SolilokuiVeritas

Melawan Pembual

Kita perlu melindungi diri kita dari aksi para pembual. Jangan menyalahkan keadaan. Dunia akan selalu dipenuhi oleh para pembual. Aksi mereka makin lama makin canggih. Di samping menggunakan AI, mereka juga bisa membuat aliansi dengan berbagai pihak

Oleh     :  Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Sebenarnya memperoleh informasi itu menyenangkan. Betapa tidak, informasi bisa dipakai untuk menjawab pertanyaan. Ia bisa pula menyelesaikan masalah. Ia bisa juga menjadi dasar untuk terus bergerak ke depan. Ia bahkan bisa dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan.

Namun, ada kebiasaan jelek yang merusak informasi. Kebiasaan membual.  Kebiasaan ini dilakukan pembual antara lain, untuk pertama, membuat orang lain kagum. Sebuah contoh adalah video yang memperlihatkan Jokowi fasih berbahasa mandarin. Usai menonton video itu, khalayak terkagum-kagum. Ternyata Jokowi fasih berbahasa mandarin. Termul pun semakin ganas membela dirinya. Padahal video itu dibuat menggunakan Artificial Inteligence (AI).

Kedua, menyembunyikan motif utama dalam bertindak. Misalnya, tindakan Presiden Donald Trump menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, di Caracas pada 3 Januari 2026. Presiden Trump bisa saja berdalih  menangkap penjahat narkoba. Namun, siapa pun paham, dia mengincar minyak Venezuela. Menurut data OPEC, konon Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 303,2 miliar barel. Ini melampaui Arab Saudi di posisi kedua dengan 267 miliar barel.

Ketiga, menipu. Contoh konkretnya ditunjukkan oleh Michael Bloomberg. Dia menyumbang banyak dana untuk kampanye anti merokok di seluruh dunia. Berbarengan dengan kampanye itu, dia bekerja sama dengan industri farmasi besar, menjual produk yang bisa membuat orang berhenti merokok. Berkat kampanye ini, keuntungan Bloomberg dan industri besar farmasi tersebut, meningkat pesat. Cerita ini bisa disimak dalam buku berjudul Tipuan Bloomberg: Mengungkap Sosok Agen Idustri Farmasi di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok yang terbit pada 2012.

Keempat, melindungi penjahat. Lihatlah penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus korupsi senilai Rp 2,7 triliun oleh pemimpin KPK periode November 2023-Desember 2024. Penyidikan perkara dilakukan sejak 2017. Tersangkanya sudah ada, Bupati Konawe Utara, Aswad Sulaiman. Namun, KPK menganggap penyidikan itu tidak sah. Harus dihentikan. Cerita ini bisa disimak pada news.republika.co.id, 5 Januari 2026.  

Siapa pun yang membual dan di mana pun dia membual, tetap saja dia merusak tatanan. Kehidupan jadi tidak normal. Kaidah etis terpinggirkan. Namun, tetap saja membual itu bersimaharajela di sekitar kita. Mengapa? Karena para pembual itu mengetahui, sebagian masyarakat sudah menjadi masyarakat informasi.

Lihatlah kondisi Indonesia. Masyarakat sudah sadar informasi. Mereka menghargai betapa pentingnya informasi. Tidak sedikit dari mereka yang menjadikan informasi sebagai komoditas. Mereka juga bereaksi cepat terhadap informasi. Bahkan sudah banyak di antara mereka yang menjadi anggota jaringan informasi. Mereka bisa terhubung dengan lokasi yang berbeda di dalam dan di antara kantor, kota, wilayah, bahkan seluruh dunia.

Maka kita perlu melindungi diri kita dari aksi para pembual. Bagaimana caranya? Pertama, jangan menyalahkan keadaan. Dunia akan selalu dipenuhi oleh para pembual. Aksi mereka makin lama makin canggih. Di samping menggunakan AI, mereka juga bisa membuat aliansi dengan berbagai pihak yang bisa kita percaya.

Kedua, perbaikilah kebiasaan bermedia (media habit). Jangan hanya menggunakan satu media saja. Gunakan berbagai media. Kapan perlu akses juga media massa dan media online asing.

Ketiga, jangan menjadi intelektual media sosial. Usahakan juga menjadi intelektual buku, misalnya dengan sering membaca berbagai buku. Sekarang muncul beberapa buku yang mengupas sejarah peradaban di masa lalu.

Keempat, jangan habiskan waktu untuk mengakses media sosial. Sambung juga silaturahim dengan bertatap muka. Dari pertemuan itu, kadang-kadang muncul informasi yang akurat. Yang jujur. Yang mencerahkan.

Kalau dalam perjalanan menempuh keempat petuah itu, Anda menemukan kebenaran, jangan simpan untuk diri sendiri. Bagikan juga untuk masyarakat. Paling tidak untuk menciptakan arena pertarungan antara kejujuran dan bualan. Setelah itu, biarkan masyarakat yang memilih informasi yang pantas untuk mereka. [ ]

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Back to top button