
Retak Hallyu dibelah oleh arogannya sendiri. Benarkah industri yang mereka ciptakan telah membangkitkan kesombongan netizen negerinya? Atau ada yang sedang bermain di “air keruh”?
WWW.JERNIH.CO – Selama lebih dari dua dekade, dunia mengenal Korea Selatan melalui wajah-wajah porselen idola K-Pop dan narasi romantis K-Drama. Fenomena Hallyu dibangun dengan presisi industri: pelatihan ketat, produksi nyaris tanpa cela, dan distribusi digital yang agresif. Ia tampil seperti gelas porselen mahal—mengilap, elegan, dan tampak tak tergoyahkan.
Namun pada awal 2026, retakan besar muncul di permukaannya. Perseteruan panas antara netizen Korea Selatan (K-Netz) dan aliansi netizen Asia Tenggara yang menjuluki diri mereka SEAblings (South East Asia Siblings) telah mengubah drama linimasa menjelma menjadi pemberontakan kultural dan ekonomi yang dipicu akumulasi rasa tidak hormat—yang akhirnya mencapai titik didih.
Api pertama tersulut pada 31 Januari 2026, di arena konser Kuala Lumpur saat band DAY6 tampil. Sejumlah fansite master asal Korea Selatan tertangkap melanggar aturan promotor dengan membawa kamera profesional berlensa tele. Ketika ditegur staf lokal dan penonton Malaysia, alih-alih meminta maaf, mereka bersikap arogan.
Video keributan itu viral. Namun yang membuatnya meledak adalah respons lanjutan di platform X. Oknum K-Netz meluncurkan komentar rasis: menyebut netizen Asia Tenggara “penduduk negara miskin”, “monyet Asia Tenggara”, hingga mengejek warna kulit dan fisik.
Puncaknya terjadi ketika seorang K-Netz menghina video musik grup vokal Indonesia No Na yang berlatar sawah dengan komentar meremehkan: “Apakah mereka tidak punya uang untuk sewa studio sehingga harus syuting di sawah tempat menanam padi?”
Hinaan terhadap sektor agraris—fondasi budaya dan ekonomi banyak negara ASEAN—menjadi bensin bagi kemarahan kolektif. Dari sini, tagar #SEAblings lahir. Netizen Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Vietnam, yang kerap berseteru dalam isu receh, mendadak solid menghadapi satu musuh bersama.
BACA JUGA: 7 Grup K-Pop Terkaya hingga Pertengahan 2025
Dari kacamata industri, K-Netz tampak lupa satu fakta mendasar: Asia Tenggara adalah lumbung engagement dan pendapatan bagi Hallyu. Tanpa klik dari Jakarta, Bangkok, atau Manila, algoritma global tak akan sekuat sekarang. Data industri 2025 menunjukkan kontribusi streaming dan penjualan merchandise dari ASEAN sangat signifikan.
Maka ketika SEAblings menggulirkan seruan boikot dan kampanye “Dukung Artis Lokal”, itu bukan cuma gertakan, melainkan bisa berubah menjadi gerakan. Benar saja engagement di sejumlah platform memang terpantau menurun di kawasan ini. Nama-nama seperti Lyodra dan No Na dipromosikan masif sebagai simbol kebanggaan. Ini bukan lagi soal selera; ini soal harga diri ekonomi.
Dimensi geopolitik membuat retakan itu kian dalam. Seoul selama ini menggencarkan kebijakan diversifikasi ekonomi melalui pendekatan ke ASEAN untuk mengurangi ketergantungan pada dua raksasa—Tiongkok dan Amerika Serikat.
Di bawah kerangka kebijakan regional yang diperbarui, Korea Selatan menanam investasi strategis: pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia, proyek infrastruktur di Vietnam, hingga kolaborasi teknologi di berbagai ibu kota ASEAN. Ketika K-Netz menghina sektor pertanian atau menyematkan stereotip kemiskinan, mereka sejatinya menyabotase diplomasi ekonomi negaranya sendiri.
Pemerintah Korea Selatan terjepit dalam dilemma. Menindak keras ujaran rasis berarti berhadapan dengan isu kebebasan berekspresi domestik; membiarkannya berarti merusak hubungan dengan kawasan berpenduduk lebih dari 670 juta jiwa.
Secara psikologis, konflik ini adalah benturan dua arus mentalitas. Di satu sisi, sebagian K-Netz memperlihatkan gejala superiority complex—rasa bangga berlebih atas “Keajaiban Sungai Han”, transformasi ekonomi Korea Selatan yang spektakuler.
Kesuksesan budaya dianggap bukti hierarki baru di Asia, bahwa mereka eksportir utama, sementara yang lain sekadar pasar. Di sisi lain, SEAblings mempraktikkan collective pride. Generasi digital ASEAN tumbuh dalam ekosistem global; mereka fasih berbahasa, peka isu, dan tak lagi inferior. Mereka bisa mencintai musiknya, tapi tak segan “membakar poster” ketika martabat bangsa diusik. Solidaritas lintas batas ini diperkuat memori sejarah kolonialisme dan perjuangan harga diri yang serupa.
Namun ada lapisan lain yang membuat konflik ini semakin pelik yakni peran “agensi bayangan”. Dalam setiap pusaran isu global, selalu ada aktor tak terlihat—akun anonim, buzzer berbayar, hingga entitas yang memanen klik demi trafik iklan. Polarisasi adalah komoditas. Algoritma media sosial mengganjar konten ekstrem; kemarahan lebih laku daripada klarifikasi.
BACA JUGA: Titik Terang Drama Hukum Grup K-Pop NewJeans
Tak menutup kemungkinan ada pihak yang mengamplifikasi narasi rasis dari segelintir K-Netz untuk memancing balasan masif, lalu menjualnya sebagai drama regional. Dalam lanskap digital yang hiperkompetitif, reputasi bisa dijadikan alat tawar-menawar. Agensi hiburan pun tak steril dari permainan in, sebagian mungkin tergoda mengalihkan isu internal dengan memantik distraksi eksternal.
Industri hiburan Korea—yang kerap diringkas sebagai “The Big 4”—selama ini beroperasi dengan pola Korea-centric. Standar kecantikan, norma perilaku, hingga opini netizen domestik menjadi poros keputusan. Pemberontakan SEAblings membuktikan bahwa pasar global tak bisa lagi diatur dengan standar domestik. Agensi-agensi kini dipaksa memikirkan ulang manajemen krisis lintas budaya, merekrut konsultan lokal di Jakarta atau Bangkok, dan menyusun pedoman etika fandom internasional. Ini perubahan struktural, bukan kosmetik.
Yang dipertaruhkan tak hanya angka streaming, melainkan legitimasi moral Hallyu sebagai soft power. Kekuatan ini bertumpu pada daya tarik dan rasa hormat, bukan dominasi. Ketika retorika rasis dibiarkan, ia merusak fondasi kepercayaan yang selama ini membuat Hallyu diterima hangat.
Pemerintah Korea Selatan tak bisa lagi memisahkan “urusan netizen” dari kepentingan nasional. Di era digital, jempol warga bisa berdampak pada negosiasi dagang dan sentimen investasi.
Pertanyaan tajamnya: siapa yang lebih membutuhkan? Apakah Asia Tenggara butuh K-Pop untuk hiburan, atau Korea Selatan butuh Asia Tenggara untuk menjaga momentum ekonominya?
Jawabannya mungkin saling membutuhkan—tetapi dalam relasi yang setara. SEAblings menunjukkan bahwa konsumen global memiliki memori dan martabat. Mereka bukan sekadar angka di dashboard analitik para spekulan industri hiburan K-Pop.(*)
BACA JUGA: Bisnis Perdukunan di Korea: Pelanggannya Artis K-pop, Politisi, dan Pengusaha






