Manchester United VS Brighton, Rekor Buruk Dalam 111 Tahun

Kalah menyakitkan di kandang sendiri, ditambah satu kartu merah, plus tanpa manajer permanen, MU benar-benar babak belur. Tak heran rekor buruk di Piala FA terpecahkan.
WWW.JERNIH.CO – Manchester United tengah berada dalam salah satu periode terkelam dalam sejarah modern mereka. Kekalahan terbaru dari Brighton & Hove Albion dengan skor 1-2 di babak ketiga Piala FA pada 11 Januari 2026 adalah “puncak gunung es” dari rangkaian kegagalan yang sistemik.
Untuk pertama kalinya dalam 111 tahun, Setan Merah harus tersingkir di babak awal Piala FA di hadapan pendukungnya sendiri, sebuah fakta pahit yang menegaskan betapa rapuhnya mentalitas skuad yang kini berada di bawah kendali interim Darren Fletcher setelah pemecatan Ruben Amorim.
Rentetan hasil negatif ini sebenarnya sudah mulai menghantui sejak penghujung tahun 2025. Di bawah asuhan Ruben Amorim, MU gagal menunjukkan identitas pemenang dan justru terjebak dalam tren tanpa kemenangan yang mengkhawatirkan.
Dimulai dari kekalahan 1-2 di kandang Aston Villa, performa tim terus merosot dengan kekalahan menyakitkan di hari Boxing Day melawan Newcastle (0-1), serta hasil imbang yang hambar saat menjamu Wolves dan Burnley. Ketidakmampuan menjaga keunggulan, seperti yang terlihat saat Benjamin Sesko mencetak dua gol namun akhirnya diimbangi oleh Burnley, menunjukkan bahwa masalah utama tim ini bukan hanya pada taktik, melainkan pada ketahanan mental di menit-menit krusial.
Sebelum akhirnya dipecat pada awal Januari 2026, Ruben Amorim gagal menghadirkan stabilitas yang dibutuhkan Manchester United. Alih-alih menunjukkan progres, tim justru terjebak dalam masa transisi yang kacau, ditandai oleh performa inkonsisten dan rapuhnya struktur permainan, terutama di lini belakang. Rangkaian hasil buruk ini perlahan menggerus kepercayaan manajemen maupun kesabaran suporter.
Beberapa hari sebelumnya, pada 7 Januari 2026, MU hanya mampu bermain imbang 2-2 melawan Burnley. Ini merupakan pertandingan pertama Fletcher setelah Amorim dipecat. Meski sempat unggul dua gol lewat Benjamin Sesko, pertahanan yang rapuh kembali menjadi masalah. Keunggulan sirna di menit-menit akhir melawan tim yang berada di zona papan bawah, menyoroti lemahnya konsentrasi dan organisasi bertahan.
Penurunan performa sebenarnya sudah terlihat sejak akhir Desember 2025. Hasil imbang 1-1 melawan Wolves di Old Trafford pada 30 Desember menghadirkan kekecewaan mendalam. Dominasi serangan tidak mampu diterjemahkan menjadi kemenangan, memicu kritik keras dari suporter yang menilai permainan tim monoton dan kurang tajam.
Situasi kian memburuk setelah kekalahan 0-1 dari Newcastle pada Boxing Day, 26 Desember 2025. Gol tunggal Dorgu dalam laga tersebut disebut-sebut sebagai momen krusial di mana manajemen mulai kehilangan kepercayaan pada Amorim. Kekalahan ini memperjelas masalah struktural yang tak kunjung teratasi.
Rentetan hasil negatif itu diawali oleh kekalahan tandang 1-2 dari Aston Villa pada 21 Desember 2025. Dalam laga tersebut, lini belakang Manchester United tampak mudah dieksploitasi oleh taktik lawan, memperlihatkan betapa rapuhnya pertahanan tim. Kekalahan ini menjadi gambaran awal bahwa era Amorim berada di jalur yang sulit diselamatkan.
Secara teknis, keterpurukan MU berakar pada krisis identitas taktis. Transisi dari skema tiga bek ala Amorim kembali ke pola tradisional di bawah Fletcher membuat para pemain tampak kebingungan di lapangan. Lini tengah seringkali kehilangan kontrol, menciptakan jarak yang terlalu lebar antar lini yang dengan mudah dieksploitasi oleh lawan melalui serangan balik cepat.
Selain itu, lini pertahanan mereka menjadi salah satu yang paling rapuh di liga, seringkali kebobolan melalui bola mati atau blunder individu yang ceroboh. Ketergantungan yang terlalu tinggi pada aksi individu Bruno Fernandes atau ketajaman Benjamin Sesko membuat pola serangan MU menjadi sangat mudah dibaca oleh lawan.
Kini, masa depan Manchester United berada di persimpangan jalan. Kegagalan di Piala FA telah menutup satu pintu peluang trofi, menyisakan liga domestik yang kian menjauh dari jangkauan papan atas.
Tanpa penunjukan manajer permanen yang tepat dan perombakan kedisiplinan di dalam skuad, United berisiko terlempar ke papan tengah dan kehilangan daya tarik sebagai klub elit Eropa. (*)
BACA JUGA: Manchester United Pecat Ruben Amorim






