POTPOURRIVeritas

Sajak-sajak Marlin Dinamikanto; dari Vivere Pericoloso Hingga Kronika Cinta

Puisinya juga terbit di berbagai surat kabar dan antologi bersama, serta menembus panggung internasional melalui partisipasinya di Borobudur Writers and Cultural Festival dan Pertemuan Penyair Nusantara XI. Kepenyairannya bahkan melintasi medium: komponis dan pianis Ananda Sukarlan menggubah sejumlah puisinya menjadi tembang puitik untuk vokal dan piano.

JERNIH–Marlin Dinamikanto lahir di Yogyakarta pada 7 Januari 1967. Ia tumbuh dalam atmosfer intelektual dan kebudayaan kota itu, yang sejak dini membentuk kedekatannya dengan dunia sastra. Pada usia 11 tahun, ketika masih duduk di bangku SMP, Marlin sudah diajak Yonas Suharyono mengikuti diskusi Persada Studi Klub (PSK) di Bintaran Kidul, sekaligus belajar menulis puisi kepada Soewarno Pragolapati—sebuah fase penting yang menandai perkenalannya dengan tradisi sastra serius. Pengalaman awal ini menjadi fondasi kepekaan estetiknya, meski kemudian jalan hidupnya sempat berbelok ke dunia pergerakan dan jurnalisme.

Selepas kuliah, Marlin aktif dalam gerakan mahasiswa dan menjadi bagian dari Yayasan Pijar, sebuah simpul penting perlawanan intelektual menjelang runtuhnya Orde Baru. Ia menjabat Pemimpin Redaksi “Kabar dari Pijar” (1995–1999) dan terlibat luas dalam kerja-kerja advokasi, mulai dari konflik agraria hingga aktivitas jurnalistik di berbagai media. Namun kepenyairan tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Sejak 2011, ia kembali menekuni puisi dengan intens, dan sejak 2013 tercatat sebagai salah satu penyair dalam Gerakan Puisi Menolak Korupsi—menegaskan posisi puisi sebagai sikap etis sekaligus politik kebudayaan.

Dalam khazanah karya, Marlin menerbitkan antologi puisi “Yang Terasing dan Mampus” (2019), serta buku “Tragedi Hukum di Atap Sorga” yang ditulis bersama Sugeng Teguh Santoso. Puisinya juga terbit di berbagai surat kabar dan antologi bersama, serta menembus panggung internasional melalui partisipasinya di Borobudur Writers and Cultural Festival dan Pertemuan Penyair Nusantara XI. Kepenyairannya bahkan melintasi medium: komponis dan pianis Ananda Sukarlan menggubah sejumlah puisinya menjadi tembang puitik untuk vokal dan piano. Dengan lintasan hidup yang menyatukan sastra, jurnalisme, dan aktivisme, Marlin Dinamikanto menempatkan puisi bukan sekadar karya estetik, melainkan laku kebudayaan yang berpihak pada nurani dan pengalaman manusia.

Vivere Pericoloso

saat buka mata

gumpalan kabut menyiksa

hari yang tenggelam

dikepung kelam

ribuan kumbang terbang

merana tapi riang

napas hidup yang sumbang

aku bertatap kolam

jernih oleh air mata

terjebak gerimis muram

tak lagi punya kata-kata

selain bergumam

berharap cuaca cerah

ada sisa gairah

kolam di ujung mata

seperti baskom cenayang

tak tega untuk berkata

tentang segumpal bayang

ada banyak luka menyiksa

jerit kabut mengendap

benci yang lindap

Pegangsaan, 1 Januari 2026

INDONESIA 2025

Indonesia

engkau lah pabrik air mata

menggenang batuan permata

mas kawin pejabat yang nikah siri

dengan drakula berwajah pengusaha

disaksikan juru doa

di pasar gelap pemburu riba

Indonesia

isak tangis yang dikisahkan

ribuan kambing bergerak liar

tanpa gembala

mungkin di hutan Kurusetra

atau Padang Karbala

duka abadi yang luput

dari bidikan kamera wartawan

namun ramai di beranda

media sosial apa pun namanya

Indonesia

engkau seperti magma

terus bergerak di perut bumi

menyimpan amarah

yang dibiarkan kekal

berkerak di hati dan pikiran

sekali-kali saja luapkan erupsi

sudah itu sunyi

drakula berpesta lagi

Indonesia

oh, aku tak bisa lagi

berkata kepada siapa

di ujung tahun yang gelap

tak punya apa-apa

Pegangsaan, 26 Desember 2025

Menjelang Natal 2025

malam kudus

tak lagi sunyi

apa lagi senyap

bintang bersinar gagap

seperti mata kucing

di malam gelap

bintang yang gemerlap itu 

bukan lagi mercusuar

domba-domba yang kesasar

terjebak pertikaian panjang

Kain dan Habil

sejak Karbala hingga Kesovo

sekarang api membakar

jantung kota Yerusalem 

pertikaian abadi

tak pernah selesai

bahkan Kain dan Habil

seperti halnya Tom dan Jerry

masuk industri tontonan

dulu di televisi

sekarang di media sosial

saling jagal saling begal

demi sorga yang disangkal

viral dan terkenal

dari atas mihrab

akun para demagog

sibuk menyerbuk sabda

jalan ke surga

ternyata neraka

datang lebih cepat

di pantai barat Sumatera

sebelum kiamat tiba

jalan ke surga

disunyikan oleh keserakahan

disenyapkan oleh kebrutalan

sehingga Juru Selamat datang terlambat

langkahnya dihambat oleh kebisingan

mulut pejabat yang merasa lebih hebat

dari semesta yang membongkar aib

perselingkuhannya di ruang gelap

tak terlihat lagi bintang gemerlap

memandu domba-domba yang tersesat

diterjang kayu gelondongan

sunyi senyap

sudah itu lenyap

Pegangsaan, 21 Desember 2025

KRONIKA CINTA

cinta

semoga tak pernah paripurna

hanyut digaglak gelombang

kebencian yang menyala

dari lubang pikiran

cinta

mesti tetap dijaga

dari buruknya janji-janji surga

yang mulai gigit hati

paksa jemari garuk-garuk pikiran

agar kotak pandora

tetap tersimpan di sana

cinta

kadang perlu gimik-gimik

semacam batu akik yang dibeli

dari seberang Stasiun Jatinegara

agar hidup penuh percakapan

kebohongan dibalas kebohongan

cinta

memang butuh kejujuran

tapi apakah itu mungkin

tatkala kepalsuan yang lebih

kalian butuhkan

Pegangsaan, 18 Desember 2025

Back to top button