CrispyDepth

Mimpi Buruk Wabah 350 Tahun Lalu Itu Kembali Lagi

Bergamo — “Kami memutuskan tidak lagi membunyikan lonceng kematian, karena sangat menyakitkan,” ujar seorang pastor di sebuah Gereja Katolik di Nembro, kota kecil berpenduduk 11.500 di timur Bergamo, wilayah Lombardy, Italia.

Nembro adalah kota kecil dengan banyak gereja, tapi berada di bawah satu paroki. Lonceng kematian dibunyikan jika ada salah satu anggota gereja meninggal dunia. Sejak wabah virus korona menyerang, satu gereja bisa membunyikan lonceng kematian dua atau tiga kali dalam sehari.

Sejak 7 Maret, atau hari keempat sejak wabah virus korona menyerang, seluruh lonceng gereja berhenti berdentang. “Suara lonceng kematian menyebabkan penderitaan kami tak terhitung. Kami menghentikannya, dan membiarkan semua terjadi,” ujar Don Matteo Cella, pastor termuka di Nembro.

Korban Covid-19 di Italia Butuh HP untuk Ucapkan Selamat Tinggal

Cella adalah satu-satunya pastor yang menjalankan tugas. Empat lainnya jatuh sakit, dan dalam perawatan intensif.

Nembro kemungkinan akan tercatat dalam sejarah sebagai kota kecil dengan banyak kematian Covid-19. Yang tidak diketahui adalah sampai pada tingkat berapa kematian di kota ini.

Tahun 1630, Nembro — saat itu berpenduduk 2.700 orang — terserang wabah kolera. Sebanyak 75 persen penduduknya tewas. Sisanya, sebanyak 744 selamat dan ditakdirkan untuk menceritakan kisah itu turun-temurun.

Cella mencatat semua kematian. Pada awal epidemi, gereja menggelar 39 kali pemakaman di gereja, 26 di kuburan, dan 26 mayat menunggu dibaringkan. “Kita tidak tahu berapa warga non-Katolik yang meninggal saat itu,” katanya.

Dari Panti Jompo

Nembro saat ini tak ubahnya kota mati. Seluruh jalan lengang, toko-tokon tutup, dan alun-alun kota tak lagi riang oleh canda anak-anak. Nembro seolah membeku.

Dari Nembro kisah wabah virus korona di Italia dimulai. Diawali dengan kematian ‘Pasien Satu’ dari Codogno, deerah Lodi. Korban sempat menjalani tes, dan dinyatakan positif korona.

Tidak ada tes terhadap orang-orang terdekat korban, dan semua yang pernah menjalin kontak dengannya. Cella yakin itulah awal bencana.

Bantuan Masker dari Cina untuk Italia Dibajak di Republik Cek

Cella bukan dokter. Ia tidak ingin melampaui kewenangannya. Ia hanya berusaha mencatat semua fakta yang menghancurkan komunitasnya.

“Kami percaya virus telah ada sejak awal tahun, bahkan mungkin sejak Natal 2019, dan tak teridentifikasi,” kaanya.

Sebagai permulaan, menurut Cella, terjadi kematian anomali di panti jompo. Sepanjang Januari 2020, ada 20 kematian dengan sebab sama; pneumonia. Kematian terakhir merngut Giuseppe Pezzotta, ketua panti jompo yang biasa dipanggil Bepo.

“Setelah itu, pekan demi pekan jumlah kematian membengkak,” ujar Cella. “Sebelum Mardi Grass, setengah penduduk kota berbaring di tempat tidur akibat demam.”

Cella juga masih belum lupa saat membicarakan acara parade anak-anak, tiba-tiba pembicaraan terhenti akibat kabar seluruh relawan jatuh sakit. Namun, tidak ada yang bicara soal virus korona.

Semua orang, katanya, yakin mereka yang sakit akan segera pulih dan kembali aktif. Sebab, penderitaan mereka relatif sama, yaitu demam.

“Yang terjadi kemudian adalah kehidupan seolah terhenti. Tidak ada lagi misa, dan kami harus merawat orang sakit,” kata Cella. “Empat pastor jatuh sakit, meninggalkan saya sendirian.”

Awal Maret 2020, pemakaman korban virus korona dimulai. Ada upacara di gereja dan pemakaman. Pada 2 Maret, ada 14 pemakaman, yang semuanya lewat upacara diikuti banyak orang.

Ritual terakhir, sebelum pemerintah Italia melarang upacara pemakaman, dilakukan untuk Massimo — pekerja bidang grafis dan percetakan berusia 52 tahun. Saat itu upacara dihadir dua putri almarhum, dengan teman dan kerabat lain berdiri sangat jauh.

Massimo tak pernah menjalani tes. Dia mengalami demam tinggi selama sepekan. Ketika paramedis tiba, tidak ada yang bisa dilakukan. Massimo meninggal saat seluruh Nembro mengalami kepanikan hebat.

Italia Terkunci Total, Narapidana di 22 Penjara Ngamuk

“Kini, tidak hanya lonceng kematian yang kami bungkam, tapi kami berharap ambulance menjalankan urusannya tanpa sirine,” kata Cella. “Sirine ambulan sangat menyakitkan bagi yang sekat dan menciptakan tekanan psikologis penderita sekarat.”

Menutu Cella, biarlah mereka yang meninggal di rumah sakit pergi dalam keheningan total, dengan hanya keluarga yang melihat ambulan pergi ke pemakaman.

Semua Adalah Relawan

Pastor Don Antonio, yang sempat sakit dan sembuh, berusaha mengubah situasi. Ia memanggil semua keluarga untuk berkabung dan menghibur.

Ketika dewan kota meminta paroki membantu menyebarkan berita bahwa makanan dapat dikirim, Don Antonio mengambil peran itu. Cella mengumpulkan remaja untuk menjadi relawan, yang pergi dari pintu ke pintu untuk menaruh selebaran di kotak pos.

“Relawan membawa obat untuk yang sakit, orang-orang tua yang dikarantina, dan lainnya,” kata Cella. “Kami menemukan kembali rasa komunitas yang kuat. Rasa kebaikan manusia yang menyentuh.”

Dalam kekosongan dan keheningan gereja, Cella terus bekerja. Ia memanfaatkan teknologi untuk melayani jamaah. Mengunggah ceramah di YouTube, mengundang kelompok paroki bertemu dalam ruang ngobrol video setiap pagi.

Ia membuat podcast yang isinya uraian Alkitab, dan mempostingnya. Lima ratus orang mengunduh setiap hari.

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close