
Saya tidak bermaksud menjawab, apalagi membantah kalimat ini. Tulisan ini ingin menjelaskan bahwa di era digital, seorang intelektual bisa seperti memiliki Buraq—hewan tunggangan yang digunakan Nabi Muhammad SAW untuk perjalanan Isra dan Mi’raj—sehingga dalam tempo singkat bisa melakukan perjalanan lintas waktu, lintas zaman dan lintas benua.
Oleh : Adhie M Massardi

JERNIH—”Cakupannya kadang terasa seperti seorang pejalan yang ingin memasuki terlalu banyak kota. Namun benang merahnya tidak putus: setiap kekuatan yang tidak dituntun nilai pada akhirnya akan berbalik menguasai manusia.”
Kalimat ini ditulis Darmawan Sepriyossa dalam artikel bertajuk “Ketika Kemajuan Kehilangan Adab”. Esai ini mengupas buku Peradaban not just Civilization karya Adhie M Massardi yang dirilis Penerbit Buku Kompas, 2016.
Sebagai penulis, saya tersanjung membaca apresiasi Darmawan Sepriyossa karena meskipun melihat penulis “seperti seorang pejalan yang ingin memasuki terlalu banyak kota”, namun benang merahnya tidak terputus.
Saya tidak bermaksud menjawab, apalagi membantah kalimat ini. Tulisan ini ingin menjelaskan bahwa di era digital, seorang intelektual bisa seperti memiliki Buraq—hewan tunggangan yang digunakan Nabi Muhammad SAW untuk perjalanan Isra dan Mi’raj—sehinggadalam tempo singkat bisa melakukan perjalanan lintas waktu, lintas zaman dan lintas benua.
Kenapa bisa melakukan hal itu? Begini risalahnya:
Perjalanan dari Analog ke Digital
Saya hidup dan mulai menulis di zaman analog, ketika bahan pengetahuan harus dicari secara manual. Untuk mendapatkan satu atau dua kalimat yang diperlukan, saya harus memilah buku halaman demi halaman. Karena itu, setiap hendak menulis esai, di atas meja—di samping mesin ketik yang kemudian berganti menjadi komputer personal—selalu bertumpuk kliping koran, majalah, ensiklopedia, dan buku-buku yang akan dijadikan referensi.
Sekarang saya hidup dan menulis di era digital, ketika bahan pengetahuan tersedia melimpah dan dapat ditelusuri dalam waktu yang jauh lebih singkat. Saya pun berangkat dari keyakinan bahwa pembaca hidup dalam ekosistem pengetahuan yang sama. Karena itu, saya tidak merasa perlu memindahkan seluruh gudang pengetahuan ke halaman buku agar sebuah gagasan dapat dipahami.
Yang diperlukan adalah fakta empiris dan pembuktian secukupnya untuk menjaga keutuhan argumentasi. Setiap fakta penting tetap harus memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tetapi buku tidak harus berubah menjadi gudang yang menampung seluruh bahan pembuktian.
Dengan demikian, jejak-jejak pengetahuan yang saya tinggalkan setelah berpikir dan bergerak secara quantum leap—melintasi waktu, zaman, kebudayaan, dan disiplin ilmu—dapat berfungsi seperti stabilo atau garis bawah. Ia menandai sesuatu yang penting untuk diperhatikan. Apabila pembaca ingin mengetahui apa yang berada di balik tanda itu secara lebih luas dan mendalam, jejak tersebut dapat dijadikan mata kail untuk memancing pengetahuan yang lebih utuh dari hamparan pengetahuan digital.
Di zaman analog, intelektual melepaskan gagasannya kepada publik. Di era digital, intelektual dapat berjalan bersama publik mengikuti perjalanan gagasan itu. Sebab di era digital, buku tidak lagi harus memindahkan seluruh isi laut pengetahuan ke halaman-halamannya. Cukuplah ia memberikan kail dan menunjukkan di mana pembaca dapat melemparkannya.
Di sinilah cara berpikir quantum leap memperoleh maknanya. Ia bukan sekadar kemampuan menjadikan seorang intelektual sebagai penjelajah waktu atau time traveler yang bergerak dari satu zaman ke zaman lainnya.
Ia menjadikan intelektual bekerja seperti arkeolog peradaban. Seorang arkeolog tidak membawa pulang seluruh lapisan tanah yang digalinya. Ia menemukan artefak, mengenali nilainya, membaca jejak yang ditinggalkannya, kemudian menempatkannya dalam bentang sejarah yang lebih luas.
Demikian pula intelektual era digital. Ia menjelajahi hamparan pengetahuan umat manusia, menemukan artefak-artefak gagasan dari zaman dan kebudayaan yang berbeda, lalu mengenali bahwa di antara benda-benda yang tampaknya berjauhan itu masih terdapat kilau nilai yang sama.
Karena itu, berpikir quantum leap bukan melompat tanpa pijakan. Ia justru membutuhkan keluasan horizon pengetahuan, ketajaman menemukan hubungan, kemampuan membaca makna, serta tanggung jawab untuk memastikan bahwa artefak gagasan yang ditemukan memang layak ditempatkan dalam bangunan pemikiran yang sedang disusun.
Era digital menyediakan hamparan pengetahuan. AI membantu mempercepat penggalian. Tetapi manusialah yang harus mengenali artefak mana yang bernilai, membaca kilau maknanya, dan menentukan untuk apa ia dihadirkan kembali.
Dengan proses kreatif seperti ini lahir teori baru tentang interaksi penulis (intelektual) dan publik pembacanya. Seperti menyanggah pandangan Rolland Bathes tentang “The Dead of the Author”. []
Penulis “Peradaban Not Just Civilization”






