
Pengabdian Dr. R di ujung tanduk kekuasaan. Namun, ia justru tersenyum. Baginya, diam melihat ketidakadilan adalah pengkhianatan sumpah profesi. “Kritik saya bukan kebencian, tapi tanggung jawab moral,” tegas Dr. R. “Jika mempertahankan keselamatan pasien dibayar dengan pemecatan, biarlah sejarah mencatat. Saya menolak mundur demi membenarkan kebobrokan birokrasi. Silakan keluarkan surat itu.”
Oleh : Rizky Adriansyah*

JERNIH– Udara di teras direksi RS terasa berat. Dr. Z (Direktur Utama) dan Dr. F (Direktur SDM) duduk berhadapan dengan Dr. R, ahli jantung anak yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun di rumah sakit itu. Tawa renyah mereka hanya untuk menutupi ketegangan.
“Suratmu sakti, membakar semua,” gumam Dr. Z.
Surat internal Dr. R bocor, memicu konflik dokter dan birokrasi. “Kita tak butuh alasan Kemenkes yang dicari-cari,” balas Dr. R tajam. “Mutasi dr. Piprim dari RSCM ke RSF menghancurkan sistem. Beliau pendidik utama. Di RSF tak ada pendidikan subspesialis, sementara juniornya di RSCM belum bersertifikat pendidik.”
Dr. F menghela napas. “Kemenkes menganggap ini serangan emosional, Bang. Mereka membalas.”
Dr. R menatap tajam. “Fokusku nasib layanan jantung anak. Kalau pendidikan diobrak-abrik demi arogansi kekuasaan memaksakan kolegium sepihak, pasien korbannya.”
Dr. Z menatap putus asa. “Aku tak punya pilihan. Perintah langsung Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes turun.” Dr. F menunduk, tak sanggup menatap Dr. R yang merupakan aset berharga RS itu.
“Perintah apa, Bang?” tanya Dr. R tenang. “Kamu diminta mundur sukarela. Jika menolak, surat pemberhentianmu disiapkan. Mereka tak ingin suara kritis dari RS ini,” ucap Dr. Z berat.
Ancaman itu brutal. Pengabdian Dr. R di ujung tanduk kekuasaan. Namun, ia justru tersenyum. Baginya, diam melihat ketidakadilan adalah pengkhianatan sumpah profesi.
“Kritik saya bukan kebencian, tapi tanggung jawab moral,” tegas Dr. R. “Jika mempertahankan keselamatan pasien dibayar dengan pemecatan, biarlah sejarah mencatat. Saya menolak mundur demi membenarkan kebobrokan birokrasi. Silakan keluarkan surat itu.”
Mudah-mudahan cerita di atas dapat menjawab ratusan pertanyaan, mengapa akhirnya saya diberhentikan dari rumah sakit itu. Demikian. Tabik. [ ]
*Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Utara
*
*






