Crispy

232 Nelayan Gaza Tewas, Sektor Perikanan Nyaris Musnah Total Akibat Serangan Israel

JERNIH – Laut yang seharusnya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi zona maut bagi warga Palestina. Sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh sedikitnya 232 nelayan, sebuah angka yang mengonfirmasi kehancuran total salah satu pilar ekonomi terpenting di wilayah kantong tersebut.

Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak Oktober lalu, serangan terhadap nelayan tidak menunjukkan tanda-tengah berhenti. Insiden terbaru terjadi pada Minggu (4/1/2026), ketika kapal angkatan laut Israel melepaskan tembakan di lepas pantai Khan Younis, selatan Gaza.

Laporan dari Al-Araby Al-Jadeed mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan seorang nelayan bernama Abdul Rahman Abdul Hadi al-Qan dan melukai rekan lainnya saat mereka sedang mencari nafkah di dekat bibir pantai.

Koordinator komite nelayan Palestina di Persatuan Kerja Pertanian, Zakaria Bakr, menyatakan bahwa agresi terhadap nelayan dilakukan secara konsisten dan sistematis. Selain korban jiwa, Israel juga melakukan penahanan sepihak.

“Sejak gencatan senjata diberlakukan, setidaknya 28 nelayan telah ditahan secara sewenang-wenang. Serangan-serangan ini telah menghancurkan lebih dari 95 persen sektor perikanan di Gaza,” tegas Bakr kepada Al-Araby Al-Jadeed.

Data menunjukkan bahwa dari 232 nelayan yang tewas, sebanyak 67 di antaranya menjadi sasaran langsung saat berada di atas perahu mereka di tengah laut.

Sebelum perang berkecamuk, nelayan Gaza menggantungkan hidup pada tangkapan kepiting biru, yang dikenal secara lokal sebagai “Emas Biru”. Musim kepiting yang berlangsung dari September hingga November biasanya menjadi masa panen raya yang menyejahterakan ribuan keluarga.

Namun, selama dua tahun terakhir, musim “Emas Biru” tersebut hilang sama sekali. Pembatasan zona tangkap dan risiko serangan membuat nelayan tidak bisa mencapai wilayah perairan yang lebih dalam, tempat di mana kepiting-kepiting tersebut berada.

Akses nelayan Gaza terhadap laut telah dibatasi selama puluhan tahun. Berdasarkan Perjanjian Oslo 1993, nelayan seharusnya diizinkan melaut hingga 20 mil laut. Namun, Israel terus mempersempit ruang gerak tersebut menjadi hanya 3 hingga 12 mil laut, dan seringkali menutup akses pantai sepenuhnya dengan alasan keamanan.

Penutupan akses laut ini bukan sekadar masalah kedaulatan, melainkan upaya sistematis yang merampas hak warga Gaza atas sumber pangan mandiri di tengah kondisi kemanusiaan yang kian memprihatinkan.

Hingga saat ini, perang dua tahun di Gaza telah merenggut lebih dari 70.000 nyawa warga Palestina. Bagi para nelayan yang tersisa, setiap kali mereka menurunkan jaring ke laut, mereka tidak hanya bertaruh untuk mendapatkan ikan, tetapi juga bertaruh nyawa di bawah moncong meriam kapal perang Israel.

Back to top button