
Netanyahu yang tak muncul dalam beberapa hari menimbulkan teka-teki. Kendati sempat nampang pada 5-6 Maret, namun setelah itu benar-benar menghilang. Iran memanfaatkan situasi, Israel berkelit.
WWW.JERNIH.CO – Spekulasi mengenai keberadaan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi sorotan hangat di kancah internasional dalam beberapa hari terakhir. Rumor ini mencuat di tengah eskalasi konflik besar antara Israel dan Iran yang memasuki fase kritis pada Maret 2026.
Absennya Netanyahu dari layar televisi—yang biasanya rutin memberikan pesan video—memicu berbagai teori konspirasi, mulai dari isu kesehatan hingga klaim serangan fisik.
Sejak awal Maret 2026, intensitas kemunculan Benjamin Netanyahu di publik memang mengalami perubahan pola yang drastis. Jika biasanya ia aktif mengunggah pesan video harian selama operasi militer berlangsung, dalam kurun waktu sekitar empat hari (antara tanggal 7 hingga 11 Maret), publik tidak melihat rekaman video terbaru darinya.
Spekulasi ini diperkuat oleh laporan media mengenai peningkatan pengamanan di kediamannya serta pembatalan kunjungan utusan tingkat tinggi dari Amerika Serikat tanpa penjelasan rinci. Ketidakhadiran fisik ini menciptakan kekosongan informasi yang dengan cepat diisi oleh berbagai narasi di media sosial.
BACA JUGA: Bekas Menhan Israel Bongkar Borok Netanyahu: PM Kita Seorang Pembohong
Pihak Iran, melalui media yang berafiliasi dengan pemerintah dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) seperti Tasnim News Agency, memanfaatkan momen ini untuk meluncurkan perang urat syaraf. Media Iran secara agresif menyebarkan klaim bahwa Netanyahu mungkin telah terluka parah atau bahkan tewas dalam serangan balasan rudal Iran yang menargetkan pusat-pusat komando di Israel.
Mereka menyebut bahwa rudal Iran berhasil menembus pertahanan Iron Dome dan mengenai lokasi persembunyian pejabat tinggi. Iran menggunakan “keheningan” Israel sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemerintah Zionis. Bagi Teheran, ketidakmunculan Netanyahu adalah simbol keruntuhan moral kepemimpinan Israel di tengah perang.
Pemerintah Israel dengan tegas membantah rumor tersebut dan menyebutnya sebagai “berita palsu” (fake news) serta bagian dari propaganda hitam Iran. Kantor Perdana Menteri (PMO) menyatakan bahwa Netanyahu tetap memegang kendali penuh atas operasi militer yang sedang berlangsung.
Untuk mematahkan spekulasi, pihak Israel merilis beberapa bukti aktivitas Netanyahu. Pada 6 Maret, Netanyahu dilaporkan mengunjungi lokasi terdampak serangan rudal di Beersheba untuk menunjukkan kehadirannya di garis depan.
Israel mengonfirmasi adanya pembicaraan telepon antara Netanyahu dengan para pemimpin dunia, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 5 Maret, yang juga dikonfirmasi oleh sumber di Istana Élysée.
Meskipun video terbaru sempat absen, PMO terus merilis pernyataan tertulis dan foto-foto pertemuan keamanan di markas Kirya, Tel Aviv.
Militer Israel (IDF) menekankan bahwa dalam situasi perang total, pergerakan Perdana Menteri sangat dibatasi dan dirahasiakan demi alasan keamanan nasional yang sangat ketat, terutama dari ancaman serangan udara langsung.
Hilangnya Netanyahu dari pandangan publik selama beberapa hari kemungkinan besar merupakan langkah taktis keamanan di tengah hujan rudal, namun hal ini berhasil dimanfaatkan oleh Iran untuk menggoyang stabilitas psikologis warga Israel.
Hingga saat ini, belum ada bukti medis atau fisik yang mendukung klaim bahwa Netanyahu mengalami cedera serius. Ketegangan ini menunjukkan bahwa dalam perang modern, medan tempur informasi sama krusialnya dengan pertempuran di lapangan.(*)
BACA JUGA: Benarkah Iddo Netanyahu si Adik Benjamin Tewas?






