Solilokui

Meme dan Kemarahan Publik: Netizen sebagai Aktor Baru dalam Dinamika Kekuasaan Digital

Kemarahan publik terhadap perilaku pejabat yang sembrono tidak lagi diekspresikan melalui demonstrasi fisik, melainkan melalui kreativitas digital. Mereka membawa  humor, sarkasme, dan kreativitas tanpa batas.

JERNIH –  Bentuk kemarahan publik mengalami transformasi yang signifikan. Jika dulu ekspresi ketidakpuasan terhadap pejabat publik membutuhkan ruang fisik, kini ruang itu bergeser ke dunia digital.

Ketika seorang pejabat menyampaikan pernyataan yang dianggap tidak empatik atau menampilkan gaya hidup yang kontras dengan situasi sosial-ekonomi masyarakat, reaksi publik muncul secara spontan dan masif. Namun yang menarik, reaksi ini tidak lagi bersifat destruktif; justru tampil dalam bentuk humor, satire, dan kreativitas visual.

Melalui meme, netizen menciptakan bahasa baru untuk menyampaikan kritik sosial. Humor menjadi medium yang efektif untuk menyamarkan kemarahan, sekaligus memperluas jangkauan pesan tanpa menimbulkan kesan agresif.

Fenomena pejabat menjadi “musuh publik” sering kali berakar pada jarak simbolik antara mereka dan warga. Ketika pejabat gagal memahami sensitivitas publik atau memperlihatkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial, kepercayaan publik runtuh.

Sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa legitimasi sosial seorang figur publik sangat bergantung pada kesesuaian antara posisi sosialnya dan ekspektasi simbolik masyarakat. Ketika ketidaksesuaian itu muncul—misalnya pejabat berbicara dengan nada meremehkan atau menunjukkan kemewahan di tengah krisis—terjadi disonansi moral yang memicu kemarahan kolektif.

Dalam konteks ini, netizen bertindak sebagai “penjaga moral publik”, meskipun dalam bentuk yang informal dan tanpa struktur organisasi.

Pada masyarakat jaringan (network society) yang dikemukakan Manuel Castells, kekuasaan tidak lagi terpusat, tetapi tersebar dalam jaringan komunikasi. Meme bekerja dalam logika yang sama: tersebar, berulang, dan tidak memiliki pusat kendali.

Kekuatan meme justru terletak pada kemampuannya menembus batas kelas sosial dan geografi. Sebuah gambar dengan teks singkat dapat menjadi komentar politik yang lebih efektif daripada editorial panjang. Ia menjadi bentuk partisipasi politik mikro—aksesibel, ringan, tetapi berdampak luas.

Meme juga memperlihatkan bagaimana publik berpartisipasi dalam produksi makna politik. Dalam hal ini, netizen tidak sekadar menjadi konsumen informasi, melainkan produsen narasi yang menantang hegemoni wacana resmi negara.

Dinamika Tekanan dan Resiliensi Publik

Menariknya, upaya menekan atau membatasi ekspresi publik di media sosial sering kali menimbulkan efek sebaliknya. Setiap bentuk pembungkaman (yang biasanya dalam bentuk pelaporan kepada kepolisian) justru memunculkan gelombang solidaritas digital yang lebih besar. Fenomena ini dikenal sebagai Streisand Effect—ketika upaya menyembunyikan sesuatu justru membuatnya semakin viral.

Dalam konteks politik digital, tekanan terhadap kebebasan berekspresi di media sosial hanya memperkuat kesadaran kolektif bahwa ruang daring adalah arena publik yang harus dipertahankan. Resistensi ini tidak berbentuk mobilisasi massa, melainkan sirkulasi wacana yang semakin canggih dan kreatif.

Kemarahan publik terhadap pejabat ngawur mencerminkan pergeseran mendasar dalam struktur kekuasaan. Legitimasi tidak lagi semata-mata dibangun melalui jabatan atau otoritas formal, tetapi juga melalui kepekaan terhadap persepsi publik di ruang digital.

Ketika humor, kreativitas, dan meme menjadi instrumen kritik, kekuasaan simbolik berpindah tangan—dari institusi negara ke jaringan warga yang otonom. Dalam lanskap baru ini, pejabat publik dituntut tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga sadar terhadap logika komunikasi digital yang membentuk opini dan legitimasi.

Seperti yang pernah diungkapkan filsuf Michel Foucault, “Kekuasaan ada di mana-mana karena ia berasal dari mana-mana.” Kini, salah satu sumbernya adalah ruang maya yang dikelola oleh jutaan tangan kreatif rakyat.

Maka melaporkan kebebasan berekspresi di mana yang dilaporkan justru tidak berniat melaporkan, hanya akan memupuk kekuatan netizen yang lebih kuat dan balik menekan.(*)

BACA JUGA: Mahasiswi ITB Pembuat Meme Ditangguhkan Penahanannya, Sumber: Atas Permintaan Langsung Presiden

Back to top button