PersonaVeritas

Ayatollah Ali Khamenei dan Terbenamnya Matahari Teheran

Di bawah jubah hitam yang tak pernah goyah oleh sanksi dunia, Ali Khamenei menenun takdir sebuah bangsa selama tiga puluh tujuh tahun. Namun, sejarah tak pernah menuliskan akhir yang tenang.

WWW.JERNIH.CO – Iran berduka. Pengumuman resmi dari Teheran pada Minggu pagi, 1 Maret 2026. Ayatollah Ali Khamenei, sosok yang telah memimpin Republik Islam Iran selama 37 tahun, dinyatakan wafat. Kematian pria berusia 86 tahun ini akibat eskalasi militer dahsyat yang menghantam pusat komandonya di Teheran.

Lahir di Masyhad pada Juli 1939, Ali Khamenei tumbuh dalam keluarga ulama yang sederhana. Sejak muda, ia adalah aktivis anti-monarki yang setia kepada Ayatollah Khomeini (pendiri republik). Sebelum mencapai puncak kekuasaan, ia adalah seorang intelektual religius yang gemar sastra dan musik klasik, namun karir politiknya ditempa dalam penjara dan penyiksaan di era Shah.

Setelah revolusi 1979, ia selamat dari upaya pembunuhan pada tahun 1981 yang menyebabkan tangan kanannya lumpuh permanen. Hal ini justru memperkuat citranya sebagai “Martir Hidup” di mata pengikutnya.

Ia lalu menjabat sebagai Presiden Iran selama delapan tahun masa perang melawan Irak, sebuah periode yang membentuk pandangan dunianya bahwa Iran tidak boleh bergantung pada kekuatan asing mana pun.

Khamenei naik takhta pada Juni 1989. Saat itu, banyak yang meragukan kemampuannya karena ia tidak memiliki gelar keagamaan tertinggi (Marja) seperti Khomeini. Namun, ia berhasil melakukan dua hal besar, antara lain melalukan konsolidasi militer. Ia memperkuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi kekuatan ekonomi dan militer raksasa yang setia langsung kepadanya.

Ia membangun jaringan proksi di Lebanon (Hezbollah), Irak, Suriah, dan Yaman. Inilah yang membuat Iran menjadi pemain dominan di Timur Tengah, mampu menantang pengaruh Amerika Serikat dan Israel tanpa perang terbuka selama puluhan tahun.

Secara religius, ia mempromosikan visi Islam yang politis. Baginya, agama adalah alat untuk melawan penindasan global. Gelar Ayatollah yang ia sandang bukan sekadar simbol kesucian, melainkan mandat untuk menjadi “Wali” bagi umat Islam dalam segala aspek kehidupan.

Respon rakyat Iran atas meninggalnya sang pemimpin umat mencerminkan polarisasi yang mendalam. Di Teheran Utara dan kota-kota besar misalnya, terdapat kelompok anak muda dan aktivis yang melihat wafatnya sang Imam sebagai “awal dari berakhirnya teokrasi.” Bagi mereka yang lelah dengan pembatasan internet, aturan berpakaian yang ketat, dan krisis ekonomi, momen ini dipandang dengan harapan akan adanya reformasi total.

Sementara di pedesaan dan basis religious, jutaan orang turun ke jalan dengan balutan pakaian hitam. Bagi mereka, Khamenei adalah sosok ayah bangsa yang melindungi Iran dari nasib seperti Suriah atau Libya. Mereka meratapi hilangnya sosok yang dianggap memberikan stabilitas selama hampir 40 tahun.

Bagi pendukung sistem Velayat-e Faqih, seorang Ayatollah yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi adalah “Tanda Allah.” Ia adalah payung hukum dan spiritual. Jika presiden bisa berganti setiap empat atau delapan tahun, posisi Ayatollah adalah titik tetap yang tidak boleh goyah.

Wafatnya Khamenei menciptakan “kekosongan sakral” yang sangat sulit diisi, karena tidak ada ulama lain saat ini yang memiliki kombinasi pengalaman militer, politik, dan karisma religius sekuat dirinya.

Ali Khamenei meninggalkan Iran yang jauh lebih kuat secara militer dibandingkan tahun 1989, namun jauh lebih rapuh secara sosial dan ekonomi. Di eranya, Iran menjadi bangsa yang tangguh tak terkontaminasi dan terkooptasi oleh Barat. Pendek kata Iran adalah negara mandiri. Mereka tetap punya mitra kendati tanpa AS dan sekutunya.

Lagi pula IRGC telah mengambil sumpah, “Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan akan disesali para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka.”(*)

BACA JUGA: Membunuh Ayatollah Ali Khamenei, Meruntuhkan Rezim Teokratis Iran?

Back to top button