NewsVeritas

[HOT NEWS] Intelijen AS: Iran Tidak Membangun Kembali Kapasitas Nuklir

Benarkah Iran benar-benar ancaman nuklir, atau ini hanya perang yang dipaksakan? Dokumen intelijen terbaru AS membocorkan fakta mengejutkan: Program nuklir Iran sudah lumat sejak tahun lalu.

WWW.JERNIH.CO – Intelijen Amerika Serikat menyimpulkan di hadapan Kongres bahwa Iran tidak membangun kembali kapasitas pengayaan nuklirnya yang hancur tahun lalu akibat serangan AS dan Israel. Temuan ini berbanding terbalik dengan alasan utama yang digunakan Presiden Donald Trump untuk membenarkan perang yang tengah berlangsung.

Tulsi Gabbard, sekutu Trump yang kini menjabat sebagai Direktur Intelijen Nasional (DNI), memberikan sinyal yang kontradiktif terkait latar belakang dan hasil dari perang yang telah berjalan tiga minggu tersebut saat memberikan keterangan di hadapan Kongres. Ia juga menilai bahwa struktur kepemimpinan Iran masih tetap utuh.

Dalam testimoni tertulisnya kepada Komite Intelijen Senat, Gabbard menyatakan bahwa program pengayaan nuklir Iran telah lumat akibat serangan AS pada Juni 2025.

“Sebagai hasil dari Operasi Midnight Hammer, program pengayaan nuklir Iran telah musnah,” tulis Gabbard. “Sejak saat itu, tidak ada upaya untuk membangun kembali kemampuan pengayaan mereka.”

Namun, Gabbard tidak mengulangi kesimpulan tersebut secara langsung. Saat didesak oleh senator dari Partai Demokrat, ia berdalih tidak memiliki cukup waktu untuk membaca seluruh teks testimoni dalam sidang tersebut, meski ia juga tidak membantah penilaian tertulisnya.

BACA JUGA: Trump Tukang Bohong, Pembantaian 165 Siswi di Iran Akibat Serangan AS

Trump berulang kali menyatakan bahwa ia memerintahkan serangan terhadap Iran bersama Israel pada 28 Februari karena adanya “ancaman mendesak.” Meskipun setelah pengeboman Juni 2025 Trump sempat mengeklaim situs nuklir Iran sudah hancur total, belakangan ia justru bersikeras bahwa Teheran hanya berjarak beberapa minggu dari bom nuklir sehingga ia harus bertindak.

Pandangan ini tidak didukung oleh badan pengawas nuklir PBB maupun mayoritas pengamat. Bahkan, Iran sedang bernegosiasi dengan utusan Trump hanya beberapa hari sebelum serangan terjadi.

Gabbard, yang dulunya merupakan anggota Kongres dari Demokrat dan penentang keras perang dengan Iran, kini menuai kritik tajam. Salah satu ajudan seniornya, Joseph Kent, mengundurkan diri sebagai Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional sebagai bentuk protes. Kent menyatakan bahwa Iran bukan “ancaman mendesak” dan Trump telah disesatkan oleh Israel serta media.

Senator Demokrat Michael Bennet menyindir inkonsistensi Trump, “Presiden Trump dulu berkata kita bukan polisi dunia. Ia berkampanye dengan janji itu. Sekarang, ia justru menjadikan kita polisi dunia, sekaligus juri, hakim, dan algojonya.”

Gabbard mengakui Iran menderita pukulan hebat—termasuk tewasnya Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei—namun ia menegaskan rezim tersebut belum runtuh. Ia memperingatkan jika rezim yang bermusuhan ini bertahan, mereka kemungkinan akan melakukan upaya bertahun-tahun untuk membangun kembali kekuatan militer, rudal, dan armada drone (UAV) mereka.

Dengan kata lain, Trump sendiri dalam situasi ragu-ragu dan tidak tegas sebelum memutuskan menyerang Iran. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. (*)

BACA JUGA: Tumbal Ambisi Trump: Mundurnya Joe Kent dan Runtuhnya Dongeng “America First”

Back to top button