POTPOURRISolilokui

Dari Dukun ke Makam Keramat [3] Setan Komplek

Entah tahun berapa terjadinya pembunuhan pembelot Belanda itu. Ucup bilang, makam itu benar-benar sudah tua. Bahkan katanya, sejak bapaknya kecil pun makam itu sudah ada. Di sebelahnya, ditumbuhi pohon nangka besar yang ketika berbuah siapa saja boleh ambil.

JERNIH-Awal tahun 1990-an, ketika saya masih kecil, Orang Betawi di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seperti almarhum bapak saya, sering menakuti anaknya yang gak mau mandi sore atau melanggar aturan yang sudah ditetapkan dengan perkataan begini :

“Awas yang ga mau mandi dibawa setan komplek. Ntar malem kakinye dijilatin setan,” kira-kira begitu.

Kisah berikut ini, pernah terjadi waktu saya masih kecil. Namun, demi menjaga perasaan orang-orang yang hendak diceritakan, sengaja disamarkan namanya. Hanya tempatnya saja diulas secara terang benderang.

Jamroni tinggal di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang kini jadi salah satu kawasan perkantoran dan padat penduduk. Waktu itu, awal-awal tahun 1990-an, di sana masih banyak perkampungan dengan rumah-rumah berbahan bambu gedek dan balok kayu. Begitu pula dengan pohon-pohon rindang tinggi besar.

Satu malam, mertua Jamroni menggelar hajatan perkawinan anak paling bontot. Sesuai kesepakatan rapat panitia, diputuskan bahwa hiburan berupa nonton video saja. Dengan tivi 21 inci, satu unit speaker aktif merk TOA, serta alat pemutar kaset video, film-film diputar semalam suntuk.

Pokoknya, hiburan seperti itu sudah termasuk mewah. Kalau dihitung peringkat, dia ada di kelas tiga setelah orkes Melayu atau Orkes Gambus, dan layar tancep. Sementara paling sederhana, memutar lagu-lagu Mashabi dan lagu melayu lainnya cuma pakai tape saja.

Film horor Amerika, Suzzana dan lain sebagainya, dapat giliran diputar sebelum dan setelah lewat tengah malam pada hajatan itu.

Sejak awal, kipas angin tak henti-hentinya gelengkan kepala sambil terus meniup mesin pemutar video.

“Biar engga panas,” kata teknisinya.

Baru dua film selesai diputar, suasana tegang sebab keangkeran sudah merasuk ke pikiran pemirsa. Teknisi minta izin istirahat lantaran mesin pemutar sudah kepanasan. Jamroni kebagian tugas menuang teh panas dengan rasa kurang gula juga kurang tua ke belasan gelas. Maklum saja, segala panganan ringan berkadar gula tinggi. Ada wajik, geplak, kue pepe, kue bugis dan lain sebagainya.

Beberapa orang lainnya, sebab masih terjebak atmosfir film horor, cuma duduk-duduk sambil asik bergunjing soal tempat-tempat angker yang dia tahu. Sambil menggulung rokok lintingan, Marzuki Jusuf atau Ucup sudah sejak sebelumnya membuka kisah soal siapa sebenarnya yang dimakamkan di samping pabrik tempe.

Saban hari, Ucup sebenarnya berprofesi sebagai tukang pijat. Dia paham betul soal rempah-rempah untuk diramu menjadi obat tradisional. Soal anak sakit dan nangis tak henti-henti misalnya, cuma dengan bawang merah saja dia bisa bikin anak itu tertidur pulas.

Sebab penghasilannya sebagai tukang pijat dirasa kurang, akhirnya dia membungkus profesinya dengan label dukun. Banyak yang percaya kepadanya dan sering minta obat juga amalan kepada dia. Tiap hari pula, Ucup selalu berpakaian serba putih. Celana pangsi putih, kaos atau baju koko putih, dan peci putih.

“Orang Belanda, dari Kota. Dulu termasuk benteng Batavia,” kata Ucup.

“Pokoknya waktu ane masih kecil itu keramat (kuburan orang Belanda) udah ade,” lanjutnya.

“Jadi dulu, itu Belanda ngebelot dari kompeni. Dia belain orang Cina pas pemberontakan di Batavia. Kabur lewat pintu belakang rumah, terus masuk Glodok, terus masuk hutan sampe sini. Di sini die ketemu orang kampung. Sampai akhirnye kawin sama orang sini. Dia masuk Islam.

Dulu, baru dia yang bisa bikin sistem pengairan supaya sawah-sawah yang sekarang jadi Kantor Camat kebagian air. Jasanya gede,” Ucup berhenti sejenak, menyeruput teh panas kemudian menghisap rokok yang sudah dilinting.

“Cuma belakangan,” lanjutnya sambil tarik nafas.

“Ada penyusup masuk kampung terus nemuin dia. Matilah dia dibunuh. Nah, itu yang dikerangkengin model rumah itu kuburannya,” kata Suaeb menyela penuturan Ucup sesuai dongeng tutur yang dia dapat.

“Yang di samping pabrik tempe Tasilem ?” tanya Jamroni.

“Persis,” sahut Ucup sambil acungkan telunjuk juga jempol membentuk pistol.

Entah tahun berapa terjadinya pembunuhan pembelot Belanda itu. Ucup bilang, makam itu benar-benar sudah tua. Bahkan katanya, sejak bapaknya kecil pun makam itu sudah ada. Di sebelahnya, ditumbuhi pohon nangka besar yang ketika berbuah siapa saja boleh ambil.

Tak tahu siapa yang memulai. Gosipnya, si Belanda mati penasaran. Sebab belum waktunya dia mati, tapi nyawanya dicabut duluan oleh dua orang penyusup tadi. Arwahnya kini gentayangan.

Awalnya, menurut cerita yang beredar, makam si Belanda dibuatkan kerangkeng dengan atap berukir. Tiap sisinya, ditutupi rapat-rapat dengan kawat nyamuk juga kain putih. Katanya, agar tak ada yang bisa melangkahi apalagi menginjak, juga sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Dilakukannya pekerjaan ini, agar arwah si Belanda senang kuburannya bagus dan tak penasaran lagi. Hampir tiap malam, ada saja orang berdoa di situ supaya almarhum pulang ke Pemiliknya. Tiga bulan sekali, kain putih diganti.

Waktu jalan terus. Tahun juga datang bergantian. Entah sudah berapa lama makam itu ada di situ. Orang-orang sudah tak lagi mendoakan. Kain putihnya pun tak pernah diganti.

“Iya sih, waktu ane kecil juga emang itu kuburan udah ada. Kain putih juga masih ada, cuma udah rombeng. Jelek banget. Kayanya emang ga pernah diganti udah kelamaan,” timpal Manhajir.

“Dulu ane waktu kecil, babe suka bilang diculik setan komplek kalo ga mau mandi,” lanjut dia.

Spekulasi berkembang. Tebak-tebakan tapi seolah yakin, apa betul arwah si Belanda itu penasaran dan memilih anak kecil sebagai mangsanya ? Soalnya, bukan cuma Ucup, Manhajir atau Jamroni yang tahu ungkapan itu. Semua orang di sana pernah mendengarnya.

Muhib yang berusia belum sampai 10 tahun pun tahu soal itu. Dia sering dengar bapaknya teriak mengucapkan : “Awas dibawa setan komplek,” kalau aturan dilanggar.

Di malam pesta perkawinan itu, Muhib tertidur pulas berkasur bangku tamu dekat meja prasmanan. Sedangkan sepasang pengantin yang tadi pagi ucapkan janji setia sehidup semati, sudah pamit tidur duluan sejak tamu mulai habis kira-kira jam 11 malam.

“Ane pernah denger cerita juga sih, kalo Belanda itu punya anak dibunuh duluan di depan matanya. Baru kira-kira setengah jam, habis disiksa die nyusul dibunuh,” kata Ucup dominan.

“Ente pernah liat bang ?” kata Manhajir.

“Siapa? Ane? Liat arwahnya?” sahut Ucup.

“Ane sih ga pernah liat, tapi dulu ada orang Kuningan main kemari dikasih liat. Rupanya ya kaya Meneer jaman dulu. Pakai jas, pakai sepatu, pakai jam tangan juga. Mungkin karena dia orang kota, tinggal di rumah gedong, pakai jas, terus mati dibunuh jadi ya begitu rupa arwahnya. Mukanya pucat. Kalo bule pucat sih wajar, tapi ini pucat mayat yang udah kaku,” lanjutnya.

“Kaya yang di film barusan dong?” tanya Jamroni.

“Persis,” sahut Ucup sekali lagi sambil acungkan tangan membentuk pistol.

Tiba-tiba, listrik padam seketika. Blub. Di dekat pesawat tipi, sang teknisi manyun mulutnya lantaran salah colok kabel lantas konsleting.

“Ups,” katanya.

“Yah ditandain itu omongan,” kata Manhajir.

“Maksud lu?” tanya Jamroni.

“Orang tua bilang, kalo kita lagi ngomongin apa-apaan terus ada kejadian ga wajar, itu namanya ditandain sama yang diomongin,” jelas Manhajir.

**

Patut diakui, soal bikin film Amerika jagonya. Pemirsa, dijamin mau dibohongi habis-habisan berjam-jam. Soal tentara misalnya. Menurut film Rambo, prajurit Paman Sam itu hebat-hebat. Satu orang saja, sudah cukup menggerus sekompi pasukan Vietkong. Begitu pun Marzuki Jusuf atau Ucup. Kalau dia sudah cerita, semua terkesima. Mungkin karena label dukun sudah menggeser predikat tukang pijat yang pernah dia sandang.

Cerita soal setan komplek menjadi penutup hajatan malam itu. Sedangkan konsletnya listrik, menjadi bumbu yang memicu terganggunya akal sehat.

“Terus, bininya itu Belanda kemana ya ?” tanya Jamroni.

Ucup tak memberi jawaban lisan. Dia cuma angkat kedua bahu, menurunkan dua sudut bibir, tengadahkan tangan sambil memiringkan kepala ke sebelah kiri. Dia tak tahu. Bahkan tak ada satu pun yang bisa menjelaskan secara terang benderang, lengkap dengan bukti-bukti empiris.

“Bisa jadi lantaran kita berhenti ngedoain dan ganti kain putihnya, dia gentayangan lagi,” kata Jamroni.

Jarum jam di tembok depan rumah, sudah menunjuk angka 03.15. Satu persatu, peserta gunjing soal setan komplek pamit pulang. Manhajir ke arah utara, Ucup ke arah timur, sedang Jamroni dan teknisi masih setia di tempatnya lantaran kudu membenahi peralatan pesta.

Sementara itu, Muhib masih tertidur pulas dengan bangku tamu hajatan sebagai kasurnya. Sesekali, dia mengigau soal layangannya yang nyangkut di kabel listrik. Tangan kanannya, terus melakukan gerakan seperti menarik benang. Sebenarnya dia pegang ujung taplak meja. Ditarik-tarik, hingga isinya pun tumpah ke bawah.

“Prangngng,” piring gelas juga sendok makan berjatuhan ke lantai. Sedang Muhib, terus lanjutkan mimpinya.

Menuju rumah, Ucup harus melintasi jalan setapak belakang Masjid. Di situ, ada areal pemakaman tua dengan beberapa pohon kapuk tinggi besar.

Dari gosip yang beredar, pohon kapuk di depan sebuah rumah yang ada pabrik tahunya di seberang areal pemakaman, terkenal angker dengan penghuni setan gepeng. Katanya, dia perempuan dengan muka rata. Tanpa hidung, mata juga mulut. Kalau tertawa, melengking bak jeritan rocker.

Kaki terus dilangkahkan, meski hati kecilnya terus bilang sebaiknya kembali saja ke rumah mertua Jamroni tempat pesta perkawinan digelar, dan tunggu sampai Adzan Subuh berkumandang. Tapi gengsinya sebagai dukun, jauh lebih besar ketimbang itu.

Biarpun bertampang sangar dan kalau ngomong selalu terdengar penuh keyakinan, ada rasa takut yang diproduksi pikiran kemudian mempengaruhi perasaannya sendiri. Tak hentinya dia terbayang rupa setan komplek yang digambarkan sendiri, kemudian dituturkan kepada teman-temannya di lokasi hajatan.

Awalnya dia berusaha mempengaruhi orang lain. Tapi kini, malah dirinya yang terpengaruh dengan perkataan sendiri. Semakin menolak, alam bawah sadarnya justru terus memicu munculnya bayangan setan. Pertama setan komplek, kedua setan gepeng. Terus bergantian hingga campur aduk di dalam pikirannya sendiri.

Khayalannya itu, justru mensinkronkan pikiran dan perasaannya hingga memicu rasa takut yang terus membesar. Konsentrasi pada kenyataan makin menipis setiap detiknya, sampai tibalah dia pada ke-alpa-an.

Logika Marzuki Jusuf atau Ucup, mendorong agar dia berani dengan mengatakan dalam hati bahwa tak ada makhluk begituan. Sementara ke-alpa-an, justru berkadar lebih besar hingga terus mensugesti dirinya. Dalam kondisi pikiran dengan kadar ketakutan lebih banyak ketimbang berani, bayangan setan gepeng terus dikonstruksi. Makin dia menolak takut, bayangan makin jelas tergambar.

Tibalah dia persis di depan rumah yang ada pabrik tahu dan berhadapan langsung dengan pohon kapuk. Di sinilah puncak sugestinya. Sesosok tubuh berpakaian gombrong putih berlumur tanah turun ke bawah. Pelan-pelan dan makin terlihat jelas, menuruni pohon tanpa berpegangan.

Pikiran sudah tersugesti, akhirnya menipu pikiran sendiri. Ucup lari tunggang langgang sambil teriak : “Setaaaaaaaaannnnn,” sekencang-kencangnya.[]

Bersambung

Back to top button