SolilokuiVeritas

“Mens Rea” dan Efek Streisand Dalam Ruang Wacana Publik

Hasil akhir Mens Rea Pandji, sensor menjadi pemicu luasnya panggung dan viral. Efek Streinsand mengajarkan bahwa di era keterbukaan informasi “menghalangi arus dapat menjebol bendungan” yang membuka mata semua orang. Pada konteks inilah saya hendak menunjukkan bahwa word is magic.

Oleh     :  Fahmy Lukman*

JERNIH– Pada awalnya, sebagai  peneliti bahasa saya tidak tertarik memperhatikan secara serius tentang tayangan “Mens Rea” seorang komika Pandji Pragiwaksono.  Hanya saja tatkala menyimak potongan lirik soundtrack “Mens Rea Official Video Lyric” terdapat ungkapan satire “Ini adalah eranya menertawakan politik Indonesia”.  

 

Muncul pertanyaan yang cukup menggelitik dalam pikiran saya, “Apakah lelucon ini lucu atau tidak?”. Mungkin itu pertanyaan awal penonton tentang “Mens Rea” dalam pertunjukkan stand-up terbaru Pandji Pragiwaksono. Dalam sekejap, tempo kurang dari satu bulan, setelah terjadi upaya pembungkaman melalui laporan polisi yang dilakukan berbagai kalangan, termasuk mengatasnamakan beberapa ormas besar keagamaan, maka pertanyaan tentang “lucu dan tidak” berubah seratus delapan puluh derajat menjadi pertanyaan “Apakah ini adil atau tidak?”

 

Saya mencoba melakukan pengamatan terhadap data grafiks Google Trends tentang pencarian kata “Mens Rea” dan terdapat lonjakkan drastis, terus naik signifikan dan ruang media sosial menjadi “gaduh”.  Hasilnya sangat ironis, komedi panggung menjelma menjadi simbol perjuangan kebebasan berekspresi.

 

Konteks di atas, dalam peristiwa komunikasi disebut sebagai efek Streisand yang merujuk pada kasus Barbra Streisand tahun 2003 lalu. Saat itu seorang fotografer lingkungan, Kenneth Adelman memotret garis pantai California untuk mendomentasikan kondisi abrasi (erosi) pantai itu. Salah satu foto secara tidak sengaja menampilkan rumah mewah sang selebritas AS itu.  Foto sebenarnya tidak populer dan hampir tidak ada yang mengaksesnya, hanya sekitar enam unduhan saja. Akan tetapi, tatkala Streisand mengajukan gugatan pengadilan terhadap Adelman sang fotografer dan menuntut penghapusan foto itu, maka gugatan berubah menjadi berita nasional. Dampaknya adalah foto yang tadinya nyaris tidak dikenal itu berubah menjadi foto dengan ratusan ribu kali diunduh publik, disebarluaskan beritanya, dan berubah menjadi simbol perjuangan kebebasan informasi. Istilah “Streisand Effect” kemudian dipopulerkan oleh Mike Masnick (Techdirt) dan menjadi konsep baku dalam studi media, komunikasi digital, dan kebijakan publik.

 

Logika Psikososial Mens Rea

Secara psikososial, “Streisand Effect” bekerja melalui 3 efek dalam prinsip mekanisme dasar manusia, yaitu:

(a) efek terhadap rasa ingin tahu manusia terhadap yang terlarang. Sifat dasar manusia itu berkecenderungan untuk mengetahui tentang sesuatu yang tidak boleh diakses. Hal ini karena larangan itu menciptakan aura misteri, seolah-olah ada sesuatu yang penting, berbahaya disembunyikan, bersifat rahasia, sehingga kekepoannya langsung bereaksi.

 

Dalam banyak riset psikologi komunikasi menunjukkan semakin sesuatu dirahasiakan atau dilarang maka semakin banyak orang yang penasaran. Pada kasus Mens Rea, upaya melarang atau memprotes materi Pandji berujung pada publik akan mencari tahu lebih jauh. Pada sisi inilah, pelaporan pada 8 Januari lalu oleh berbagai kalangan dan beberapa yang mengatasnamakan ormas keagamaan, mendapatkan momentumnya.

 

Pelaporan telah mencuatkan pencarian daring Mens Rea, melampaui popularitasnya saat pertama kali rilis. Larang itu memberikan isyarat ke dalam ruang publik bahwa “ada sesuatu yang seru nih di Mens Rea” dan berdampak pada ribuan orang yang awalnya tidak tahu dan peduli menjadi berbondong-bondong menonton, termasuk saya sebagai peneliti bahasa. Sebagai ilustrasi tentang Panji menyinggung konsep balas budi dengan ungakapan “Ada yang ngerti politik balas budi? Gua kasih lu sesuatu, tapi lu kasih gua sesuatu lagi”  yang dikemukakan secara berseloroh dan jenaka.

 

Awalnya hanya penonton di arena yang mendengar tentang hal itu, tetapi setelah konten ini dipermasalahkan maka banyak orang ingin tahu lebih detail, seperti efek “forbidden fruit“, semakin dilarang semakin menggoda. Niat awal, alih-alih mencegah agar orang tidak tahu malah gagal total; Mens Rea menjadi kian terkenal karena efek penasaran massal.

 

(b) efek memunculkan Moral Shock, terkait dengan memicu empati dan amarah kolektif. Pada konteks ini, publik menjadi bertanya, “Kenapa sih, ini dilarang? “Ada ketidadilan apa yang terjadi di sini?”. Jika materi yang disampaikan itu berupa kritik sosial, kemudian berupaya untuk dibungkam maka banyak orang secara spontan bersimpati pada pihak yang “dibisukan” dan marah kepada pihak yang melarang.

 

Secara psikologi sosial, upaya pembungkaman selalu dipersepsikan sebagai bentuk ketidakadilan yang memancing empati dan kemarahan moral publik yang menonton secara netral. Dalam kaitan ini, kriminalisasi menyebabkan publik bergeser fokus dari masalah konten kepada persepsi bentuk ketidakadilan.  Alih-alih membahas lucu atau tidaknya candaan dalam stand-up Pandji itu, publik malah ramai mendiskusikan apakah adil sebuah komedian dikriminalisasi karena materi satire. Momentum ini menjadi sebab kedua Mens Rea berubah dari totonan komedi menjadi simbol kebebasan ekspresi dan warganet pasang badan untuk membelanya.

 

(c) efek logika algoritma digital, yaitu konflik berujung engagement dan viral. Dalam ruang media sosial, mekanisme efek Streisand menjadi diperkuat oleh algoritma plattform digital. Algoritma media sosial pada dasarnya didesain untuk memaksimalkan keterlibatan (engagement) pengguna melalui “klik, comment, share”, diangkat dan disebarluaskan secara otomatis. Konten sensasional dan mengandung konflik biasanya merupakan “makanan empuk dan favorit” algoritma melalui sistem feed facebook, Twitter, dan Tik Tok berkecenderungan menyorongkan postingan yang menyulut emosi kuat (marah, terkejut, senang berlebihan) ke banyak orang di ruang publik maya internet.

 

Itulah sebabnya, seiring keributan di media sosial tentang Mens Rea, algoritma digital bekerja mengorbitkannya. Momentum itu menjadi bahan bakar bagi mesin viral. Platform menyukainya karena menjadi ramai pembahasan, dan para konten kreator pun memanfaatkannya. Dalam kasus Mens Rea Pandji, pro-kontra terjadi maka linimasa media sosial penuh dengan cuplikan Mens Rea, meme, opini, dan tagar terkait banyak bermunculan. Engagement naik cepat sekali dan algoritma bekerja yang mendorong topik ini menjadi trending. Hal itu bisa kita perhatikan pada Google Trends.

 

Simpulan

Mens Rea Pandji Pragiwaksono menunjukkan kepada kita tiga logika efek Streinsand dalam realitas Indonesia saat ini, yaitu (a) semakin dilarang memicu semakin besar rasa ingin tahu publik untuk mengaksesnya, (b) upaya pembungkaman memantik solidaritas netizen di ruang maya dan memunculkan amarah moral publik; alih-alih meredam isu, yang terjadi malah sebaliknya, dan (c) di ruang digital, kontrovesi justru dipromosikan gratis oleh algoritma karena tingginya enggament pengguna medsos.

 

Hasil akhir Mens Rea Pandji, sensor menjadi pemicu luasnya panggung dan viral. Efek Streinsand mengajarkan bahwa di era keterbukaan informasi “menghalangi arus dapat menjebol bendungan” yang membuka mata semua orang. Pada konteks inilah saya hendak menunjukkan bahwa word is magic. []

*Associate Professor pada Departemen Linguistik Universitas Padjadjaran dan Ketua Umum Asosiasi Linguistik Hukum Indonesia (ALHI)

Back to top button