Crispy

Virus Korona: HSBC Berhentikan 35 Ribu Karyawan

London — HSBC, salah satu bank terbesar di dunia, memangkas 35 ribu pekerja dan secara dramatis merombak bisnisnya akibat penurunan laba sepanjang 2019 dan ketidak-pastian kapan wabah virus korona berakhir.

Seorang juru bicara HSBC mengatakan akan mengurangi jumlah karyawannya di seluruh dunia sebanyak 15 persen, menjadi hanya 200 ribu, dalam tiga tahun ke depan.

HSBC juga akan menyisihkan 100 miliar dolar dalam asset, menyusuhkan bank investasinya, dan menutup sepertiga cabangnya di AS dan memindahkan sumber dayanya ke Timur Tengah dan Asia.

Perubahan ini diperkirakan menekan biaya 7,2 miliar dolar AS pada tahun 2022.

“Ini program restrukturisasi dan penyederhanaan terbesar dalam sejarah HSBC,” kata Noel Quinn, kepala eksekutif HSBC.

Quinn memperingatakan akan ada pengurangan tenaga kerja di markas HSBC di Inggris, serta pemangkasan lain sebagai akibat digitalisasi bisnis dan penggunaan teknologi.

Perombakan strategi ini terjadi ketika HSBC bersaing dengan daftar tantangan negatif yang semakin meningkat, termasuk penurunan suku bungan, yang membuat pinjaman menjadi kurang menguntungkan.

Protes selama berbulan-bulan di Hong Kong, dan wabah virus korona, disebut-sebut menjadi pemicu perombakan strategi.

HSBC mengalami penurunan laba cukup signifikan, dari 20 miliar dolar AS pada tahun 2018 menjadi 13,3 miliar dolar AS pada tahun 2019. Sebagian besar penurunan, sekitar 7,3 miliar dolar AS, disebabkan penurunan investasi perbankan komersial di Eropa.

Saham bank melorot enam persen lebih di London, pada Selasa 18 Februari 2020.

Virus Korona

HSBC memperoleh sebagian besar keuntungan dari pasar Asia. Kini, pasar itu dibuat gaduh oleh wabah virus korona.

Quinn mengatakan wabah virus korona menyebabkan gangguan ekonomi di Hong Kong dan Cina, dan sangat mempengaruhi kinerja HSBC sepanjang 2020.

CFO Ewan Stevenson mengatakan jika wabah virus tak berhenti sampai enam bulan ke depan, pendapatan HSBC dipastikan terpangkas.

“Jika wabah semakin panjang, dan berlanjut sampai paruh kedua tahun ini, HSBC diperkirakan akan mengalami kerugian tambahan 600 juta dolar AS,” kata Stevenson.

Quinn mengatakan virus tidak mengubah daya tarik daratan Cina, Hong Kong, dan seluruh Asia, sebagai mesin inti pertumbuhan binis selama beberapa tahun ke depan.

Namun, tidak ada jaminan wabah virus korona akan berhenti dalam waktu dekat.

Back to top button