Sajid dan Naveed Akram, Ayah-Anak Penembak Yahudi di Bondi Beach

Penembakan di Bondi Beach dengan jumlah total korban (tewas dan luka-luka) mencapai 41 orang, menempatkan serangan ini sebagai salah satu insiden teror yang paling mematikan dalam sejarah Australia.
WWW.JERNIH.CO – Penembakan massal yang memilukan di Bondi Beach, Sydney, pada malam perayaan Hanukkah, 14 Desember 2025, telah menjadi salah satu babak tergelap dalam sejarah Australia modern, merenggut 15 nyawa tak berdosa.
Otoritas Australia dengan cepat mengidentifikasi pelaku sebagai Sajid Akram (50 tahun) dan putranya, Naveed Akram (24 tahun), dan dengan tegas menyatakan insiden tersebut sebagai serangan teroris dengan motif antisemitisme yang jelas menargetkan komunitas Yahudi.
Pengungkapan latar belakang ayah dan anak ini, yang diwarnai jejak radikalisasi dan kepemilikan senjata yang sah, tidak hanya menjelaskan kekejaman serangan tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai celah dalam sistem pengawasan keamanan domestik Australia.
Sajid Akram, sang ayah, adalah imigran yang berasal dari Pakistan. Sajid memperoleh visa pasangannya pada tahun 2001. Naveed Akram, putranya, kemungkinan besar lahir di Pakistan dan kemudian pindah ke Australia bersama ayahnya, atau lahir di Australia tak lama setelah kedatangan ayahnya, namun warisan keluarga dan latar belakang budaya mereka terhubung dengan Pakistan.
Sajid Akram, sang ayah yang tewas di lokasi setelah baku tembak dengan polisi, memegang profil yang kontradiktif. Di satu sisi, ia adalah seorang pemilik toko buah di Sydney Barat. Wilayah ini memang paling banyak dihuni imigran. Meski begitu, kehidupan bisnisnya tidak pernah menunjukkan adanya indikasi aktivitas ekstremis, yang memungkinkan ia lolos dari pengawasan yang ketat selama bertahun-tahun.
Namun, di sisi lain, Sajid adalah pemegang lisensi senjata api yang sah selama satu dekade terakhir, memiliki enam senjata api terdaftar—senjata yang kemudian disita dan diduga digunakan dalam serangan tersebut. Detail paling mencolok adalah statusnya sebagai pemegang lisensi senjata kelas H (untuk senjata api tangan) atau kelas D (untuk senjata tertentu) yang sah di New South Wales selama 10 tahun.
Temuan kunci investigasi, termasuk ditemukannya bendera ISIS dan alat peledak rakitan di kendaraan mereka, mengindikasikan bahwa ia dan Naveed telah menyatakan sumpah setia kepada kelompok teroris tersebut.
Kematian Sajid mengakhiri perannya dalam aksi ini, namun ironi kepemilikan senjatanya yang legal—di negara dengan salah satu undang-undang senjata paling ketat pasca-Port Arthur—menjadi sorotan tajam bagi keamanan nasional.
Sementara itu, profil Naveed Akram, yang ditangkap dalam kondisi luka parah, menguak jejak radikalisasi yang lebih mengkhawatirkan. Meskipun ia digambarkan oleh ibunya sebagai sosok yang pendiam dengan hobi normal seperti memancing, Naveed memiliki riwayat keterlibatan yang signifikan dengan ekstremisme.
Poin krusialnya adalah bahwa ia pernah diselidiki oleh Badan Intelijen Keamanan Australia (ASIO) pada tahun 2019 karena hubungannya yang erat dengan sel terorisme ISIS di Sydney, khususnya dengan Isaac El Matari, komandan ISIS yang ditangkap saat itu.
Meskipun penyelidikan tersebut berlangsung selama enam bulan, ASIO kemudian menyimpulkan bahwa ia “tidak menimbulkan ancaman berkelanjutan.” Setelah keluar dari pengawasan ASIO, Naveed kembali ke kehidupan sipil yang relatif normal. Ia bekerja sebagai tukang batu, meskipun kehilangan pekerjaannya dua bulan sebelum serangan karena kebangkrutan perusahaan.
Keterlibatan masa lalu Naveed, yang kemudian berujung pada kekejaman, menunjuk pada adanya kegagalan mendasar dalam penilaian risiko intelijen.
Tragedi Pantai Bondi yang digambarkan oleh Perdana Menteri Anthony Albanese sebagai “terorisme antisemit” ini kini menempatkan Australia di persimpangan jalan.
Kasus Sajid dan Naveed Akram menyoroti dua isu genting: celah dalam pengawasan intelijen yang gagal mendeteksi ancaman berkelanjutan dari individu yang memiliki hubungan teroris, dan kerentanan sistem lisensi senjata api yang memungkinkan seorang calon teroris memiliki senjata legal untuk melakukan serangan.
Dampak serangan ini meluas di luar Sydney, memicu peningkatan keamanan global di sekitar acara-acara Hanukkah, dan memaksa Australia untuk mengevaluasi ulang secara kritis baik prosedur perizinan senjata api maupun metodologi deteksi dan mitigasi ancaman radikalisasi domestik.(*)
BACA JUGA: Ahmed el-Ahmed, Muslim Penyelamat Yahudi dalam Penembakan di Pantai Australia






