
Perjalanan menuju Indonesia Emas tidak akan mudah. Tapi jika semua bekal dibangun dengan konsisten dan keberanian politik yang kuat, terbuka peluang nyata untuk tiba di sana. Bahkan mungkin, jadi pemimpin baru di kawasan Asia. Yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tapi arah yang benar dan pengemudi yang bisa dipercaya.
JERNIH – Bayangkan Indonesia sebagai truk besar yang tengah menempuh perjalanan panjang menuju cakrawala masa depan. Muatannya berat, jalannya berliku, cuaca terus berubah, dan jurang menganga di sisi kanan-kiri. Namun di ujung sana, ada cahaya emas yang memancar—visi Indonesia Emas 2045.
Visi ini bukan sekadar mimpi seratus tahun kemerdekaan. Ini adalah tujuan konkret: menjadi negara maju, adil, berdaya saing tinggi, dan sejahtera. Tapi tantangannya besar. Truk-truk lain—negara-negara tetangga—sudah melaju lebih dulu, dengan mesin yang lebih modern dan efisien.
Di level Asia setidaknya ada tiga negara yang telah sampai di batas cakrawala keemasannya. China, Korea Selatan dan Singapura. Jepang terlalu jauh jika ingin dijadikan perbandingan.
Singapura negara kecil tapi sangat efisien dan kompetitif secara ekonomi. Pemerintahan bersih, modern, dan pro-bisnis. Negeri Singa punya sistem pendidikan, kesehatan, dan transportasi termasuk terbaik di dunia. Peran dan pengaruh global kuat, terutama di bidang keuangan dan diplomasi.
China berhasil menapak jauh dan telah menguburkan kesan China yang terbelakang. Negara ini melakukan transisi luar biasa dari agraris ke industri teknologi tinggi. Kini China adalah kekuatan ekonomi dan militer global. China sangat peduli dan perhatian pada riset, manufaktur canggih, dan infrastruktur. Meski dicap bukan contoh negeri demokratis, toh banyak indikator ekonomi mereka yang melampaui negara-negara maju.
Desa-desa terpencil di China mendapat revitalisasi desa (rural revitalization) sebagai upaya modernisasi sosialis. Caranya dengan delapan langkah, yakni infrastruktur dasar, revitalisasi pedesaan, transformasi digital, investasi pendidikan, pendekatan mikro untuk entas kemiskinan, ekowisata atau agrowisata, usaha kredit dan keuangan desa, serta relokasi terpadu.
Sementara Korea Selatan yang GDP-nya sudah di atas 30.000 dolar telah mencatatkan sebagai negeri industri maju. Dua hal jadi prioritas nasional antara lain pendidikan dan inovasi. Oleh sebab itu pendidikan Korea Selatan amat unggul, industri dan teknologi ibarat jantung dan detak negeri ginseng. Sementara kebudayaan kini merupakan komoditas penopang pilar ekonomi Seoul. Dampak dari suksesnya mengangkat unsur kebudayaan sebagai soft power adalah kesejajaran k-pop, k-movie dan sejenisnya di bangku-bangku kelas dunia macam Hollywood maupun panggung musik dunia.
Bekal Korea ternyata tak cuma itu. Secara struktur ada penopang kuat yang justru menjadi pilar paling kokoh. Apa itu? Stabilitas politik dan hukum. Dua unsur yang saling berkaitan namun dipraktekkan secara profesional, tidak saling tumping tindih. Tidak menjadikan politik dalam praktek hukum, sebaliknya tak semata-mata memanfaatkan hukum sebagai senjata politik. Perjalanan kediktatoran telah ditumbangkan pada 1987 dan terbukti memberangus kebebasan berpikir dan berpendapat.
Kendati ancaman selalu muncul secara tiba-tiba dari “saudara”-nya di semenanjung utara, toh Korea Selatan mampu berdiri berdaulat. Ini karena kemampuan membangun sistem pertahanan –termasuk milisi rakyat sebagai modal kekuatan- juga kerjasama bilateral dengan AS. Kemampuan menjaga kedaulatan negara ini bagian penting dibandingkan dengan negara-negara macam Indonesia yang potensi ancamannya tak seburuk Korea Selatan.
Namun bekal yang paling vital sesungguhnya adalah pada mentalitas kolektif dan disiplin warga Korea Selatan. Etos kerjanya bukan main. Prinsipnya adalah “ppalli ppalli” (cepat dan efisien), nunchi (kemampuan melihat situasi) dan jeong (menjaga ikatan emosional, keintiman dan kebersamaan). Maka dalam 50 tahun Korea Selatan yang terpuruk telah menjadi Korea Emas.
Bagaimana nusantara berjalan menuju Indonesia Emas? Apa bekalnya?
Berbagai gagasan kerap muncul dari meja rapat di GREAT Institute. Sejumlah pemikir hadir menyampaikan pemikiran progresif, mengingat hingga sampai ke sana tersisa waktu hanya 20 tahun. Bisa menjadi singkat jika tak segera bergerak. Dari GREAT Institute muncul pemikiran berikut.
Sumber daya manusia besar yang dapat menopang seluruh sisi. Untuk unggul mutlak diperlukan pendidikan berkualitas dan merata. Ciri kuat karakter manusia Indonesia unggul antara lain jujur, disiplin, tangguh, cinta tanah air. Dalam pada itu orang-orang Indonesia mesti memiliki keterampilan pada sektor teknologi, literasi data, kreativitas, dan mau berkolaborasi.
Bekal kemampuan inovasi dan penguasaan teknologi itu seirama dengan dukungan terhadap riset dan pengembangan (R&D). Saat digitalisasi terjadi di semua bidang langkah transformasi digital mengiringi proses tersebut. Kebisaan pada teknologi yang terus berkembang semakin menghilangkan kesenjangan dan gagap pada hal-hal baru. Dari sisi produktivitas agar tidak melulu menjadi konsumen, industri dibangun dengan berbasis pada teknologi (AI, IoT, green tech, dsb).
Indonesia meski ancaman dari luar tak seperti Korea Selatan, namun penting menjaga potensi gangguan terutama dari dalam negeri. Bentuknya dapat berupa keamanan, ketimpangan sosial, perbedaan budaya –karena memiliki begitu banyak suku- maupun kerusakan lingkungan. Maka pendekatan-pendekatan humanis, hak asasi dan penegakan hukum mesti semakin transparan dan adil. Terutama yang menyangkut kelompok atau golongan minoritas. Oleh karena itu ketahanan sosial, budaya dan lingkungan patut tegak lurus menopang menjadi bekal perjalanan.
Sebagaimana truk, semua elemen tersebut membutuhkan pengendara yang lihai, kompeten sesuai sistem merit, bersih dan totalitas jujur. Pemerintah yang mampu mengendalikan laju dan arah perjalanan tidak saja menjaga ritme agar tepat waktu dengan indikator berkala yang sesuai, namun pula membuka rasa percaya publik sebagai cerminan dari demokrasi.
Pada aspek multilateral dan bilateral di kancah internasional, pemerintah andal aktif melakukan diplomasi. Bahkan berpengaruh, terutama dalam perdagangan luar negeri maupun ketahanan pada pertahanan dan keamanan nasional.
Bila ukuran-ukuran bekal di atas tercapai sesuai dengan indeks performa yang dimasukkan dalam peta jalan, niscaya indikator ekonomi pun mengikuti. Dalam hal ini ada empat subindikator yang mesti diberi ukuran, yakni; industrialisasi modern dan berkelanjutan, UMKM naik kelas dan masuk pasar global, pertanian dan maritim berbasis teknologi, serta investasi dan kewirausahaan nasional yang kuat. Di dalamnya perihal tenaga kerja termasuk upah dan GDP. Keduanya merupakan indikator penting dalam menggambarkan kesejahteraan ekonomi suatu negara, makna utama dari visi Indonesia Emas itu sesungguhnya.(*)
BACA JUGA: Great Institute: Menyemai Pemikiran sebagai Bekal Menuju Indonesia Emas 2045