CrispyDesportare

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Ini Dia Empat Timnas yang Dijuluki Underdog

Dari negara kepulauan kecil dengan populasi minimalis hingga kembalinya sang raksasa tidur setelah penantian setengah abad, tim-tim underdog ini datang bukan untuk menjadi pelengkap grup.

WWW.JERNIH.CO –  Di balik megahnya stadion-stadion di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ada sekelompok tim non-unggulan yang siap memikat hati para pencinta sepak bola lewat status mereka sebagai underdog.

Berikut adalah bedah kekuatan, kelemahan, peringkat FIFA, serta alasan mengapa 4 tim ini disebut sebagai kriket di tengah gemuruh gajah pada Piala Dunia 2026.

Curaçao

Curaçao resmi menjadi negara dengan populasi terkecil dalam sejarah yang berhasil lolos ke Piala Dunia (sekitar 150.000 penduduk). Lolos dari kualifikasi zona CONCACAF dengan mendepak tim mapan seperti Jamaika, tim kepulauan Karibia ini siap menghadirkan kejutan.

  • Peringkat FIFA: 82
  • Alasan Menjadi Underdog: Minimnya pengalaman di turnamen besar dan populasi yang sangat kecil membuat mereka dipandang sebelah mata oleh tim-tim raksasa.
  • Kekuatan: Kedekatan historis dengan Belanda membuat mayoritas skuad mereka diisi oleh pemain keturunan yang berkompetisi di liga-liga profesional Eropa (Eredivisie). Mereka memiliki teknik individu yang solid dan fisik yang atletis.
  • Kelemahan: Kedalaman skuad yang sangat tipis. Jika ada satu atau dua pemain kunci yang cedera atau terkena akumulasi kartu, kualitas permainan mereka akan merosot tajam.

Selandia Baru

Setelah bertahun-tahun harus melewati babak play-off antarkonfederasi yang melelahkan, Selandia Baru akhirnya mendapat keuntungan dari jatah tiket otomatis zona Oseania (OFC). Skuad berjuluk The All Whites ini datang ke Amerika Utara dengan peringkat FIFA paling rendah di antara kontestan lainnya.

  • Peringkat FIFA: 86
  • Alasan Menjadi Underdog: Rekor kompetitif mereka di luar zona Oseania sangat minim. Mereka jarang menguji kekuatan melawan tim-tim papan atas Eropa atau Amerika Selatan dalam laga resmi.
  • Kekuatan: Kolektivitas tim yang sangat kuat dan keunggulan fisik dalam bola-bola mati. Striker jangkung dan berpengalaman seperti Chris Wood menjadi tumpuan utama untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui duel udara.
  • Kelemahan: Kreativitas di lini tengah yang sangat terbatas. Mereka sering kesulitan memegang penguasaan bola saat berhadapan dengan tim yang mengandalkan garis pertahanan tinggi (high-pressing).

Haiti

Haiti mencatat kembalinya mereka ke panggung Piala Dunia setelah penantian panjang selama 52 tahun, di mana penampilan perdana dan terakhir mereka terjadi pada tahun 1974. Keberhasilan mereka lolos dari zona CONCACAF menjadi cerita emosional tersendiri.

  • Peringkat FIFA: 84
  • Alasan Menjadi Underdog: Ketidakstabilan kondisi domestik di dalam negeri membuat persiapan tim sering terganggu, ditambah dengan absennya mereka dari turnamen elit global selama setengah abad.
  • Kekuatan: Kecepatan, daya juang yang luar biasa, dan serangan balik yang sangat mematikan. Para pemain depan mereka memiliki kelincahan alami yang sering merepotkan bek-bek berpostur besar.
  • Kelemahan: Organisasi pertahanan yang rapuh. Mereka kerap kehilangan konsentrasi di menit-menit akhir pertandingan dan sering melakukan pelanggaran tidak perlu di area berbahaya.

Irak

Irak berhasil lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1986 setelah melewati rute kualifikasi terpanjang di Asia (21 pertandingan). Di bawah asuhan pelatih berpengalaman Graham Arnold, tim berjuluk Singo Mesopotamia ini siap membuktikan diri.

  • Peringkat FIFA: Kisaran 60–70 besar
  • Alasan Menjadi Underdog: Mayoritas pemainnya berkompetisi di liga lokal yang secara kualitas kompetisinya dinilai masih jauh di bawah standar liga-liga top dunia.
  • Kekuatan: Taktik pragmatis yang sangat disiplin di bawah Graham Arnold. Mereka mampu bermain dengan pertahanan berlapis yang rapat (compact low-block) dan sangat klinis ketika mendapatkan peluang lewat penyerang andalan mereka, Aymen Hussein.
  • Kelemahan: Transisi dari bertahan ke menyerang yang terkadang terlalu lambat. Melawan tim dengan intensitas tinggi seperti tim-tim Eropa, aliran bola mereka rawan terputus di lini tengah.

Di turnamen dengan format baru yang melibatkan babak gugur 32 besar, satu hasil imbang atau kemenangan tak terduga dari tim-tim underdog ini sudah cukup untuk mengacaukan prediksi di atas kertas dan menciptakan dongeng baru sepak bola.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] AS Beri Visa Kepada Pemain Sepak Bola Iran

Back to top button