Puisi
Persetan Semua!

Mata itu masih saja mendelik, angkuh dari balik meja jati.
Mulutmu enteng berbusa, “Pindah saja ke mana kau suka jika tak suka!”
Kau pikir tanah ini milik kakekmu yang merajai dinasti?
Kami menuntut bukti korupsi, kau balas dengan caci dan maki.
Katamu hukum itu suci, tapi di tanganmu cuma jadi belati.
Setiap kritik yang lahir, kau pasangi jeruji dan ancaman mati.
Telingamu tuli ditutup seonggok uang haram yang menimbun nurani.
Kau tantang rakyatmu yang kurus kering memanggul beban negeri.
Tapi ingat, Bung! Sekali kami muak, singgasanamu bakal runtuh jadi abu.
Kami tak akan pergi, kamilah yang akan melihatmu mampus dikuliti waktu! (*)




