
Ananda juga membahas kondisi infrastruktur di luar Jawa yang menurutnya memprihatinkan. Tidak ada penerbangan langsung antarkota besar di Sumatera, jalan tol yang rusak, dan kesulitan mendapatkan bahan bakar di beberapa daerah. “Kalau dari Padang mau ke Palembang, harus ke Jakarta dulu,” katanya sambil geleng kepala. Masalah logistik seperti ini tidak hanya berdampak pada mobilitas pribadi, tapi juga membatasi penyebaran kegiatan seni ke daerah-daerah. Seni akhirnya terpusat di kota besar, sementara daerah lain kehilangan akses dan kesempatan untuk berkembang.
Oleh : Fileski Walidha Tanjung*
JERNIH– Pertemuan saya dengan Ananda Sukarlan di Jakarta pada Oktober 2025 ini terjadi tanpa perencanaan. Bagi saya yang berasal dari kota kecil, Madiun, pemandangan Jakarta yang banyak gedung-gedung pencakar langit, memang menjadi suasana yang berbeda, saya menyebutnya kaki-kaki langit.
Hari itu saya sedang mengikuti kegiatan penyusunan modul ajar inovatif yang diselenggarakan oleh Direktorat SMA di Hotel Kristal, Jakarta Selatan, selama empat hari. Malam terakhir setelah penutupan acara, saya memutuskan menghubungi beberapa rekan seniman di Jakarta. Ananda Sukarlan termasuk yang paling dekat lokasinya—hanya dua menit berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap. Pertemuan itu singkat, tapi berisi banyak hal penting tentang seni, pendidikan, dan arah kebudayaan.
Ananda saat ini sedang menjalankan program kegiatan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+), program yang ia dirikan untuk menjaring dan mengembangkan bakat-bakat muda di bidang musik klasik. Setiap akhir pekan hingga Desember, ia berpindah dari satu kota ke kota lain sebagai juri dan mentor. Ia menyebut Padang dan Medan sebagai dua kota yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam disiplin dan teknik bermain piano. “Mereka punya mental dan mindset yang bagus terhadap musik klasik,” kata Ananda. Namun ia juga menyoroti ketimpangan: masih sedikit instrumen selain piano yang berkembang sebaik itu.
Menurutnya, pendidikan vokal klasik di Indonesia masih tertinggal. Bernyanyi masih dianggap kegiatan alami, bukan keterampilan yang memerlukan latihan teknis yang sistematis. “Range suara bisa diperluas, tapi harus dengan teknik yang benar,” ujarnya. Kritik itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh akar persoalan dalam pendidikan seni di Indonesia. Banyak orang menganggap seni hanya urusan bakat, bukan proses latihan dan pembelajaran yang panjang.
Apa yang dikatakan Ananda mengingatkan saya pada pandangan Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed”: “Pendidikan sejati adalah tindakan kebebasan.” Freire menolak sistem pendidikan yang membuat siswa hanya menerima pengetahuan tanpa berpikir kritis. Dalam konteks musik, gagasan ini relevan. Pendidikan seni yang baik seharusnya melatih kemampuan analitis dan kesadaran teknis, bukan sekadar meniru karya atau teknik orang lain.
Sayangnya, banyak lembaga seni masih beroperasi dengan model lama yang tidak menumbuhkan pemahaman mendalam terhadap proses kreatif.
Di sela obrolan, Ananda sempat menanyakan tentang Madiun, kota saya berasal. Ia mengatakan tertarik untuk datang ke kota kecil seperti Madiun untuk berbagi tentang pendidikan musik dasar. Rencananya, pada akhir November ia akan berada di Surabaya dan Yogyakarta untuk agenda KPN+ serta konser bersama pianis Ukraina, Taras Filenko, dan beberapa vokalis pemenang kompetisi. Ia menawarkan ide sederhana: menyisipkan kunjungan ke Madiun di antara jadwal itu. “Sekali jalan, dua tiga kota terlampaui,” ujarnya. Menurutnya, konsep efisiensi waktu dan biaya ini ia pelajari ketika masih aktif tur di Eropa.
Namun perbincangan tidak hanya berhenti pada strategi perjalanan. Ia juga membahas kondisi infrastruktur di luar Jawa yang menurutnya memprihatinkan. Tidak ada penerbangan langsung antarkota besar di Sumatera, jalan tol yang rusak, dan kesulitan mendapatkan bahan bakar di beberapa daerah. “Kalau dari Padang mau ke Palembang, harus ke Jakarta dulu,” katanya sambil geleng kepala. Masalah logistik seperti ini tidak hanya berdampak pada mobilitas pribadi, tapi juga membatasi penyebaran kegiatan seni ke daerah-daerah. Seni akhirnya terpusat di kota besar, sementara daerah lain kehilangan akses dan kesempatan untuk berkembang.
Pernyataan Ananda menyingkap satu persoalan besar: seni dan kebudayaan di Indonesia belum memiliki ekosistem yang merata. Pemerintah memang sering menonjolkan kemajuan infrastruktur fisik, tetapi belum banyak perhatian terhadap infrastruktur budaya. Pusat-pusat kebudayaan masih terkonsentrasi di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. Akibatnya, talenta-talenta muda dari daerah sering kesulitan mengakses pendidikan seni yang layak atau ruang untuk menunjukkan karya mereka.
Dalam konteks ini, gagasan Ananda tentang pemerataan pendidikan musik menjadi sangat relevan. Musik klasik, yang sering dianggap eksklusif, seharusnya bisa diakses oleh siapa pun yang memiliki minat dan kemauan belajar. Ia tidak sedang memperjuangkan elitisme musik, melainkan keterbukaan—bahwa seni berkualitas tidak harus lahir dari ibu kota, melainkan dari sistem pembinaan yang serius dan berkelanjutan.
Saya melihat dalam diri Ananda Sukarlan sosok seniman yang tidak hanya berorientasi pada panggung, tetapi juga pada pendidikan. Ia memahami bahwa regenerasi seni tidak mungkin terjadi tanpa fondasi pengetahuan yang kuat. Di sinilah peran negara seharusnya hadir: mendukung inisiatif-inisiatif yang menumbuhkan kualitas pendidikan seni, bukan hanya sekadar menyelenggarakan acara seremonial.
Refleksi ini membawa saya pada satu pertanyaan mendasar: apakah kita sudah benar-benar menganggap seni sebagai bagian dari pembangunan nasional, atau masih menempatkannya sebagai pelengkap belaka? Ketika pembangunan diukur hanya dari angka ekonomi, seni seringkali dianggap tidak produktif. Padahal, seperti yang pernah dikatakan Albert Camus, “Seniman tidak boleh menjadi pelayan negara, tetapi saksi bagi zamannya.” Dalam arti ini, seniman sejati tidak hanya mencipta, tetapi juga menafsirkan realitas sosial dan memberikan arah moral bagi masyarakat.
Pertemuan saya bersama Ananda Sukarlan di antara pantulan cahaya kolam renang, terasa seperti sebuah cermin kecil dari keadaan bangsa. Di satu sisi, ada optimisme terhadap potensi anak muda dan semangat seniman seperti Ananda yang terus berjuang di bidangnya. Disisi lain, masih ada realitas struktural yang menghambat pemerataan akses seni dan budaya.
Tulisan ini bukan sekadar catatan perjumpaan, tetapi pengingat bahwa kerja kebudayaan membutuhkan sinergi antara individu, masyarakat, dan negara. Pendidikan seni tidak boleh berhenti di ruang kelas; ia harus menjadi bagian dari kesadaran kolektif tentang siapa kita dan ke mana arah bangsa ini bergerak.
Pertanyaan akhirnya muncul secara alami: apakah kita sudah cukup mendengarkan—bukan hanya musik, tetapi juga pesan yang terkandung di baliknya? Musik, dalam pengertian paling luas, adalah tentang keteraturan, keselarasan, dan kepekaan. Jika bangsa ini ingin maju, mungkin kita perlu belajar kembali dari prinsip-prinsip dasar itu. Dari cara mendengarkan, dari cara berlatih, dari cara menghargai proses. Sebab mungkin, sebagaimana dikatakan Nietzsche, tanpa musik—dan tanpa kesadaran akan nilai-nilai yang diusungnya—hidup, dan mungkin juga peradaban, akan menjadi sebuah kesalahan. [ ]
*Penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, dan cerpen






