
Dalam konteks Hubungan Internasional, ini yang disebut “intermestic issues” – isu yang domestik sekaligus internasional. NU menyadari, tidak mungkin merawat Indonesia dengan baik jika dunia di sekitarnya terbakar. Maka Muktamar 2026 menjadi titik balik. Narasinya naik kelas: dari ukhuwah wathaniyah ke ukhuwah insaniyah.
Oleh : Robi Nurhadi*

JERNIH–Pada 27-31 Agustus 2026 nanti, Nahdlatul Ulama [NU] akan menggelar Muktamar ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Di atas kertas, ini agenda lima tahunan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di dunia. Tapi jika dicermati arah diskursusnya, Muktamar kali ini menandai pergeseran historis: NU tidak lagi hanya bicara untuk Indonesia. NU mulai bicara untuk masa depan umat manusia.
Pertanyaannya sederhana tapi berat: di tengah dunia yang retak karena perang (AS-Iran, Rusia-Ukraina, dll), krisis iklim, disinformasi, dan krisis kemanusiaan, apa yang bisa ditawarkan Islam? Dan mengapa NU harus menjawabnya?
Dari Isu Kebangsaan ke Isu Kemanusiaan Global
Sejak 1926, kiprah NU adalah menjaga agama, bangsa, dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Selama satu abad, energi NU fokus untuk konsolidasi internal, pendidikan pesantren, dan merawat kebangsaan Indonesia. Dan itu relatif berhasil.
Tapi dunia 2026 sudah berbeda. Tantangan tidak lagi dibatasi pagar negara. Banjir di Cina dan Pakistan, kebakaran hutan di Turki, pengungsi di Gaza dan Sudan, kelaparan di beberapa negara Afrika, hoaks agama di TikTok, sampai etika AI yang belum punya kompas moral. Semua itu menimpa umat manusia, termasuk umat Islam.
Dalam konteks Hubungan Internasional, ini yang disebut “intermestic issues” – isu yang domestik sekaligus internasional. NU menyadari, tidak mungkin merawat Indonesia dengan baik jika dunia di sekitarnya terbakar. Maka Muktamar 2026 menjadi titik balik. Narasinya naik kelas: dari ukhuwah wathaniyah ke ukhuwah insaniyah.
Tiga Tantangan Besar NU
Berdasarkan diskusi pra-muktamar dan arahan PBNU, ada 3 poros besar yang akan jadi keputusan strategis Muktamar Agustus 2026:
Pertama: Krisis Iklim dan Fiqh Ekologi
Negara-negara berpenduduk Muslim adalah yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kenaikan air laut mengancam pesisir, kekeringan memicu konflik.
NU akan membawa gagasan Fiqh Ekologi ke panggung global. Prinsipnya: merusak alam = merusak amanah Tuhan. Ribuan pesantren NU sudah memulai PLTS, pertanian organik, dan bank sampah. Ini bukan CSR. Ini ibadah.
Targetnya: NU hadir di forum COP dan G20 bukan hanya sebagai ormas, tapi sebagai pemilik narasi iman tentang keberlanjutan.
Kedua: Etika Digital dan Kecerdasan Buatan
Sebanyak 60 persen warga NU adalah anak muda digital. Tapi ruang digital hari ini penuh deepfake kyai, ceramah kebencian, dan algoritma yang mengadu domba.
Muktamar 2026 diharapkan dapat membentuk Majelis Ulama Siber Dunia. Tugasnya dua: membuat panduan etika AI berbasis maqashid syariah, dan membangun ekosistem dakwah digital yang menenangkan. Pesan NU jelas: teknologi tanpa etika itu buta. Agama tanpa ilmu itu lumpuh. Dunia butuh keduanya.
Ketiga: Diplomasi Kemanusiaan dan Perdamaian
Perang di Gaza, Myanmar, Sudan menunjukkan dunia gagal melindungi warga sipil. Di sinilah NU ingin masuk sebagai “soft power” kemanusiaan.
Melalui NU Global Peace Initiative, NU harus mengaktifkan jaringan ulama di 30 negara untuk jadi penengah konflik, mengirim relawan, dan menyuarakan di PBB dan OKI bahwa tidak ada agama yang membenarkan pembunuhan warga sipil. Ini diplomasi yang berbasis nilai, bukan kepentingan.
Mengapa Dunia Perlu Mendengar NU?
Dalam ilmu Hubungan Internasional, “kekuatan” tidak hanya soal militer dan ekonomi. Ada soft power- kekuatan narasi dan teladan.
NU punya tiga modal itu:
1. Jumlah: 90+ juta jamaah. Ini kekuatan mobilisasi sosial terbesar di dunia Islam.
2. Nalar: Islam Nusantara = Islam wasathiyah, toleran, cinta budaya lokal. Ini antidot bagi ekstremisme dan Islamofobia.
3. Jejaring: 28 ribu pesantren adalah laboratorium solusi. Dari ekonomi, pendidikan, sampai ekologi.
Ketika pidato NU di Harvard dan PBB didengar, ketika Paus berbicara di Vatikan dan disambut, itu karena dunia lelah dengan narasi kekerasan. Dunia butuh narasi yang memanusiakan.
Catatan Kritis: Tantangan NU ke Depan
Sebagai pengamat, saya melihat tiga ujian besar NU pasca Muktamar 2026:
Pertama, konsistensi Jangan sampai narasi global hanya menjadi pidato. Harus ada kantor, program, dan anggaran nyata di Afrika, Eropa, Asia Selatan.
Kedua, menjaga marwah NU harus tetap independen dari tarikan politik praktis domestik agar kredibilitasnya di dunia internasional tetap terjaga.
Ketiga, bahasa Bahasa pesantren harus diterjemahkan ke bahasa kebijakan, bahasa PBB, dan bahasa Gen Z. Jika tidak, gagasannya tidak akan sampai.
Seratus tahun lalu, para pendiri NU berkumpul di Surabaya untuk menyelamatkan agama dari kolonialisme dan radikalisme. 100 tahun kemudian, di Muktamar Jombang 2026, pertanyaannya naik level: Bagaimana menyelamatkan peradaban manusia dari kehancuran?
Jawabannya tidak ada di rudal, tidak ada di algoritma. Jawabannya ada di nilai: kasih sayang, keadilan, dan tanggungjawab. Muktamar Agustus 2026 bukan akhir perjalanan NU. Ini awal NU masuk ke panggung dunia. Bukan untuk berkuasa. Tapi untuk mengayomi. Karena jika Islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin, maka juru bicaranya juga harus bicara untuk seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawab. []
* Robi Nurhadi, PhD Dosen Hubungan Internasional dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Universitas Nasional. Fokus kajiannya pada diplomasi publik, Islam dan politik global.






