
Di balik kegelapan total yang melanda Havana, semangat perlawanan justru kian menyala. Dengan dukungan diplomatik dari Madrid hingga Brasilia, Kuba bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
WWW.JERNIH.CO – Hubungan antara Kuba dan Amerika Serikat kembali memasuki fase paling kritis dalam beberapa dekade terakhir. Memasuki April 2026, ketegangan di Selat Florida tidak lagi hanya sekadar perang kata-kata, melainkan telah berkembang menjadi ancaman konfrontasi militer dan krisis kemanusiaan yang mendalam. Situasi ini memicu reaksi keras dari dunia internasional, terutama dari negara-negara yang memiliki kedekatan historis dan politik dengan kawasan tersebut, seperti Spanyol, Meksiko, dan Brasil.
Update terbaru menunjukkan bahwa pemerintahan Donald telah memperketat blokade energi terhadap Kuba. Setelah keberhasilan AS menggulingkan pemerintahan Nicolás Maduro di Venezuela pada awal 2026 dan keterlibatannya dalam konflik dengan Iran, Kuba kini secara terbuka disebut sebagai “target berikutnya”.
Gedung Putih memberikan ultimatum kepada Havana: lakukan transisi sistem politik secara total atau hadapi konsekuensi yang lebih berat, termasuk kemungkinan operasi militer.

Blokade bahan bakar yang diterapkan AS telah menyebabkan sistem kelistrikan nasional Kuba runtuh berkali-kali. Pada Maret dan April 2026, pulau ini mengalami kegelapan total selama berhari-hari. Dampaknya sangat fatal—lebih dari 96.000 operasi medis tertunda, sistem distribusi air lumpuh, dan kelangkaan pangan mencapai titik nadir.
Meskipun AS sempat mengizinkan satu tanker Rusia untuk bersandar pada akhir Maret, tekanan diplomatik dan ekonomi terus dikencangkan untuk memaksa Kuba menyerah.
Di tengah ancaman “badai” ini, Spanyol, Meksiko, dan Brasil muncul sebagai penengah utama. Dalam sebuah pertemuan puncak di Barcelona pada 18 April 2026, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, dan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum merilis pernyataan bersama yang mendesak AS untuk segera membuka ruang dialog yang tulus dan penuh rasa hormat dengan Kuba.
Ketiga negara ini menekankan bahwa krisis di Kuba bukan lagi sekadar masalah ideologi, melainkan bencana kemanusiaan yang mengancam nyawa jutaan orang. Mereka berargumen bahwa rakyat Kuba harus diberikan kebebasan untuk menentukan masa depan mereka sendiri tanpa campur tangan militer atau paksaan ekonomi yang mencekik.
Bagi Spanyol, ini adalah upaya melindungi warisan budaya dan investasi di bekas koloninya, sementara bagi Meksiko dan Brasil, ini adalah langkah untuk mencegah instabilitas lebih lanjut di kawasan Amerika Latin.
Banyak pihak bertanya-tanya, apa yang membuat Kuba tetap teguh di bawah tekanan superpower dunia? Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, dalam pidato terbarunya pada 10 April 2026, menyatakan dengan tegas, “Kuba siap untuk berdialog, namun kami tidak akan pernah bernegosiasi di bawah ancaman atau melepaskan kedaulatan politik kami hanya untuk menyenangkan imperium.”

Ada tiga faktor utama yang mendasari keberanian Kuba, antara lain; harga diri nasional dan kedaulatan. Bagi kepemimpinan dan sebagian besar rakyat Kuba, menyerah pada tuntutan AS dianggap sebagai pengkhianatan terhadap revolusi. Mereka memegang prinsip bahwa sistem politik adalah hak prerogatif internal yang tidak bisa diperjualbelikan.
Meskipun ditekan, Kuba tidak sepenuhnya terisolasi. Rusia dan Tiongkok terus mengupayakan pengiriman bantuan energi dan pangan melalui jalur-jalur yang sulit ditembus blokade. Rusia baru-baru ini mengirimkan 100.000 ton minyak mentah sebagai bantuan darurat.
Terakhir di dalam negeri, pemerintah telah menggerakkan latihan pertahanan rakyat. Warga sipil mulai dilatih menggunakan senjata sebagai pesan kepada Washington bahwa invasi militer tidak akan berjalan mudah dan akan dibayar mahal oleh perlawanan gerilya.
Kekuatan militer Kuba memang tidak ada apa-apanya dibanding AS. Ibarat langit dan bumi. Bahkan hampir seluruh peralatan militer Kuba adalah peninggalan era Uni Soviet (T-55, T-62, dan jet MiG-21/23). Dalam simulasi serangan modern, sistem pertahanan udara Kuba akan sangat mudah dilumpuhkan oleh serangan siber dan rudal jelajah AS dalam hitungan jam.
Tapi Kuba punya kekuatan “Guerra de Todo el Pueblo” (Perang Seluruh Rakyat) Meskipun militernya lemah di atas kertas, Kuba memiliki sistem pertahanan yang disebut War of All the People. Inilah yang membuat mereka “berani”. Mereka adalah gabungan antara militia dan cadangan. Kuba memiliki lebih dari 1,1 juta personel paramiliter dan cadangan yang terlatih. Jika AS melakukan invasi darat, mereka tidak akan melawan tentara berseragam saja, tetapi setiap warga sipil yang dipersenjatai di setiap blok kota.
Kuba telah menghabiskan puluhan tahun membangun jaringan terowongan bawah tanah dan bunker di pegunungan untuk menyembunyikan logistik serta kepemimpinan mereka dari serangan udara.
Mereka belajar dari kegagalan invasi Teluk Babi (1961) dan kekacauan di Irak/Afganistan. Strateginya adalah membiarkan AS masuk, lalu menjebak mereka dalam perang gerilya kota yang mematikan dan berlarut-larut.(*)
BACA JUGA: Jika AS Menyerbu, Kuba Melawan Lewat Perang Rakyat






