Crispy

RI Sebaiknya Tiru Kebijakan Masker Taiwan

Jakarta – Seusai Presiden Joko Widodo pada 2 Maret mengumumkan ada dua orang warga yang positif terjangkit virus Corona, reaksi besar muncur dari masyarakat. Salah satunya mencari pengaman diri yang dengan mencari masker.

Masyarakat pun berbondong-bondong membeli masker. Akibatnya, masker pun menjadi langka, kalaupun ada, harganya melonjak berlipat lipat lebih bahkan lebih dari 10 kali lipat. Hal itu terjadi hingga saat ini.

Ada baiknya Indonesia belajar dari Taiwan dalam mengelola maskernya secara nasional. Apalagi ketika menghadapi epidemi wabah virus Corona yang mendunia. Taiwan begitu responsif termasuk dalam mengelola produksi hinga pemasaran masker, sehingga tak menyulitkan warganya ketika membutuhkannya.

Dalam keterangan tertulis Taipei Economic and Trade Office (TETO), kemarin, terungkap sejumlah strategi pemerintahan Taiwan untuk soal masker ini. Di Taiwan, sekarang semua orang dapat membeli masker medis, dengan harga masker yang tidak mengalami kenaikan (satu lembar masker setara Rp 2.000). Bagaimana Taiwan melakukannya?

1. Tindakan lebih awal cegah epidemi.

Pemerintah Taiwan telah memulai pencegahan epidemi sejak dini, mendahului Jepang, Korea Selatan, dan Eropa. Taiwan secara tegas mengadopsi langkah-langkah pencegahan radang paru-paru Wuhan pada 31 Desember tahun lalu. Setelah epidemi di China berangsur-angsur semakin merebak, Taiwan mendirikan pusat komando epidemic pada 20 Januari untuk menangani upaya pencegahan epidemi nasional. 

Pemerintah Taiwan telah lama mengakui bahayanya virus corona, dan mengupayakan berbagai langkah anti-epidemi sejak awal. Ini merupakan kunci penting keberhasilan pencegahan epidemi di Taiwan.

2. Kebijakan masker ‘Buka Arus Masuk dan Hemat Keluar’

Dengan pengalaman memerangi SARS pada 2003, pemerintah Taiwan menyadari bahwa masker akan menjadi salah satu benda anti-epidemi yang diincar masyarakat. Apalagi ditambah dengan masker yang diproduksi oleh Taiwan yang jumlahnya sangat terbatas. Dimana lebih dari 80% masker di impor dari luar negeri setiap tahun.  Untuk ‘menghemat arus keluar’, pada 24 Januari pemerintah Taiwan mengumumkan untuk sementara waktu melarang masker medis di ekspor ke luar negeri.

3. Beli semua masker dan menjualnya secara nasional

Demi meyakinkan publik, pemerintah Taiwan memutuskan untuk meminta masker medis yang diproduksi di seluruh negeri pada awal 31 Januari, dan serentak menugaskan Pusat Komando Epidemi Center untuk distribusikan ke unit medis, serta ke minimarket dan apotek nasional untuk dijual dengan harga yang sama kepada warga di seluruh negeri.

Sejak itu, harga masker medis di Taiwan ditetapkan dengan harga yang sama oleh pemerintah, dan tidak akan ada kenaikan harga. Keberhasilan dari kebijakan masker pemerintah Taiwan ini telah mulai diterapkan oleh negara lainnya, misalnya, Perancis pada 3 Maret mengumumkan bahwa mereka akan membeli dan mengumpulkan masker untuk mendistribusikannya secara nasional.

4. Bentuk Tim Nasional Masker

Karena produksi masker di Taiwan sangat terbatas, untuk memenuhi permintaan domestik, pemerintah Taiwan memutuskan untuk berinvestasi sekitar NT$ 200 juta (sekitar Rp95 miliar) pada 31 Januari, berharap dapat menambah 60 jalur produksi masker dalam waktu yang singkat. 

Akibatnya, lusinan produsen mesin dan teknologi besar Taiwan secara aktif merespons kebijakan pemerintah, dan menyediakan sumber daya manusia secara sukarela dan material secara gratis untuk membentuk tim masker nasional untuk bersama-sama membangun jalur produksi masker tambahan.

Berkat upaya semua orang, yang semula untuk membangun 60 jalur produksi masker diperlukan waktu enam bulan, bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari sebulan, yang memungkinkan produksi masker medis Taiwan meningkat jadi 10 juta lembar per hari pada awal Maret. Selain ini, Pemerintah Taiwan telah menginvestasikan tambahan 30 jalur produksi yang baru lagi, dan diharapkan akan selesai secara bertahap pada akhir Maret untuk meningkatkan produksi masker. Pada saat itu, Taiwan akan menjadi produsen masker terbesar kedua di dunia.

5. Terapkan ‘Sistem Identitas Asli untuk Beli Masker’

Untuk memungkinkan semua orang bisa membeli masker dan mencegah orang menimbun masker, pemerintah Taiwan telah menerapkan ‘Sistem Identitas Asli untuk Pembelian Masker’ sejak 6 Februari.  Dengan kata lain, setiap orang harus pergi ke apotek dan klinik kesehatan di seluruh negeri untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional. Selain itu setiap orang dibatasi jumlah pembeliannya per minggu di hari tertentu.

Warga harus melihat nomor terakhir dari nomor kartu identitas. Misalnya yang bernomor ganjil, dapat membeli masker di hari Senin, Rabu dan Jumat setiap minggunya, sedangkan yang bernomor genap dapat membeli di hari Selasa, Kamis dan Sabtu setiap minggunya, dan hanya di hari Minggu saja semua orang (tidak berlaku nomor ganjil dan genap) dapat membeli masker.

Saat ini, orang dewasa dapat membeli 3 lembar masker, dan anak-anak dapat membeli 5 lembar masker per minggu di hari tertentu. Harga per lembar masker masih dipertahankan di nilai NT$5 (sekitar Rp2.000).  Di masa depan, tergantung pada produksi masker di Taiwan, jumlah pembelian per orang per minggu akan ditingkatkan.

Taiwan menjadi pioner dalam penerapan sistem identitas asli untuk masker pada 6 Februari, dan kemudian diikuti negara lainnya. Sebagai contoh, Korea Selatan mulai menerapkan sistem identitas asli yang serupa pada 9 Maret.

6. Gunakan teknologi informasi

Keberhasilan sistem identitas asli untuk masker di Taiwan bergantung pada system asuransi kesehatan nasional yang komprehensif dan data besar di cloud. Jumlah penjualan masker setiap hari di berbagai tempat dapat dilaporkan secara online melalui internet setiap saat.  Sehingga pemerintah dapat mengetahui apotik mana saja yang kekurangan stok masker atau kelebihan stok, dan bisa segera memperbaharui pembagian jumlah masker di tiap apotik.

Selain itu, pemerintah Taiwan dan sektor swasta juga telah mengembangkan banyak aplikasi untuk pembelian masker. Selama orang menggunakan ponsel mereka, mereka dapat memeriksa persediaan masker di semua tempat apotik melalui ponsel terlebih dahulu sebelum membeli.  Pemerintah Taiwan saat ini sedang menjajaki peluncuran ‘Sistem Identitas Asli 2.0 untuk Pembelian Masker’ yang menggunakan analisis data besar yang lebih akurat dalam menghitung distribusi masker di berbagai tempat. Di masa depan, beberapa masker akan dijual melalui Internet untuk memfasilitasi beberapa karyawan yang tidak dapat mengambil cuti untuk pergi ke apotek beli karena pekerjaan.

Masker adalah benda kecil, tetapi merupakan bahan preventif yang sangat diperlukan bagi publik dalam menghadapi epidemi virus corona. Pemerintah Taiwan telah mengambil langkah-langkah untuk memberikan rasa aman kepada rakyat Taiwan. Sebanyak 300.000 orang Indonesia dan orang asing lainnya yang tinggal secara legal di Taiwan, juga dapat menikmati hak yang sama seperti warga Taiwan untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional dan kartu izin tinggal mereka. Melalui keunggulan medis dan kekuatan teknologi yang dimiliki Taiwan ini, Taiwan bersedia berbagi pengalaman pencegahan epidemi yang berharga dengan seluruh negara di dunia. [Zin]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close