audit kecil terhadap cara kita berpikir sebagai warga negara.

Nada tulisannya ringkas, tapi padat muatan. Di banyak bagian, ia menggunakan ironi—membuat pembaca tertawa getir sebelum sadar sedang ditelanjangi. “Wawasan Kebangsatan” adalah buku yang menjadikan kemarahan terasa masuk akal. Ia tak menuding siapa pun secara personal, tapi membuat setiap pembaca merasa bersalah.

Membaca Okky, orang mudah teringat pada Rendra. Bedanya, Rendra berteriak di gelanggang, sementara Okky bergumam di ruang digital yang penuh sensor tak kasat mata. Rendra menantang lembaga, Okky menantang sistem tanpa wajah: algoritma, budaya viral, dan kepatuhan massal.

Rendra pernah menulis, “Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.” Kini, di zaman Okky, kritik memang boleh di mana saja—tapi sering tenggelam di antara notifikasi dan promosi. Itulah dunia tempat ia menulis: ketika kebebasan berbicara tak lagi dilarang, tapi diredam perlahan oleh kesibukan dan sinisme.

Okky memilih tidak ikut tenang. Ia meminjam tradisi “pamflet”, tapi memberinya bentuk baru—lebih reflektif, lebih jenaka, dan kadang lebih kejam. Seorang peneliti sastra pernah menyebutnya “penulis yang beroperasi di antara estetika dan politik.” Mungkin benar. Ia seperti Rendra yang belajar menulis di Twitter, atau seperti Thukul yang membaca Foucault.

Kita Semua Jelata

Dua buku ini lahir dari zaman yang tak lagi sopan. “Kita Adalah Jelata” berbicara dari bawah, “Wawasan Kebangsatan” berbicara dari atas. Yang satu mengisahkan korban, yang lain menyoroti struktur yang menciptakan korban. Jika dibaca bersamaan, keduanya membentuk satu tubuh narasi: jerit dan analisis, rasa dan nalar, rakyat dan negara.

Okky tahu sastra tak akan menurunkan harga beras atau menahan peluru gas air mata. Tapi ia percaya sastra masih bisa menahan kelumpuhan nurani. Ia menulis untuk mengingatkan bahwa “jelata” bukan sekadar kelas sosial, melainkan posisi moral: siapa yang berpihak, dan siapa yang diam.

Dalam satu wawancara, ia berkata, “Sastra harus memihak yang lemah, karena yang kuat sudah punya semua.” Kalimat itu ringkas, tapi menjadi fondasi seluruh karyanya. Ia bukan sedang menulis untuk menyenangkan siapa pun; ia menulis agar bangsa ini tak lupa siapa yang menanggung beban pembangunan.

Dua Cermin, Satu Negeri

Kita hidup di negeri yang pandai berbohong dengan sopan. Kita melupakan fakta, tapi rajin menggelar upacara. Di tengah absurditas itu, dua buku Okky Madasari hadir sebagai dua cermin: satu memperlihatkan wajah rakyat, satu memperlihatkan wajah bangsa. Keduanya sama-sama retak—dan barangkali di situlah letak kejujurannya.

Okky tak sedang mencari pengikut, ia sedang menagih keberanian berpikir. Ia tahu kata-kata tak akan mengubah dunia sendirian, tapi dari sanalah perubahan kecil bermula: dari satu kalimat yang membuat kita tak bisa lagi tidur nyenyak.

Dan kalau dalam setiap pekik “Merdeka!” kita masih bisa mendengar bunyi kentut yang ia tulis itu, mungkin itu tanda baik. Artinya, masih ada yang jujur menertawakan kemunafikan. Masih ada yang berani menulis dengan nurani—di negeri yang terlalu sibuk menulis sejarah tanpa hati. [dsy]

Back to top button