SolilokuiVeritas

Kaya Raya atau Kaya Dosa?: Pelajaran dari Dua Nabi yang Kaya dan Berkuasa

Masalah utama dalam banyak kasus korupsi bukanlah kebutuhan, melainkan keserakahan. Ada orang yang sudah memiliki rumah mewah tetapi masih ingin lebih mewah. Sudah memiliki kekayaan besar tetapi masih ingin menambahnya dengan cara apa pun. Bahkan ada yang rela mengkhianati kepercayaan publik demi keuntungan pribadi. Mereka selalu merasa “kurus” (kurang terus), sampai Izrail menarik utas nyawa mereka dengan keras dan pedih, sampai neraka mendengar jeritan kesakitan itu.  

Oleh     : Priatna Agus Setiawan   

JERNIH–Setiap kali kasus korupsi mencuat, rakyat hanya bisa menggelengkan kepala. Nilai kerugian negara yang mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah seolah menjadi berita yang berulang. Ironisnya, sebagian pelaku adalah mereka yang pernah dipercaya memegang jabatan penting di pemerintahan, BUMN, maupun perusahaan swasta.

Sangat miris memang. Hampir setiap kali masyarakat mulai berharap pada lahirnya pemerintahan yang bersih, kasus dugaan penyalahgunaan jabatan kembali mencuat ke permukaan. Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh penetapan tersangka terhadap sejumlah mantan pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung, sehari setelah dicopot oleh Presiden Prabowo Subianto. Peristiwa tersebut kembali mengingatkan kita bahwa jabatan yang seharusnya menjadi amanah untuk melayani rakyat sering kali tergoda untuk dijadikan alat mengejar kepentingan pribadi dan kelompok. Ketika amanah berubah menjadi kesempatan memperkaya diri, yang dirugikan bukan hanya keuangan negara, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik.

Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi alat memperkaya diri. Kekuasaan yang semestinya digunakan untuk melayani masyarakat justru dipakai untuk mengamankan proyek, memperluas pengaruh, dan mengumpulkan kekayaan pribadi. Akibatnya, masyarakat semakin sulit membedakan antara orang yang benar-benar sukses dan orang yang sekadar kaya.

Padahal, tidak semua kekayaan adalah kesuksesan. Ada kekayaan yang lahir dari kerja keras, kejujuran, dan pengabdian. Namun ada pula yang dibangun melalui korupsi, suap, kolusi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, bahkan kebijakan yang merugikan rakyat demi keuntungan segelintir orang.

Di tengah realitas tersebut, kisah Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman menjadi sangat relevan. Dalam buku “Berburu Warisan Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman: Mengintip 10 Kunci Sukses Meraup Kekayaan Sejati ala Para Nabi”, Muhammad Gufron Hidayat mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan sekadar akumulasi harta, melainkan perpaduan antara integritas, ilmu, kepemimpinan, ketekunan, rasa syukur, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Ketika Jabatan Menjadi Amanah

Nabi Yusuf pernah memegang posisi strategis dalam pemerintahan Mesir. Dalam istilah modern, beliau dapat disebut sebagai pemimpin bidang ekonomi dan logistik negara. Beliau memiliki akses terhadap kekuasaan dan sumber daya yang sangat besar. Namun tidak ada satu pun kisah yang menunjukkan bahwa jabatan tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Sebaliknya, Nabi Yusuf memanfaatkan kewenangannya untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman krisis pangan yang berkepanjangan.

Bandingkan dengan sebagian realitas yang terjadi saat ini. Tidak sedikit pejabat yang menyalahgunakan kewenangan untuk mengatur proyek, memperdagangkan pengaruh, atau mengambil keuntungan dari kebijakan yang dibuatnya sendiri. Padahal, jabatan publik bukanlah alat mencari kekayaan. Jabatan adalah amanah yang suatu saat harus dipertanggungjawabkan.

Muhammad Gufron Hidayat menempatkan amanah dan profesionalisme sebagai salah satu warisan terbesar Nabi Yusuf. Nilai seseorang bukan terletak pada tinggi rendah jabatannya, melainkan pada kemampuannya menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Ketika Keserakahan Mengalahkan Akal Sehat

Masalah utama dalam banyak kasus korupsi bukanlah kebutuhan, melainkan keserakahan. Ada orang yang sudah memiliki rumah mewah tetapi masih ingin lebih mewah. Sudah memiliki kekayaan besar tetapi masih ingin menambahnya dengan cara apa pun. Bahkan ada yang rela mengkhianati kepercayaan publik demi keuntungan pribadi. Mereka selalu merasa “kurus” (kurang terus), sampai Izrail menarik utas nyawa mereka dengan keras dan pedih, sampai neraka mendengar jeritan kesakitan itu.  

Dalam dunia bisnis pun praktik serupa tidak jarang terjadi. Sebagian pihak berusaha memenangkan proyek melalui suap, manipulasi, atau kedekatan dengan pengambil keputusan, bukan melalui kompetensi dan kualitas. Keuntungan mungkin diperoleh. Namun pertanyaannya, apakah itu benar-benar dapat disebut sebagai kekayaan?

Jika harta diperoleh dengan merugikan masyarakat dan merampas hak orang lain, maka yang bertambah bukan hanya saldo rekening, tetapi juga beban moral dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kaya, Berkuasa, Tetapi Tetap Bersyukur

Nabi Sulaiman menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memusuhi kekayaan. Beliau adalah sosok yang dianugerahi kerajaan besar, kekuasaan luas, dan kekayaan yang luar biasa.

Namun semakin besar nikmat yang diterimanya, semakin besar pula rasa syukurnya. Nabi Sulaiman menyadari bahwa semua yang dimilikinya hanyalah karunia Allah yang harus digunakan untuk kemaslahatan. Inilah yang membedakan kekayaan yang diberkahi dengan kekayaan yang menjerumuskan.

Dalam bukunya, Muhammad Gufron Hidayat menjelaskan bahwa salah satu warisan terbesar Nabi Sulaiman adalah kemampuan memadukan kekayaan dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Harta dan kekuasaan tidak membuat beliau lupa diri, tetapi justru semakin sadar bahwa semuanya adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Ukuran keberhasilan akhirnya bukan terletak pada seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil diberikan.

Lima Pertanyaan untuk Para Pemegang Amanah

Setiap pemimpin, pejabat, pengusaha, dan profesional layak bertanya kepada dirinya sendiri:

1.       Apakah kekayaan yang saya miliki diperoleh dengan cara yang halal dan bermartabat?

2.      Apakah keputusan yang saya ambil menguntungkan masyarakat atau hanya kelompok tertentu?

3.      Apakah jabatan yang saya pegang menjadi sarana pengabdian atau alat memperkaya diri?

4.      Apakah saya siap mempertanggungjawabkan amanah ini di hadapan Allah?

5.      Jika jabatan saya hilang hari ini, apakah nama baik saya tetap dihormati?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar menghitung jumlah aset dan saldo rekening.

Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman tidak dikenang karena banyaknya harta yang mereka miliki. Mereka dikenang karena integritas, kebijaksanaan, dan manfaat yang diberikan kepada umat manusia. Sebaliknya, banyak orang kaya dan berkuasa dalam sejarah justru dikenang karena keserakahan dan kerusakan yang ditinggalkannya.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia juga tidak kekurangan orang kaya. Yang masih sangat dibutuhkan adalah pemimpin yang amanah, pejabat yang jujur, pengusaha yang berintegritas, dan profesional yang menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Sebab pada akhirnya, ukuran sukses bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita ambil dari negeri ini, melainkan seberapa besar yang berhasil kita berikan untuk negeri ini.

Itulah warisan sejati Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman: bukan emas, istana, atau kekuasaan, melainkan karakter yang membuat seseorang tetap mulia, baik ketika memegang jabatan maupun setelah jabatan itu hilang.[]

Back to top button