
Mary sering mengalami mimpi buruk. Seorang ilmuwan pucat berlutut di samping makhluk mengerikan yang ia ciptakan selalu muncul berulang. Ketika Lord Byron melontarkan tantangan, Mary menjadikan mimpinya sebagai objek garapan. Naskah selesai ditulis Mei 1817 dan diterbitkan pada 1 Januari 1818 dengan judul “Frankestein; or, The Modern Prometheus”. Mary menyelam ke dalam relung-relung gelap samudera sains dan ilmu pengetahuan, menyodorkan konsekuensi kemampuan penciptaan tanpa kemampuan mengendalikan, menampilkan rasa keterasingan, penderitaan dan pedihnya kesendirian.
Oleh : Akmal Nasery Basral*
JERNIH– 1/. Erupsi Gunung Semeru pekan ini terjadi berbarengan dengan “erupsi popularitas” film Frankestein karya terbaru sutradara Meksiko Guillermo del Toro. Frankestein meraih 30 juta penonton dalam tiga hari pertama penayangan di Netflix atau setara 73,6 juta jam tayang, serta memuncaki peringkat pertama di 72 negara.
Dua abad silam, letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menjadi faktor pemicu utama Mary Shelley mengeksplorasi batas terjauh imajinasinya. Data di bawah ini memberikan konteks ekologis dan sosiologis yang dibutuhkan bagi lahirnya karya sastra legendaris dari rahim fiksi ilmiah modern.
Puncak erupsi Tambora terjadi pada 10-11 April 1815 dengan Indeks Daya Ledak Vulkanik VEI 7, skala tertinggi kedua dari 8 skala VEI (Volcanic Explosity Index). Sebagai perbandingan, erupsi Gunung Krakatau yang tak kalah dahsyat pada 1883 hanya tercatat VEI 6. Volume yang dimuntahkan Tambora ke udara sebanyak 37–45 km3 material padat DRE (Dense-Rock Equivalent) atau sekitar 140 miliar ton magma/piroklastik.
Energi kekuatan letusan mencapai 1.000 megaton TNT, setara 171.428 kali kekuatan bom atom Hiroshima! Akibatnya, ketinggian gunung terpangkas drastic. Dari 4.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi 2.851 mdpl yang menjadi ketinggian saat ini. Atau tinggal 2/3 dari ketinggian sebelumnya. Erupsi juga membentuk kaldera (kawah raksasa) berdiameter 6-7 km dengan kedalaman 600-700 meter.
Jumlah korban tewas diprediksi antara 71.000–121.000 jiwa. Tiga kerajaan lokal di sekitarnya—Kerajaan Tambora, Sanggar, dan Pekat—hancur lebur terkubur abu vulkanik. Musnah dramatik. Sekitar 60 megaton Sulfur Dioksida (SO2) terlontar ke stratosfer, menyebabkan terbentuknya aerosol sulfat yang membuat sinar matahari sulit menembus atmosfer bumi selama bulan-bulan berikutnya.
Terjadi anomali iklim global dan penurunan suhu bumi. Di Pennsylvania, umpamanya, tiga bulan setelah erupsi Tambora turun salju dan hujan es. Tak pernah terjadi sebelumnya di musim panas pada bulan Juli. Di belahan bumi utara, terutama Eropa, sepanjang tahun 1816 terjadi fenomena “Tahun Tanpa Musim Panas (The Year Without a Summer)”. Langit temaram, suhu anjlok, hujan berdentam-dentam.
Kombinasi itu menyebabkan gagal panen. Kelaparan menggila, memicu berjangkit wabah penyakit, menyulut pergolakan sosial di banyak negara. Eropa tenggelam dalam ketidakpastian. Tragedi yang merangsang pikiran kreatif untuk melahirkan karya imajinatif.
2/
Villa Diodati, Cologny, Juni 1816. Pasangan muda Inggris, Percy Bysshe Shelley (21 tahun) dan Mary Wollstonecraft Godwin (18 tahun) sedang berlibur di Swiss atas undangan George Gordon Byron, 28 tahun, penyair Romantisisme yang sedang menyewa vila di tepian timur Danau Jenewa. George adalah Baron Byron ke-6. Di vila itu tinggal juga John William Polidori, 31 tahun, seorang dokter dan prosais Inggris berdarah Italia, menemani Lord Byron.
Suasana liburan musim panas pasca-Letusan Tambora berjalan di luar harapan. Cuaca tak pernah mendukung, membuat mereka selalu terkurung. Bosan tak punya banyak pilihan kegiatan, Lord Byron memberikan tantangan, “Bagaimana kalau kita membuat kisah tentang hantu paling menakutkan yang pernah ditulis manusia?” Percy, Mary, dan John Polidori mengangguk setuju.
Mary seorang gadis cerdas berpikiran kritis, warisan dari kedua orang tua yang pemikir kreatif-radikal. Ayahnya, William Godwin (1756 – 1836), seorang filsuf politik yang dijuluki Bapak Anarkisme Filosofis (Philosophical Anarchism).
Inti pemikiran Godwin dalam bukunya Enquiry Concerning Political Justice (1793) adalah bahwa otoritas politik dan pemerintahan pada dasarnya tidak sah dan tidak diperlukan. Namun ia tak menganjurkan revolusi atau kekacauan sosial, melainkan pada perubahan moral dan rasional di masyarakat. Ia percaya manusia mampu mencapai kesempurnaan (perfectibility) melalui penalaran dan kebenaran.
Ibunya, Mary Wollstonecraft (1759–1797), seorang filsuf dan pemikir feminisme modern. Ia penulis buku A Vindication of the Rights of Woman (1792) yang memperjuangkan perempuan mendapat pendidikan setara dengan lelaki karena kapasitas pemikiran yang sama. Pemikiran yang revolusioner untuk masyarakat Inggris pada akhir abad ke-18. Pemikiran yang membuat Mary Wollstonecraft dianggap Ibu Feminisme Modern.
Mary Wollstonecraft meninggal dunia hanya 11 hari setelah melahirkan putrinya Mary Wollstonecraft-Godwin pada 30 Agustus 1797. Ketika Mary sang anak berusia empat tahun, ayahnya menikah dengan Mary Jane Clairmont, seorang yang lebih mementingkan status sosial dan keuangan dalam pergaulan. Mary Clairmont yang juga membawa anak dari perkawinan sebelumnya, kurang mengurusi anak tirinya. Membuat Mary Godwin sering mengunjungi makam ibunya dan membaca buku di sana.
Pengagum pemikiran William Godwin banyak datang ke rumah. Salah satunya penyair muda Percy Bysshe Shelley. Sifat radikalisme-romantik Percy membuat Mary remaja jatuh cinta. Ia melihat peluang pergi dari rumah jika dia dinikahi Percy—meski ternyata sang penyair sudah beristri.
Hubungan asmara menggelegak dan terlarang membuat William Godwin murka begitu Percy membawa anaknya—kini menjadi Mary Shelley—kabur meninggalkan Inggris pada 1814, dalam usia 16 tahun. Kedua merpati mabuk kepayang menyinggahi berbagai tempat sampai terdampar liburan di Danau Jenewa yang tenang.
Mary sering mengalami mimpi buruk. Seorang ilmuwan pucat berlutut di samping makhluk mengerikan yang ia ciptakan selalu muncul berulang. Ketika Lord Byron melontarkan tantangan, Mary menjadikan mimpinya sebagai objek garapan. Naskah selesai ditulis Mei 1817 dan diterbitkan pada 1 Januari 1818 dengan judul “Frankestein; or, The Modern Prometheus”.
Prometheus (berarti “pemikir ke depan”) adalah salah satu titan dalam legenda Yunani Kuno. Syahdan, ia yang menciptakan manusia dari tanah liat. Dengan menjadikan nama itu sebagai subjudul novel, Mary sesungguhnya memberi petunjuk jelas kepada pembaca bahwa Dr. Victor Frankestein adalah reinkarnasi kontemporer dari sosok Prometheus yang problematis. Di satu sisi ia mencuri api dari Gunung Olympus yang dijaga Zeus (simbol ilmu pengetahuan) untuk diserahkan kepada umat manusia, namun di sisi lain tidak membekali manusia ciptaannya dengan panduan moralitas dalam menjalani badai kehidupan.
Narasi novel Frankestein yang penuh deskripsi lanskap dingin, gelap, terpencil, merupakan refleksi “Tahun Tanpa Musim Panas” sebagai dampak bencana Tambora.
Dari paparan lingkungan eksternal yang mengancam, Mary menyelam ke dalam relung-relung gelap samudera sains dan ilmu pengetahuan, menyodorkan konsekuensi kemampuan penciptaan tanpa kemampuan mengendalikan, menampilkan rasa keterasingan, penderitaan dan pedihnya kesendirian, serta menggambarkan penolakan masyarakat terhadap individu atau entitas yang dinilai oleh kelompok dominan sebagai berbeda fundamental dengan mereka, berada di luar norma sosial, dan karenanya bisa diberikan label negatif, bahkan sah untuk dipersekusi tanpa ampun.
Dengan kata lain, letusan Tambora menjadi pemantik lahirnya penulis fiksi ilmiah modern yang piawai menyusun alur kisah serta mahir memadukan topografi dunia sains dengan dilema moralitas manusia yang selalu menimbulkan pusaran badai puting beliung di dalam diri.
3/
Guillermo del Toro, 61 tahun, sutradara Meksiko masyhur dengan gaya visual penuh fantasi gelap, makhluk-makhluk mengerikan-sekaligus-artistik dalam balutan kisah folklorik, sudah 30 tahun lebih memendam ambisi melakukan ekranisasi terhadap karya Mary Shelley.“ Frankestein adalah Injil saya semasa kanak-kanak dan remaja,” ujarnya.
Namun studio-studio besar yang ia hubungi tak ada yang tertarik memproduksi, meski dengan reputasinya sebagai peraih multi-penghargaan Academy Awards (Oscar) dari film-film sebelumnya. Jalan keluar baru terbuka ketika Netflix bersedia menggelontorkan biaya $120 juta (sekitar Rp2 triliun) untuk film yang dibintangi aktor Oscar Isaac (Victor Frankestein) dan Jacob Elordi (Makhluk Ciptaan).
Del Toro mempertahankan struktur tiga babak seperti kisah asli Mary Shelley: “Kisah Victor ( Victor’s Tale)” sebagai babak pertama, “Kisah Makhluk Ciptaan (Creature’s Tale) sebagai babak kedua, dan “Monster Itu Milik Kita (The Monsters is Ours)” menjadi babak akhir. Semua dalam struktur naratif berselang-seling yang diceritakan Victor Frankenstein dan Makhluk Ciptaan kepada Kapten Anderson (Lars Mikkelsen), nakhoda kapal Denmark yang terkurung gunung es di Kutub Utara.
Del Toro mempertegas pesan Mary tentang Kompleks Oedipus dan Ciptaan dengan menjadikan Victor sebagai simbol ultim tak diperlukannya lagi kemampuan reproduksi biologis alami seorang ibu dalam melahirkan kehidupan baru. Ini sinyal paling benderang upaya sublimasi Kompleks Oedipus, yang mencerminkan penolakan terhadap feminitas sekaligus dominasi maskulinitas dalam proses kreasi kelahiran Makhluk Ciptaan di bawah kekuasaan sains.
Dalam bingkai psikoanalisis, jiwa Victor Frankestein adalah gelanggang pertempuran sengit antara id, ego dan superego. Ia berambisi menjadi “sang pencipta” makhluk baru (tidak dari nol, melainkan hasil “rakitan” dari berbagai organ tubuh serdadu yang tewas pada perang Crimea).
Namun setelah mampu memuaskan tuntutan id sebagai pencipta, Victor tak mampu mengendalikan ego sebagai kompas moral. Ia putus asa terhadap kebodohan akut Makhluk Ciptaan yang hanya bisa berulang-kali mengimitasi namanya “Victor, Victor, Victor”–seperti seekor beo. Di sisi lain, kekuatan fisik non-manusiawi Makhluk Ciptaan yang mudah saja melengkungkan besi, juga ikut membuat ciut nyali Victor, membuatnya melarikan diri karena panik, lari dari tanggung jawab.
Kecerdasan Victor diperburuk oleh superego yang lemah, tidak stabil. Ia tidak tahu, bahkan tak punya rencana, apa yang harus dilakukan setelah Makhluk Ciptaan hidup dan menuntut pembelajaran lanjutan. Nurani Victor memberitahu bahwa ia sudah membuat kesalahan besar. Tetapi kesombongan intelektualitasnya melakukan penyangkalan dengan berbalik menyalahkan perilaku Makhluk Ciptaan yang tak sesuai harapannya.
Akibatnya, Makhluk Ciptaan marah dan frustrasi karena mengalami penolakan primal dari Victor sang kreator (seperti perasaan anak yang ditolak orang tuanya). Apalagi setelah Victor menghilang, Makhluk Ciptaan yang harus memasuki kehidupan masyarakat juga mendapat penolakan demi penolakan dari warga yang takut melihat penampakan buruknya seperti monster.
Dari lensa Teori Konflik Marxian, ini merupakan pertarungan kelas dan status sosial. Dr. Victor Frankenstein, seorang baron, mewakili kelas atas, sekaligus kaum borjuasi yang memiliki beragam privilese. Victor sang intelektual berubah menjadi Victor sang delusional yang meyakini dirinya punya kemampuan serupa tuhan (grandiose delusion).
Victor tenggelam dalam waham kebesaran. Separuhnya bernuansa kompleks ketuhanan (God complex) dan separuhya beraroma narsisisme malignan (malignant narcissism). Kondisi mental merasa diri sangat hebat namun kurang rasa empati yang membuatnya tak ragu melakukan tindakan ekstrem di luar nalar demi memvalidasi rasa superioritas.
Sementara Makhluk Ciptaan mewakili kalangan proletariat tertindas dan terpinggirkan (marginalized). Terlahir tanpa secuil pun privilese, tanpa latar belakang keluarga terpandang, tanpa bentuk fisik menawan (bahkan mengerikan), dan yang paling celaka: tak punya nama sama sekali sebagai identitas diri.
Pengalaman Makhluk Ciptaan yang ditolak masyarakat karena penam-pilan dan ketiadaan status sosial menempatkannya sebagai korban prasangka ekstrem (prejudice). Padanannya dalam dunia kontemporer abad 21, Makhluk Ciptaan adalah korban diskriminasi berdasarkan ras, etnis, agama, atau disabilitas.
Makhluk Ciptaan juga simbol pengembara tanpa kampung halaman, ditolak di semua tempat yang ia datangi. Dibenci, dimusuhi. Ia melambangkan para migran dan pengungsi di milenium ketiga. Makhluk Ciptaan adalah Liyan (The Other) yang dibenci sampai sumsum tulang oleh kelompok dominan.
Pada titik ini penonton disodorkan pertanyaan eksistensialis oleh del Toro, yang merupakan perpanjangan pertanyaan Mary Shelley. Siapa yang sesungguhnya menjadi “monster” di hadapan kita? Apakah Makhluk Ciptaan atau Baron Dr. Victor Frankenstein? Sains menjawab “Makhluk Ciptaan”, sementara kesadaran nurani (wisdom) menjawab “Victor Frankestein”.
Dan malangnya, kita sebagai anggota masyarakat, lebih sering tersihir pada jawaban sains yang menggelegar dibandingkan jawaban nurani yang bening bergetar. Kita bisa sebal bahkan marah melihat perilaku masyarakat abad ke-19 yang tak punya empati terhadap Makhluk Ciptaan, namun sejatinya kita sebagai masyarakat abad ke-21 pun tak lebih baik dari mereka–jika sudah menyangkut delusi ketuhanan dan stereotipe penilaian terhadap liyan.
Bagi saya, ini alasan terpenting mengapa Frankestein versi Guillermo del Toro menjadi film terbaik di tahun 2025 yang harus ditonton. Anda bisa terpesona melihat detil setiap adegan indoor dan outdoor (tanpa polesan CGI dan SFX sehingga terasa lebih nyata dan meyakinkan), serta ensembel akting para pemain, terutama peran Jacob Elordi sebagai Makhluk Ciptaan yang diwajibkan del Toro mengikuti kelas Butoh, “tari kegelapan” Jepang Kuno yang mentah dan radikal pada sublimasi gerak tubuh.
Sementara Oscar Isaac sebagai Dr. Victor Frankestein berhasil memindahkan kombinasi gestur flamboyan Mick Jagger, Prince, dan David Bowie, sebagai intelektual bergaya rock star–sesuai keinginan del Toro–ketimbang arketipe ilmuwan yang dingin-membosankan dalam film-film Frankestein sebelumnya.
Barangkali itu sebabnya mengapa penonton Venice International Film Festival pada premiere akhir Agustus 2025 memberikan standing ovation meriah dan panjang selama 13 menit, sebagai bukti kepuasan melihat tafsir del Toro yang gigantik, presisi dalam corak gothik-operatik, namun juga berjiwa stoik-romantik.
Ini mampu membuat mata penonton berkabut, bahkan berkaca-kaca, melihat pada akhirnya Victor Frankestein dan Makhluk Ciptaan bisa berdamai, menerima garis takdir masing-masing setelah sebelumnya selalu saling menyakiti satu sama lain sampai tingkat maksimal. Lalu, Victor meninggal dunia. Simbol tumbangnya sains yang ingin selalu mendikte kehidupan.
Layar gelap, secuplik sajak Lord Byron muncul: “…And thus the heart will break. Yet brokenly live on…”
Kutipan dari puisi Childe Harold’s Pilgrimage ini digunakan del Toro untuk mengunci tema sentral filmnya bahwa hidup harus terus berlanjut meski penuh derita tak terelakkan. Bahkan bagi Makhluk Ciptaan tanpa privilese, tanpa keistimewaan, tanpa nama. Seperti nasib rakyat kebanyakan. Seperti nasib mayoritas kita yang kerap menjadi objek percobaan kalangan berpunya. [ ]
Jakarta, 23 November 2025.
*Sosiolog, penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional. Tanggapan terhadap tulisan ini bisa dikirimkan ke alamat e-mail: akmal.n.basral@gmail.com
