POTPOURRI

Cinta Dalam Sepotong Paha

JAKARTA— [ Pertengahan Februari 2010—hampir satu dekade lalu, ternyata saya pernah menulis awal karier Cinta Laura sebagai penyanyi. Tulisan lama ini ditemukan kembali dari laman Fesbuk saya yang tercuri di tahun itu. Saya salin plek begitu saja, agar pembaca tak kehilangan ‘suasana’ saat itu. ]

Karena hidup bukanlah persamaan matematika, maka prestasi pun tak selalu merupakan fungsi dari usaha. Ada yang setengah mati berkutat mengukir prestasi dengan hasil nihil, sementara tak jarang seseorang menjalani karier dengan kesan santai dan sukses besar justru dituai.

Di antara anomali itulah mungkin Cinta Laura berada. Masih ingat untaian kalimat bernada manja ini: ‘Mana ujyan, bechek, tak ada ojheck.‘? Itulah barangkali tanda paling khas dari Cinta dan melambungkan namanya. Sejak itu pula khalayak tahu, ia bukan sekadar gadis muda yang mampu tampil centil di depan kamera. Ia juga bisa berperan dalam film layar lebar, dan yang terakhir, getar pita kerongkongannya pun cukup enak didengar.

Kini Cinta menyambangi publik dengan sebuah album musik. Yakin dengan hoki yang melekat pada namanya, debut album itu pun bertajuk nama panggungnya selama ini ‘Cinta Laura’.

Dan benar, album yang menawarkan 10 track bernuansa elektro-pop dinamis dan energik itu langsung menorehkan sejarah. “Di saat penjualan fisik sedang lesu seperti sekarang, penjualan sebanyak 100 ribu kopi dalam dua pekan jelas mencatatkan sejarah baru dalam industri musik nasional,” kata Bens Leo, pengamat musik nasional. Bens menyatakan itu kepada Republika saat menghadiri peluncuran album tersebut, akhir pekan lalu.

Dan Bens siap dengan angka statistik. Menurut dia, sepanjang lima tahun terakhir angka penjualan album, secara fisik terus mengalami penurunan. Salah satu konsekuensinya, pemberian penghargaan platinum–yang dulu diberikan bila penjualan mencapai 150 ribu kopi, dalam dua tahun terakhir ini angka 75 ribu kopi pun dianggap layak.

Tak heran, jika saat peluncuran album itu pun Sony Music Indonesia– yang menaungi Cinta Laura, memberinya sebuah penghargaan plantinum. Respons Cinta? “Oh, ini sungguh surprise buat aku. Thank’s God,” ujar Cinta. Kami yakin Anda bisa membayangkan sendiri cara Cinta mengucapkannya.

Sukses itu diraih Cinta tanpa melalui cara penjualan biasa. Alih-alih mengedarkan album secara konvensional dengan mendistribusikannya ke jaringan toko-toko kaset, Cinta dan Sony justru lebih percaya gaya ‘jemput bola’. Sony Music menggandeng sebuah usaha waralaba makanan cepat saji internasional untuk menjual album itu. Artinya, senyampang pembeli memesan ayam goreng dan sebangsanya untuk menangsel perut, staf waralaba akan menawarinya album itu.

“Terus terang, kami tak menyangka akan mendapat respons luar biasa,” kata Managing Director Sony Music Entertainment Indonesia. “Ini prestasi luar biasa.”

Cinta memang bukan yang pertama. Beberapa band, seperti Antique misalnya, juga pernah melakukannya. Bedanya, penjualan album grup band baru itu tidak semanis nasib Cinta Laura. “Jadi memang ini prestasi,” kata Bens, mengulang-ulang.

Di level dunia, cara begitu pun kerap dilakukan Sony. Perusahaan rekaman itu tercatat sukses mendistribusikan album penyanyi senior Barbra Streisand. Di AS, album bertajuk ‘Love Is the Answer’ itu berhasil menembus angka hingga 180 ribu kopi selama sepekan, Oktober tahun lalu.

Bedanya, Streisand kala itu tidak sampai ‘berjualan ayam’ seperti Cinta. Barbra hanya perlu menyejajarkan albumnya dengan secangkir kopi di gerai Starbuck. [dsy]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close