Cacar Air dan Kudis Jadi Siksaan Harian Anak-anak di Kamp Pengungsian Gaza

JERNIH — Bagi anak-anak di kamp pengungsian Gaza, masa kecil yang indah telah lenyap. Alih-alih berlari ceria di antara tenda, ribuan bocah di wilayah kantong Palestina tersebut kini harus menghabiskan hari-hari mereka dengan menangis menahan perih dan gatal yang luar biasa. Di bawah sengatan suhu musim panas yang ekstrem, wabah penyakit kulit menular seperti cacar air, kudis (scabies), dan infeksi akut tengah meledak di tengah kehancuran total sistem sanitasi.
Salah satu potret memilukan datang dari Yahya Abu Nassira, bocah berusia enam tahun yang terbaring lemas di atas kasur busa tipis di sebuah tenda di barat Kota Gaza. Seluruh tubuh kecilnya kini dipenuhi lepuhan merah akibat cacar air.
Suhu udara yang melonjak membuat kondisi di dalam tenda terasa pengap bak oven, diperparah oleh bau busuk dari tumpukan sampah dan genangan air limbah di luar tenda.
“Setiap pagi selalu dimulai dengan cara yang sama. Yahya terbangun dengan demam tinggi, menangis histeris karena menahan gatal di wajah, dada, dan kakinya. Saya terpaksa memegang tangannya terus-menerus agar dia tidak menggaruk, karena saya takut lepuhan itu akan berubah menjadi luka infeksi terbuka,” ungkap ibunya, Heba, kepada The New Arab.
Nasib serupa menimpa Laila al-Quraan (9 tahun), yang menghabiskan malamnya tanpa bisa tidur akibat penyakit kudis yang parah. Rasa gatal yang bermula dari sela-sela jarinya kini telah menjalar ke seluruh lengan, perut, dan kakinya.
Ibunya, Um Ahmed (37 tahun), mengaku mustahil melakukan isolasi mandiri. “Kami hidup bertumpuk, sepuluh orang di dalam satu tenda. Tidak ada air yang cukup untuk mandi teratur atau mencuci selimut. Dalam hitungan hari, anak kami yang lain langsung tertular gejala yang sama,” keluhnya pilu.
Agensi kemanusiaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah merilis alarm bahaya terkait ledakan penyakit menular ini. Angka-angka di lapangan menunjukkan skala krisis yang mengerikan:
PBB mencatat hampir 9.300 kasus diduga cacar air hanya dalam kurun waktu dua minggu di berbagai pusat pengungsian dan tempat penampungan. Berdasarkan penilaian PBB, sekitar 83 persen wilayah pengungsian kini telah menjadi sarang tikus, serangga, dan berbagai parasit pembawa penyakit.
Selain itu, lebih dari 90 persen populasi Gaza telah terusir dari rumah mereka selama hampir dua tahun perang, memaksa mereka berjejal di kamp-kamp kumuh yang kelebihan muatan.
Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Dr. Mohammed Abu Silmiya, menegaskan bahwa tenaga medis di lapangan kewalahan menghadapi lonjakan konstan pasien anak dengan penyakit kulit. “Kepadatan ekstrem di dalam tenda, kelangkaan air bersih, dan tidak adanya sabun atau alat kebersihan pribadi membuat pencegahan infeksi menjadi misi yang mustahil,” jelasnya.
Kondisi ini diperparah oleh menipisnya stok antibiotik dan salep di rumah sakit, memicu penyakit ringan berkembang menjadi infeksi darah yang fatal. Ditambah lagi, masalah malnutrisi massal akibat kelaparan membuat sistem imun anak-anak Gaza berada di titik terendah.
Dr. Mohammed Hajila, dokter yang berbasis di Gaza, memperingatkan bahwa jika tumpukan ratusan ribu ton sampah dan limbah kotoran yang mengepung tenda warga tidak segera dibersihkan, Gaza akan segera dihantam gelombang penyakit menular susulan pada saluran pencernaan dan pernapasan yang jauh lebih mematikan.






