Partai-partai Arab Berpeluang Jadi ‘Kingmaker’ Pemerintahan Baru Israel

Peluang partai Arab menjadi kingmaker tidak hanya bergantung pada matematika pemilu, melainkan pada keberanian moral blok oposisi mainstream Israel. Kebuntuan politik di Israel diprediksi akan terus awet selama kubu oposisi belum berani membuang ego sektarian dan memperlakukan partai Arab sebagai mitra koalisi yang sah dan setara.
JERNIH — Peta politik Israel diprediksi bakal menghadapi guncangan hebat pada pemilu mendatang. Berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru, baik kubu koalisi sayap kanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun kelompok oposisi utama Zionis, diperkirakan tidak akan mampu mengamankan mayoritas parlemen tanpa sokongan dari partai-partai Arab-Palestina.
Kondisi ini menempatkan partai-partai minoritas Arab dalam posisi krusial sebagai penentu arah (kingmaker) sekaligus pemegang keseimbangan kekuasaan (balance of power) di Israel.
Survei yang dirilis oleh Channel 12 memproyeksikan perolehan kursi di Knesset (Parlemen Israel) yang beranggotakan 120 legislator. Koalisi Benjamin Netanyahu (Likud & Sayap Kanan) diprediksi hanya meraup 52 kursi. Blok Oposisi Utama (Yesh Atid pimpinan Yair Lapid & Blue and White pimpinan Benny Gantz) diperkirakan mengamankan 58 kursi. Sementara Aliansi Partai Arab & Sayap Kiri (Hadash-Ta’al dan Ra’am) mengunci sisa 10 kursi.
Mengingat batas ambang minimal untuk membentuk pemerintahan adalah 61 kursi, baik Netanyahu maupun kubu oposisi dipastikan terjebak di zona buntu. Sepuluh kursi milik aliansi Arab otomatis menjadi komoditas politik paling mahal.
Meski di atas kertas oposisi membutuhkan 10 kursi tersebut untuk mendepak Netanyahu, realitasnya tidak semudah itu. Mayoritas partai dalam oposisi Zionis secara historis konsisten menolak mentah-mentah berkoalisi dengan perwakilan Arab-Palestina.
Ofer Cassif, anggota parlemen Israel (Knesset) berdarah Yahudi dari partai kiri Hadash (bagian dari aliansi Hadash-Ta’al), mengkritik keras sikap keras kepala para pemimpin oposisi seperti Naftali Bennett, Gadi Eisenkot, dan Yair Lapid.
“Mereka selalu sesumbar, ‘Kami tidak akan bergantung pada orang Arab.’ Selain beraroma rasis, pernyataan itu sangat bodoh jika dilihat dari kacamata realisme politik. Jika mereka tidak punya cukup kursi, lalu apa yang akan mereka lakukan?” cetus Cassif saat diwawancarai The New Arab.
Menurut Cassif, para pemimpin oposisi terjebak dalam lingkaran setan (vicious circle). Mereka enggan bekerja sama karena takut kehilangan pemilih Yahudi yang anti-Palestina, namun di sisi lain, penolakan eksplisit mereka justru terus memupuk sentimen rasial tersebut di tengah masyarakat.
Meskipun kerap berseberangan ideologi secara radikal dengan kubu oposisi sentris-kanan, Cassif menegaskan bahwa aliansi Hadash siap mengambil langkah ekstrem yang belum pernah dilakukan sebelumnya demi mendepak Netanyahu dari kursi kekuasaan.
“Menyingkirkan Netanyahu adalah harga mati. Tidak ada celah 1.000 persen bagi kami untuk mendukung Netanyahu atau sekutunya. Jika kami harus memilih antara kelompok kanan-konservatif (oposisi) atau kelompok kanan-fasis (Netanyahu), dengan terpaksa kami akan mendukung yang pertama demi menyingkirkan yang kedua,” tegas Cassif.
Jika angka survei ini terwujud, kubu anti-Netanyahu hanya dihadapkan pada tiga pilihan sulit yakni berkompromi dan merangkul Partai Likud atau partai ultra-Ortodoks, memicu kebuntuan dan memaksa pemilu ulang digelar kembali serta menelan ludah sendiri dan bergantung pada dukungan partai Arab untuk membentuk pemerintahan.
Cassif menilai, faktor pengubah permainan (game changer) dalam pemilu mendatang bukan lagi pergeseran suara di internal pemilih Yahudi, melainkan tingkat partisipasi (turnout) warga Arab-Palestina pemilik paspor Israel di bilik suara.
Sejarah mencatat, jika faksi-faksi Arab seperti Hadash, Ta’al, Balad, dan Ra’am bersatu kembali dalam wadah Joint List (Daftar Bersama), arus pemilih Arab akan melonjak drastis. Sebaliknya, jika mereka maju secara terfragmentasi, minat politik warga Arab akan merosot dan menguntungkan kubu sayap kanan.
Peluang partai Arab menjadi kingmaker tidak hanya bergantung pada matematika pemilu, melainkan pada keberanian moral blok oposisi mainstream Israel. Kebuntuan politik di Israel diprediksi akan terus awet selama kubu oposisi belum berani membuang ego sektarian dan memperlakukan partai Arab sebagai mitra koalisi yang sah dan setara.






