SolilokuiVeritas

Renungan Deden Ridwan: Terang di Punggung Andong, Pesantren Tanpa Kotak Amal

Konon, suara beliau menjangkau seantero kampung tanpa pengeras. “Pidatonya seperti bergaung dari dalam dada kita,” tutur seorang murid. Kini, setiap kali menatap punggung Gunung Andong, seakan terdengar bisikan beliau: jangan singgah di pertigaan bila engkau mencari yang autentik. Hidup menggoda kita mampir di warung ambisi, di halte kuasa, di pasar popularitas, di terminal harta, dan gengsi. Tetapi di tiap persinggahan itu justru kita kehilangan pertemuan paling inti: dengan Allah. Pun diri sendiri.

JERNIH– Saudaraku. Suatu pagi, aku dan istri berjalan santai mengitari kompleks. Udara sejuk, langkah ringan, sekadar mencari sarapan. Di jalan pulang, seorang tetangga menyapa ramah, “Selamat pagi, Pak Deden.”

Namanya Bu Ria. Obrolan singkat pun berlanjut, hingga suaminya, Pak Sigit, ikut bergabung. Dengan nada bersahabat ia berkata, “Renungan-renungan Pak Deden bagus sekali.” Lalu, sambil tersenyum, ia menambahkan, “Kakeknya Ria itu juga layak ditulis: Mbah Mangli.”

Ketahuilah. Nama itu baru pertama kali kudengar. K.H. Hasan Ashari, atau Mbah Mangli, seorang ulama kharismatik dari lereng Gunung Andong, Magelang. Dari percakapan ringan di tepi jalan pagi itu, terbuka kisah tentang seorang yang bukan sekadar memimpin, tetapi menyalakan pelita di lorong paling redup.

Konon, suara beliau menjangkau seantero kampung tanpa pengeras. “Pidatonya seperti bergaung dari dalam dada kita,” tutur seorang murid. Aku tertegun. Di tengah zaman riuh oleh pengeras suara, radio, dan media sosial, masih ada manusia yang suaranya tidak sekadar memasuki telinga, tetapi mengetuk hati hingga bergetar.

Ada pula kisah tentang ibunda beliau: cinta sunyi yang tak pernah absen. Di manapun sang anak berada, tiba-tiba sang ibu sudah berdiri di depan pintu. Dari situ Mbah Mangli belajar: doa seorang ibu adalah fondasi yang lebih kokoh dari batu, lebih teguh dari gunung. Doa itu menjadi akar ruhani yang tak pernah lapuk. Tanpa doa ibunda, cahaya takkan pernah menyala seterang matahari.

Namun hidup beliau tidak melulu di mimbar. Ia pernah merantau ke Mampang, Warung Buncit, Ungaran, Solo. Pernah berdagang kaligrafi, mukena, gamis, bahkan membuka warung makan. Hidupnya seakan menegaskan: jalan seorang kiai tak hanya di atas podium, tetapi juga di pasar; tak hanya dalam doa, tetapi juga dalam peluh keringat yang halal. Di sana, tasbih bertemu timbangan. Zikir bertemu dagangan. Setiap lembar rupiah berubah menjadi amal sederhana namun murni.

Puncaknya, beliau mendirikan pesantren di punggung Gunung Andong. Gunung itu memang tak setinggi Merapi, tetapi cukup gagah untuk menjadi saksi sejarah. Lerengnya dulu dikenal keras: persinggahan preman, sarang gaduh, dan dunia malam. Justru di sanalah beliau menancapkan akar. Seperti benih yang sengaja memilih tanah retak untuk tumbuh, Mbah Mangli menyalakan terang di ruang paling pekat. Pelan-pelan, azan menyingkirkan teriakan mabuk. Zikir menenangkan dentuman malam. Gunung Andong pun seakan bernafas baru: dari keras menjadi teduh, dari gaduh menjadi damai.

Ada satu fakta mengguncang hati. Pesantren beliau tak menyediakan kotak amal. Tak ada ajakan donasi. Tak ada seruan terbuka untuk sumbangan. “Jika engkau menaruh cinta pada ilmu, jagalah dengan ikhlas. Jangan kurangi dengan kalkulasi,” begitu ajarannya. Anehnya—atau justru mukjizatnya—pesantren itu tak pernah kekurangan. Air selalu mengalir. Beras selalu ada. Rezeki datang tanpa diminta. Bertubi-tubi.

Gunung Andong tegak tanpa tiang, sebagaimana pesantren itu berdiri tanpa kotak amal. Keduanya sama-sama menjulang karena kekuatan dalam, bukan sokongan luar. Gunung menegakkan dirinya karena kesetiaan tanah pada langit. Pesantren menyokong diri karena kepatuhan hati pada tauhid. Dari situ terasa getar-batin ajaran beliau: iman nir-berhitung, ketulusan tanpa meminta balas.

Tasawuf beliau bukanlah kitab dingin-kaku, tetapi nafas yang hidup. Zikir bukan sekadar di bibir, melainkan jalan meruntuhkan kesombongan. Tarekat bukan klub eksklusif. Ia disiplin membebaskan. Dakwah hadir di tempat kotor sekalipun. “Kalau semua ulama hanya mau berdiri di majelis megah, siapa yang menemani mereka tatkala tersesat di jalan?” ucapnya.

Beliau tak segan mendekati preman, pecandu, atau mereka yang disebut “sampah masyarakat.” Justru di lorong gelap itulah cahaya paling dibutuhkan. Dakwah yang malas mengotori kaki di lumpur,  kehilangan makna.

Ada pula nasihat sederhana: bila ingin sowan, jangan singgah dulu di jalan; langsung menuju rumahnya. Jika sempat mampir, biasanya beliau sulit ditemui. Niat mesti lurus. Pernah seorang murid datang dengan hati bercabang, dan ditegur halus: “Kalau hatimu masih berliku, pulanglah dulu. Besok datang lagi dengan niat bulat.”

Suara beliau menggelegar tanpa mikrofon. Masyarakat menyebutnya karamah. Aku percaya. Sebab suara yang lahir dari nurani bersih selalu menemukan jalan ke hati lain. Pengeras suara bisa mati, tetapi gema jiwa tak pernah padam.

Apa relevansinya bagi kita hari ini? Di tengah agama kerap dijadikan perebutan kuasa, teladan ketulusan ini terasa seperti oase. Pesantren tanpa kotak amal adalah simbol keras: iman murni tak butuh sponsor. Dakwah tulus turun ke jalan. Menemui kelompok tersisih, terluka, atau kehilangan arah.

Kini, setiap kali menatap punggung Gunung Andong, seakan terdengar bisikan beliau: jangan singgah di pertigaan bila engkau mencari yang autentik. Hidup menggoda kita mampir di warung ambisi, di halte kuasa, di pasar popularitas, di terminal harta, dan gengsi. Tetapi di tiap persinggahan itu justru kita kehilangan pertemuan paling inti: dengan Allah. Pun diri sendiri.

Mbah Mangli seakan menegur pelan: “Luruskan langkahmu. Jangan berpencar.” Hidup memang penuh persimpangan, tetapi hanya langkah lurus yang akan sampai. Suara hati jernih lebih abadi daripada pengeras mana pun. Ketulusan lebih langgeng daripada strategi. Dan terang sejati—ia lahir bukan di panggung gemerlap, melainkan dari pelita yang berani menyala di terowongan paling remang.

Saudaraku, renungkanlah. Jika engkau ingin benar-benar sampai di titik-tuju, biarkan hatimu menjadi pesantren tanpa kotak amal: tegak karena iman, cukup karena keikhlasan, dan bercahaya karena cinta yang tak pernah meminta balas. [ ]

Back to top button