
Dengan membangun solidaritas personalistis, kita tidak sekadar menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Ada pemaknaan yang jauh lebih tinggi dan lebih terhormat. Yakni: mengantarkan kita pada penghargaan kemanusiaan seorang manusia.
Oleh : Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad (MM), merespons bencana alam Aceh dengan sikap bijak. Dia mengajak warga negara Malaysia untuk berempati terhadap korban bencana alam Aceh. Dia bahkan mengimbau masyarakat Malaysia untuk peduli dan memberikan bantuan nyata bagi pemulihan Aceh dan Sumatra.
Pesan MM di atas terdokumentasi dalam sebuah video yang tersiarkan lewat facebook MM pada 25 Desember 2025. Dia mengungkapkan alasan menyampaikan pesan moral tersebut. Yakni: “Sebenarnya, kami selamat. Di Aceh, seribu orang mati. Di Malaysia, tak ada satu orang pun yang meninggal. Sebabnya ialah karena Aceh adalah pelindung kepada Malaysia,” kata Mahathir.
Alangkah mulianya sikap MM. Alangkah realistisnya alasannya menyampaikan himbauan moral itu. Aceh telah berbuat kebaikan buat Malaysia. Kini Malaysia gantian yang berbuat baik untuk Aceh.
Sikap Presiden Prabowo Subianto tidak kalah mulianya. Dia merayakan malam pergantian tahun di pos koordinasi pengungsi bersama korban banjir di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di hadapan para korban bencana, dia berpesan agar semua orang ikut menjaga dan menghormati alam.
Selengkapnya pesan Presiden Prabowo itu, seperti disampaikan tempo.co berbunyi: “Negara kita sangat besar, sangat indah, sangat makmur, tapi memang kita harus waspada terhadap alam. Karena itu, alam harus kita hormati, harus kita jaga, harus kita rawat.”
Kedua tokoh di atas menunjukkan, mereka memiliki solidaritas terhadap masyarakat korban bencana alam di Sumatra. Mereka menunjukkannya dengan caranya caranya masing-masing. Sekalipun cara itu berbeda, kita perlu mengapresiasinya.
Secara praktis, menurut Max Scheler, seperti disebutkan Kasdin Sihotang (2018), solidaritas merupakan sebuah prinsip yang paling dekat dengan pengalaman hidup bersama. Solidaritas yang dipraktikkan MM, merupakan solidaritas mekanistis. Bertolak dari jasa yang sudah dilakukan Aceh terhadap Malaysia selama ini. Ia terjadi di dalam ranah hubungan bertetangga negara.
Sebaliknya, solidaritas yang ditunjukkan Presiden Prabowo, merupakan solidaritas organis. Terjadi dalam sebuah negara bertolak dari posisinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Secara konsitusional, dia harus menyelamatkan rakyatnya, melindungi tumpah darah bangsanya dan memajukan kesejahteraan umum. Ini sudah diturunkan dari seorang presiden ke presiden yang lain melalui Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Namun, selain kedua jenis solidaritas di atas, ada lagi solidaritas personalistis. Solidaritas ini sangat menghargai pribadi. Ia menjadikan pribadi sebagai pihak yang harus menerima solidaritas. Ia melampaui kepentingan umum. Wajar bila ia disebut sebagai solidaritas manusia yang sesungguhnya.
Sebuah contoh adalah sikap relawan yang membantu korban banjir di Aceh. Mereka sangat menghargai para korban sebagai manusia. Mereka tidak merasa repot mesti mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk membantu korban bencana. Mereka melihat korban bencana sebagai pribadi. Mereka menjadikan kemanusiaan para korban sebagai nilai tertinggi. Mereka pun rela menolong para korban tanpa pamrih.
Begitulah solidaritas personalistis menembus segala batas teritorial, suku dan agama. Banyak kebaikan yang dihasilkan oleh solidaritas ini. Satu di antaranya menghancurkan sekat-sekat kultural yang sudah terbangun selama ini. Konteksnya tidak selalu membantu pada korban bencana alam. Namun, juga dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membangun solidaritas personalistis, kita tidak sekadar menunjukkan kepedulian kepada orang lain. Ada pemaknaan yang jauh lebih tinggi dan lebih terhormat. Yakni: mengantarkan kita pada penghargaan kemanusiaan seorang manusia. [ ]
*Gurubesar Jurnalisme UGM






