SanusVeritas

Kepergian Lula Lahfah dan Bahaya Tersembunyi GERD

Kepergian mendadak Lula Lahfah menyisakan duka sekaligus peringatan penting. Sebelum berpulang, almarhumah sempat berjuang melawan GERD menjadi keluhan yang paling sering muncul saat ia mengalami tekanan pikiran.

WWW.JERNIH.CO –  Berita duka meninggalnya selebgram Lula Lahfah pada Januari 2026 menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit pencernaan, khususnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Sebelum wafat, Lula sempat berbagi kisah perjuangannya melawan “sakit borongan”, di mana GERD menjadi salah satu keluhan utama yang sering kambuh, terutama saat ia berada di bawah tekanan pikiran atau stres yang berat.

GERD sendiri bukanlah sekadar sakit maag biasa. Ini adalah gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika otot katup di bawah kerongkongan (Lower Esophageal Sphincter) melemah, sehingga asam lambung naik kembali ke saluran pernapasan.

Kondisi ini menciptakan sensasi terbakar di dada yang disebut heartburn, rasa pahit di mulut, hingga sesak napas. Dalam kasus Lula, ia bahkan sempat merasakan gejala ekstra seperti tangan yang kaku, kesemutan, serta sensasi mengganjal di tenggorokan yang sangat mengganggu aktivitasnya.

Kekambuhan GERD sering kali dipicu oleh gaya hidup dan kondisi psikologis. Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat memicu produksi asam lambung secara berlebih, sementara pola makan yang buruk—seperti konsumsi makanan pedas, kafein, dan lemak—memperburuk kondisi katup lambung.

Kebiasaan langsung berbaring setelah makan juga menjadi faktor pemicu utama. Selain itu, adanya penyakit penyerta (komorbid) seperti radang usus atau infeksi saluran kemih dapat membuat sistem pertahanan tubuh menurun, sehingga serangan GERD terasa jauh lebih menyakitkan dan berbahaya.

Untuk menangani penyakit ini, pendekatan medis biasanya melibatkan penggunaan obat-obatan seperti Antasida, H2 Blockers, atau Proton Pump Inhibitors (PPI) untuk menekan produksi asam dan menyembuhkan luka pada kerongkongan. Namun, penanganan alami juga bisa menjadi pendamping yang efektif.

Bahan-bahan herbal seperti jahe, kunyit, madu murni, hingga teh chamomile dikenal mampu menenangkan lambung dan mengurangi peradangan secara alami jika dikonsumsi dengan cara yang benar.

Stres dan GERD
Hubungan antara stres dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Secara medis, stres mungkin tidak secara langsung “menciptakan” asam lambung, namun kondisi psikologis yang tertekan secara drastis mengubah cara tubuh merespons dan mengelola sistem pencernaan.

Fenomena ini sering kali menciptakan sebuah lingkaran setan (vicious cycle), di mana pikiran yang cemas memicu gangguan lambung, dan gangguan lambung tersebut berbalik memperparah kecemasan penderitanya.

Salah satu alasan utama mengapa hal ini terjadi adalah fenomena hipersensitivitas viseral. Saat seseorang mengalami stres kronis, ambang batas rasa sakit tubuh cenderung menurun, membuat saraf-saraf di kerongkongan menjadi jauh lebih sensitif. Dalam kondisi ini, percikan asam lambung yang sangat sedikit sekalipun—yang pada orang normal mungkin tidak terasa—dapat memicu rasa sakit yang hebat atau sensasi terbakar (heartburn) yang luar biasa.

Selain itu, stres memicu reaksi “lawan atau lari” (fight or flight) yang melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini dapat melemahkan otot katup lambung (LES), sehingga pintu masuk lambung tidak tertutup rapat dan memudahkan asam untuk naik kembali ke kerongkongan.

Tak hanya memengaruhi saraf dan katup, stres juga secara signifikan mengganggu motilitas atau gerakan lambung. Saat otak fokus pada tekanan pikiran, tubuh cenderung memperlambat proses pengosongan lambung. Akibatnya, makanan tertahan lebih lama di dalam perut, menciptakan tekanan tinggi yang akhirnya mendorong asam lambung keluar dari jalurnya.

Kondisi ini sering kali diperburuk oleh perubahan perilaku yang tidak sehat saat stres, seperti pola makan yang berantakan, kecenderungan mengonsumsi comfort food yang berlemak dan berkafein, serta kurangnya waktu istirahat yang seharusnya digunakan tubuh untuk memulihkan dinding saluran cerna.

Kaitan mendalam ini dikenal dalam dunia medis sebagai Gut-Brain Axis atau hubungan antara otak dan usus. Relasi ini sangat krusial karena sering kali penderita terjebak dalam kecemasan kesehatan; gejala GERD seperti sesak napas atau nyeri dada sering kali disalahartikan sebagai serangan jantung.

Ketakutan ini kemudian memicu lebih banyak stres, yang secara otomatis memproduksi lebih banyak asam lambung. Oleh karena itu, menangani GERD bukan hanya soal menjaga apa yang kita makan, tetapi juga tentang bagaimana kita mengelola beban pikiran dan menjaga kesehatan mental agar sistem pencernaan dapat berfungsi dengan optimal.

Pada akhirnya, kunci utama kesembuhan GERD terletak pada perubahan gaya hidup dan manajemen emosi. Para penderita disarankan untuk makan dalam porsi kecil namun sering, memberi jeda minimal tiga jam sebelum tidur setelah makan, serta memosisikan kepala lebih tinggi saat beristirahat.

Peristiwa yang menimpa Lula Lahfah menunjukkan bahwa gangguan pencernaan yang dibarengi dengan komplikasi medis lainnya memerlukan penanganan serius dan tidak boleh disepelekan.(*)

BACA JUGA: Lima Efek Samping Minum Kopi dan Cara Mengatasinya

Back to top button