Veritas

Pengalihan Isu Virus Corona, Cina Salahkan Amerika Serikat

Saat jumlah kematian dan panik akibat virus Corona membumbung, rezim Beijing perlu kambing hitam yang bisa dipersalahkan

WASHINGTON—Awal bulan Februari ini, di tengah kepanikan yang terjadi di negara itu dan dunia akan korban virus Corona dan penyebarannya yang massif, Beijing membuka wacana yang tak ada hubungannya dengan pengendalian virus Corona secara medis dan teknologi. Yang ada, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat memproduksi dan menyebarkan kepanikan.

Menurut Gordon Chang, penulis ‘The Coming Collapse of China’, dalam artikelnya di National Interest,  Chunying menyatakan hal itu dalam hubungannya dengan pandemi virus corona, yang kini telah menyebar ke sebagian besar wilayah Cina.

Dalam nada yang sama, Global Times, sebuah tabloid yang dikontrol Partai Komunis Cina (PKC), menuduh AS melakukan tindakan ‘tidak bermoral’. Tabloid itu berulang kali mengklaim bahwa tanggapan Barat terhadap penyakit tersebut diwarnai rasisme dan ‘mitologi bahaya kuning’.

Artikel itu juga menyatakan, merujuk pada wabah H1N1 pada 2009, “AS gagal untuk mengadopsi langkah-langkah pengendalian yang efektif, sehingga menyebabkan virus itu menyebar ke seluruh dunia.” Tulisan Global Times itu jelas kibul bin ngawur. Faktanya, respons AS terhadap virus, yang pertama kali muncul di Meksiko itu umumnya dianggap cepat dan sangat efektif.

Para pimpinan Partai Komunis Cina, dalam sebuah kesempatan

Chunying, yang kita tulis di atas, juga menuduh AS tidak menawarkan bantuan substansial. Hal itu juga seolah pernyataan sambil tidur alias ngelindur, karena kenyataannya Cina pada waktu itu menolak semua tawaran AS selama hampir sebulan penuh. Beberapa jam setelah komentar Chunying tersebut, editor Global Times Hu Xijin, mengejek Presiden Donald Trump, menuduhnya di Twitter bahwa Trump bicara untuk memberikan bantuan tetapi tidak pernah benar-benar melakukannya.

Namun pada saat dakwaan itu dibuat, pemerintah Trump sebenarnya tengah memenuhi badan Boeing 747 dengan peralatan perlindungan biohazard dan pasokan bantuan medis dan kemanusiaan untuk Cina.

Para pemimpin Cina menyerang AS untuk mengalihkan perhatian dari penanganan krisis yang mereka lakukan dakam negeri. Mereka yang ongkang kaki dan woles membiarkan penyakit itu menyebar selama tahap awal, dan sekarang mereka menebus waktu yang hilang itu dengan menerapkan kontrol kejam. Kohesi sosial di daerah-daerah epidemi mulai bubar ketika langkah-langkah yang tidak populer menemui perlawanan. Misalnya, ada gambar pekerja berperalatan biohazard yang berpatroli di Wuhan, berkeliling dengan senapan dan pistol otomatis. Penindasan Partai Komunis terhadap informasi dan upaya untuk menyebarkan narasinya sendiri telah menyebabkan sesuatu yang tak terhindarkan, yakni cepatnya penyebaran desas-desus, terutama yang berkaitan dengan asal mula penyakit.

Pengambinghitaman

Xi Jinping akhir bulan lalu mengambil kredit untuk berupaya melawan epidemi Corona. Tetapi karena yang terbukti hanya kegagalan,  sejak itu ia secara halus telah mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. Akhir Januari, ia membentuk gugus tugas koronavirus. Tetapi tidak seperti badan-badan Partai Komunis lainnya, gugus tugas ini  tidak punya peran. Xi malah meninggalkan kepemimpinan gugus tugas kepada lawan politiknya, Perdana Menteri Li Keqiang, sebagai sebuah langkah nyata untuk menciptakan ‘orang yang gagal’.

Sekarang Xi ngotot agar semua orang diadili. Bulan ini dia berkata,”Wabah itu adalah ujian utama sistem dan kapasitas Cina membangun pemerintahan, dan kita harus merangkum pengalaman dan mengambil pelajaran darinya.”

Para pemimpin Cina, seperti pernah diingatkan Henry Kissinger, menggunakan pelajaran dari sejarah Tiongkok untuk menginformasikan kebijakan saat ini. Xi, oleh karena itu, di benak Xi, pasti terbersit dua ‘acara Wuhan’ saat ini. Pertama, revolusi yang mengakhiri dua ribu tahun pemerintahan kekaisaran dimulai di kota itu pada Oktober 1911. Kedua, diperkirakan 10 ribu penduduk berdatangan ke jalan-jalan Wuhan dalam demonstrasi berskala besar pertama yang diilhami Hong Kong di daratan, pada awal Juli nanti.

Kematian Li Wenliang pada 7 Februari lalu, seorang dokter di Kota Wuhan yang mencoba memperingatkan negara tentang coronavirus, memicu curahan kesedihan dan badai kritik di seluruh kota itu, juga di seluruh platform media sosial Cina. Orang-orang Cina yang kesal mulai mengikuti  para pengunjuk rasa di Hong Kong, dengan mengadopsi lagu yang mereka nyanyikan, ‘Apakah Anda Mendengar Orang-Orang Bernyanyi?’  Secara terbuka, orang-orang Cina mengatakan, melalui lagu dan cara yang lebih langsung, bahwa penyakit sebenarnya di negara mereka adalah pemerintahan Partai Komunis.

Karena itulah penguasa Partai Komunis Cina membutuhkan kambing hitam. Pada saat Cina membutuhkan bantuan melawan virus corona, ia menargetkan satu-satunya negara yang dapat memberikan bantuan paling banyak, AS.

“Xi Jinping dapat mengakhiri penyakit atau mengendalikan narasi,”kata sejarawan Cina Arthur Waldron dari Universitas Pennsylvania. “Namun dia tidak bisa melakukan keduanya secara bersamaan.”

Serangan Beijing kepada AS memperjelas bahwa Xi telah memilih jalan yang salah, dan karenanya saat ini begitu banyak pihak yang menderita tanpa perlu. [NationalInterest]

Back to top button