
Iran kehilangan sang filsuf sekaligus arsitek keamanan nasional. Ali Larijani diumumkan telah meninggal secara syahid. Bagaimana Iran tanpa Larijani?
WWW.JERNIH.CO – Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang mengukuhkan bahwa Ali Larijani telah “meraih kemuliaan syahid.”
“Jiwa-jiwa suci para martir telah merangkul jiwa suci hamba Allah yang saleh, Syahid Dr. Ali Larijani.” Demikian tulis SNSC.
Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa Larijani tewas dalam serangan udara di Teheran. Selain Larijani, putranya yang bernama Morteza Larijani serta beberapa pengawal pribadinya juga dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang sama.
Ali Larijani adalah salah satu pilar intelektual dan operasional paling vital yang dimiliki Iran di tengah kecamuk perang yang kian meluas.
Lahir pada tahun 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga ulama terkemuka, Ali Ardashir Larijani adalah perpaduan langka antara seorang filosof, tentara, dan diplomat. Ia merupakan putra dari Ayatollah Agung Mirza Hashem Amoli, yang memberinya legitimasi religius yang kuat meski ia sendiri memilih jalur birokrasi sipil dan militer daripada menjadi ulama murni.
Larijani memegang gelar doktor dalam bidang filsafat Barat dari Universitas Teheran dan dikenal sangat mengagumi pemikiran Immanuel Kant. Inteleknya yang tajam membuatnya mampu menavigasi labirin politik Iran yang rumit selama lebih dari tiga dekade. Kariernya membentang luas: mulai dari komandan di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama Perang Iran-Irak, Menteri Kebudayaan, Kepala Penyiaran Negara (IRIB), hingga menjabat sebagai Ketua Parlemen (Majlis) selama 12 tahun (2008–2020).
Peran Larijani mencapai puncaknya justru di hari-hari terakhir hidupnya. Setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara, Iran berada dalam kondisi vakum kepemimpinan yang berbahaya. Di sinilah Larijani muncul sebagai tokoh sentral.
Meskipun secara formal ia adalah Sekretaris SNSC, banyak analis menyebutnya sebagai pemimpin de facto Iran selama masa transisi. Ia adalah sosok yang dipercaya oleh mendiang Khamenei untuk mengelola strategi harian negara. Larijani memiliki kemampuan unik untuk menjembatani faksi-faksi keras di dalam IRGC dengan kebutuhan diplomasi pragmatis di panggung internasional. Ia adalah otak di balik upaya Iran untuk tetap menjalin komunikasi dengan mediator internasional seperti Oman, sekaligus mengoordinasikan pertahanan nasional melawan serangan-serangan udara yang masif.
Kematian Larijani menciptakan lubang besar yang sulit ditambal dalam sistem kekuasaan Iran. Larijani adalah sedikit dari pejabat Iran yang mampu berdebat tentang filsafat Jerman sekaligus merancang strategi rudal. Tanpanya, Iran kehilangan “penerjemah” kebijakan yang ulung.
Penggantinya kemungkinan besar akan berasal dari garis keras IRGC yang lebih mengutamakan konfrontasi fisik daripada manuver diplomatik. Hal ini berisiko menutup pintu negosiasi yang tersisa, membuat konflik di Timur Tengah semakin sulit untuk dideskalasi.
Saat ini, Mojtaba Khamenei (putra mendiang Ayatollah) tengah mencoba mengonsolidasikan kekuasaan sebagai pemimpin baru. Larijani adalah sosok senior yang mengetahui “rahasia dapur” bagaimana mendiang Khamenei menjalankan kekuasaan selama puluhan tahun. Tanpa bimbingan dan dukungan Larijani, posisi Mojtaba menjadi lebih rentan terhadap faksi-faksi internal yang mungkin ingin mengambil alih kekuasaan dalam situasi darurat militer.
Larijani dikenal sebagai sosok “konservatif pragmatis”. Ia tahu kapan harus melawan dan kapan harus menahan diri demi kelangsungan rezim. Kehilangannya dapat memicu elemen-elemen paling radikal di Teheran untuk mengambil kendali penuh.
Tanpa suara penyeimbang seperti Larijani, respons Iran terhadap serangan luar kemungkinan besar akan menjadi lebih impulsif dan destruktif, yang dapat memicu perang regional total.(*)
BACA JUGA: Ayatollah Mojtaba Khamenei, Sang Veteran Perang Iran-Irak






