POTPOURRI

The Call of the Wild: Perjalanan Panjang Menemukan Diri

Seberapa jauh seseorang harus menempuh perjalanan hingga menemukan ‘rumah’ yang ia dambakan?

JAKARTA—Pada 16 Agustus 1896, seorang penambang emas lokal di Klondike, daerah nyaris tak berpenghuni di Yukon, Kanada, mengaku menemukan emas dalam bentuk butiran (nugget). Sesegera itu pula demam emas yang sebelumnya melanda wilayah California, AS, menular cepat ke Kanada.  Klondike Gold Rush, sebuah ekspedisi beranggotakan sekitar 100 ribu pemburu emas AS berangkat menuju Yukon, guna mengais nasib dan peruntungan.

Dengan latar belakang peristiwa itulah, Jak London—yang bukan orang Inggris itu, menulis dan menerbitkan  ‘The Call of the Wild’ pada 1903. Dan kisahnya, tampaknya jauh dari sekadar cerita tentang Buck, anjing manja yang dicuri dari sebuah keluarga hakim kaya raya untuk kemudian menjadi anjing penarik kereta salju di Alaska.

Boleh jadi, magnum opus Jack London itu pun datang dari sederet panjang pengalaman hidup dan perenungannya sendiri. Lahir pada Januari 1876 di San Francisco, California—wilayah yang sempat diserbu para pemburu emas (prospector), London tidak datang dari keluarga berada. Di masa remaja, tatkala menempuh pelajaran di bangku SMA pun, ia harus bekerja, kadang hingga 12 jam sehari. Di usia sembilan tahun, ia menemukan, membaca, dan terinpirasi sebuah novel era Victoria karya Ouida, nama pena untuk novelis perempuan, Maria Louise Ramé, berjudul ‘Signa’. London selalu mengatakan, buku itu menanamkan benih di hatinya untuk menjadi seorang penulis.

Dalam ketiadaan biaya, Jack London sempat menjadi seorang mahasiswa di University of California at Berkeley—sama dengan para anggota Mafia Berkeley di awal-awal penerapan ‘pembangunanisme’ Indonesia, pada 1896. Uang masuknya pinjaman seorang pemilik bar yang selalu ia gunakan untuk belajar, John Heinold. Sayang, London hanya bisa bertahan setahun karena ketiadaan biaya. Itulah yang membuatnya bergabung bersama kakak iparnya dalam ekspedisi Klondike Gold Rush pada pertengahan tahun 1897. Ekspedisi itu menjadi latar dari banyak cerita yang ditulisnya, terutama ‘Call of the Wild’.

Call of the Wild dengan tokoh protagonis John Thornton yang diperankan Harrison Ford, bukanlah film pertama yang dibuat dari novel itu. Buku yang memikat tersebut telah berkali-kali dibuat film. Film pertama dari novel tersebut dibuat pada 1923, lalu muncul kembai versi 1936 dengan peran utama Clark Gable.  Pada 1972 muncul kembali versi remake yang diperankan ‘Si Musa’ Carlton Heston.

Lalu 24 tahun kemudian, Rudger Hauer mendapat kepercayaan memerankan John Thornton pada versi 1996, dengan sedikit penambahan judul menjadi ‘Call of the Wild: Dog of the Yukon’. Versi ini dipuji habis-habisan oleh dua media massa terkemuka, The Hollywood Reporter dan New York Post. Reporter menulis,”…sebuah kejutan yang menyenangkan. (Film ini) Jauh lebih setia kepada versi Jack London klasik terbitan 1903, daripada versi-versi Hollywood sebelumnya.”  

Sementara The New York Post mengklaim adaptasi scenario yang ditulis Ludlow adalah “…versi terbaik dari kisah klasik Jack London tentang upaya untuk bertahan hidup.”

Pujian itu tak membuat orang merasa novel itu tak lagi berpeluang dibuat film. Call of the Wild  versi selanjutnya datang pada 2009, selain ada juga seri-seri televisi dari novel tersebut pada tahun 1993, 2000 dan 2008.

Versi 1996

Tetapi bagi saya, versi terbaru yang tengah beredar di bioskop, mungkin yang terbaik dari semua yang ada. Terutama, tentu saja, karena Buck tak lagi harus diperankan seekor anjing. Teknologi telah memungkinkan sutradara mengeksplorasi berbagai mimik wajah dan gesturnya sebagai binatang, yang cerdas, liar, ganas pada saatnya, tapi di saat lain juga berhasil menggambarkan berbagai sisi keterbatasannya sebagai makhluk tanpa akal.  

Barangkali, akan ada banyak pembaca yang protes bila saya katakan kisah ini berakhir happy ending.   Namun barangkali beberapa petikan dialog maupun narasi di film itu bisa membuat banyak pembaca lain setuju dengan saya. Di sebuah tempat antah berantah di Yukon, baik Thornton maupun Buck menemukan akhir perjalanan panjang mereka menyusur kehidupan. Si manusia berhasil mewakili putra tercintanya yang meninggal karena wabah demam, dengan bertualang ke sebuah wilayah ‘ di luar peta’. Sementara, Buck tak hanya menemukan kehidupan baru dengan menjadi kepala keluarga serigala kutub yang ada di sana, melainkan juga menemukan kesejatiannya sebagai hewan—yang lahir sebagai makhluk bebas dan liar.

“Kita harus pergi, Buck,”kata Thornton. “Kau dan aku,” saat dirinya memutuskan untuk melakukan petualangan yang menjadi cita-cita Tim, anaknya. Bertualangan ke ‘suatu tempat di luar peta’, menemukan sebuah terra incognita. [   ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close