SolilokuiVeritas

10 Pahlawan Nasional yang Namanya Nyaris Tak Terdengar

Namanya mungkin tak terdengar secara nasional meski mereka Pahlawan Nasional. Mengenal mereka setidaknya ambil bagian dalam memperingati Hari Pahlawan, 10 November.

JERNIH – Dalam lembar sejarah bangsa, nama-nama besar seperti Soekarno, Hatta, Diponegoro, Patimura, Teuku Umar atau Soedirman telah mendarah daging dalam ingatan kolektif. Jumlah pahlawan nasional yang telah ditetapkan pemerintah hingga 2024 adalah sebanyak 206 orang. Pahlawan pria sebanyak 190 orang dan sisanya (16 orang) perempuan. Mereka yang berasal dari Jawa Tengah adalah yang terbanyak dibandingkan provinsi lain, yaitu sebanyak 32 pahlawan nasional.

Namun, Indonesia memiliki daftar panjang pahlawan yang jasanya tak kalah monumental, tetapi sayangnya, kisah perjuangan mereka nyaris hilang dalam sorotan. Mereka adalah tokoh-tokoh kunci di bidang diplomasi, militer, agama, pendidikan, hingga ekonomi yang berjuang dari berbagai pelosok negeri, memastikan Republik ini berdiri tegak. Mengenal 10 pahlawan nasional yang namanya kurang familiar ini adalah cara kita membayar utang sejarah.

Bernard Wilhelm (B.W.) Lapian

Bernard Wilhelm Lapian, lahir di Kawangkoan, Minahasa, pada 30 Juni 1892, adalah tokoh yang memimpin perlawanan bersenjata melawan Belanda di Sulawesi Utara.

Kepahlawanan utamanya adalah memimpin perlawanan rakyat Manado pada 14 Februari 1946 dengan merebut kekuasaan pemerintahan dari Belanda (KNIL) di Manado, sebuah tindakan revolusioner yang jarang disorot.

Ia juga menjabat sebagai Penjabat Gubernur Sulawesi (1950-1951). B.W. Lapian wafat pada 5 April 1977 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 116/TK/Tahun 2015.

Mayor Jenderal TNI Isman (Mas Isman)

Lahir di Bondowoso, Jawa Timur, pada 1 Januari 1924, Mas Isman memulai perjuangannya sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat Pelajar (BKR Pelajar) Surabaya pada masa Revolusi Fisik. Ia juga dikenal sebagai “Panglima Kuning” dalam perjuangannya di Kalimantan Timur.

Tak hanya di militer, ia juga berkarir sebagai diplomat (Duta Besar untuk Myanmar, Thailand, dan Mesir). Kontribusi besarnya setelah masa perang adalah mendirikan Yayasan Pembina Potensi Pembangunan (YPPP).

Mayor Jenderal TNI Isman wafat pada 12 Desember 1982 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2007 (Keppres No. 116/TK/Tahun 2007).

Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah

K.H. Abdul Wahab Hasbullah (lahir 31 Maret 1888 di Jombang) adalah salah satu pendiri utama Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Peran terbesarnya adalah dalam merumuskan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menggerakkan seluruh santri dan ulama Jawa dan Madura untuk wajib militer demi mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.

Ia juga pelopor pembaruan pendidikan pesantren. Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah wafat pada 29 Desember 1971 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 115/TK/Tahun 2014.

Silas Papare

Lahir di Serui, Papua, pada 18 Desember 1918, Silas Papare adalah tokoh yang sangat gigih memperjuangkan integrasi Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Ia mendirikan Komite Indonesia Merdeka (KIM) pada 1945 dan kemudian Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada 1952.

Perjuangannya dilakukan baik di jalur politik, militer, maupun diplomasi untuk menentang Belanda. Silas Papare wafat pada 7 Maret 1978 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1993 (Keppres No. 077/TK/Tahun 1993).

Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes (lahir 20 Desember 1884, Koto Gadang) adalah figur sentral emansipasi wanita di Sumatera Barat. Ia diakui sebagai Wartawati Perempuan Pertama Indonesia karena mendirikan surat kabar perempuan “Sunting Melayu” pada 1912.

Selain itu, ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 1911 untuk memberdayakan ekonomi perempuan melalui keterampilan. Perjuangannya adalah melawan kolonialisme dan diskriminasi dengan pena dan pendidikan. Roehana Koeddoes wafat pada 17 Agustus 1972 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 120/TK/Tahun 2019.

Dr. R. Soeharto

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 24 Desember 1908, Dr. R. Soeharto lebih dikenal sebagai dokter pribadi Presiden Soekarno. Namun, kontribusi besarnya terletak pada bidang politik dan ekonomi.

Ia merupakan salah satu pendiri awal Bank Negara Indonesia (BNI) 1946 dan menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Industri serta Menteri Kemakmuran pada masa awal Republik. Jasanya sangat vital dalam menstabilkan dan membangun fondasi ekonomi negara.

Ia wafat pada 27 Januari 1993 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2017 (Keppres No. 118/TK/Tahun 2017).

Abdul Halim Perdanakusuma

Marsda TNI Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma (lahir 18 November 1922 di Sampang) adalah perwira TNI Angkatan Udara yang gugur dalam misi heroik. Ia ditugaskan menembus blokade laut dan udara Belanda untuk mengangkut senjata, amunisi, dan logistik dari Thailand demi mendukung perjuangan Republik.

Ia gugur bersama pesawatnya di perairan Lumut, Perak, Malaysia, pada 14 Desember 1947. Jasanya dikenang abadi melalui nama Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1975 (Keppres No. 063/TK/Tahun 1975).

Pangeran H. Mohammad Noor

Lahir di Martapura, Kalimantan Selatan, pada 24 Juni 1901, Pangeran Mohammad Noor adalah seorang insinyur dan politisi. Ia adalah Gubernur Kalimantan Pertama (1945-1950) yang berhasil mempersatukan seluruh kekuatan perjuangan di Kalimantan di bawah bendera Republik Indonesia, termasuk mengorganisir Pasukan Terjun Payung AURI.

Kontribusi jangka panjangnya adalah menggagas PLTA Riam Kanan, yang menjadi pilar pembangunan infrastruktur di Kalimantan. Ia wafat pada 15 Januari 1979 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2018 (Keppres No. 123/TK/Tahun 2018).

Ki Bagus Hadikusumo

Ki Bagus Hadikusumo (lahir 24 November 1890, Yogyakarta) adalah Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1942–1953) dan anggota kunci BPUPKI serta PPKI.

Jasanya sangat vital dalam perumusan dasar negara; ia dikenal sebagai tokoh yang mengambil keputusan kompromi untuk menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, yang menjadi kunci bagi penerimaan Pancasila oleh seluruh elemen bangsa. Ia wafat pada 4 April 1954 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2015 (Keppres No. 113/TK/Tahun 2015).

John Lie Tjeng Tjoan

Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan (lahir 9 Maret 1911, Manado) adalah perwira TNI AL berdarah Tionghoa yang dijuluki “Penyelundup Abadi.”

Ia memimpin operasi rahasia menembus blokade laut Belanda untuk mengangkut kebutuhan logistik dan senjata dari Malaya/Singapura untuk mendukung Republik. Kesetiaan dan keberaniannya dalam tugas di tengah rasisme dan bahaya menjadikannya simbol nasionalisme sejati.

Ia wafat pada 27 Agustus 1988 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009 (Keppres No. 088/TK/Tahun 2009).(*)

BACA JUGA: Radhan-Rasyid akan Perjuangkan Tokoh Kemerdekaan RI dari Konsel Sebagai Pahlawan Nasional

Back to top button