CrispyVeritas

Ambisi Trump Caplok Greenland: Lonceng Kematian NATO dan Kembalinya Hukum Rimba Global

Dunia sedang menyaksikan pergeseran tektonik dalam politik global di mana kekuatan otot mulai menggantikan diplomasi. Setelah Venezuela, kini guncangan mulai terasa ke benua Eropa yang ikut mengancam keberadaan NATO.

JERNIH – Keberhasilan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026 ternyata hanyalah “pemanasan”. Kini, mata dunia tertuju pada target berikutnya yang jauh lebih ekstrem: aneksasi Greenland. Para pakar memperingatkan bahwa langkah ini bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan lonceng kematian bagi aliansi NATO dan tatanan keamanan pasca-Perang Dunia II.

“Kami sangat membutuhkan Greenland. Kami membutuhkannya untuk pertahanan,” tegas Trump kepada The Atlantic, tak lama setelah operasi militer di Caracas sukses. Pernyataan ini didukung oleh Deputi Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller, yang menyebut bahwa menjadikan Greenland sebagai bagian dari Amerika Serikat adalah posisi resmi pemerintah saat ini.

Rencana aneksasi ini menciptakan paradoks keamanan yang mematikan. Jika Amerika Serikat menggunakan kekuatan militer untuk mencaplok Greenland—wilayah otonom milik Denmark—maka AS secara teknis menyerang sesama anggota NATO.

“Jika Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang negara NATO lainnya, maka semuanya akan berhenti—termasuk NATO dan keamanan dunia pasca-Perang Dunia II,” ujar Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, dengan nada getir.

Pakar hubungan internasional, Anna Wieslander, sepakat bahwa skenario terburuk ini akan melumpuhkan Pasal 5 NATO tentang pertahanan kolektif. “NATO akan menjadi bayangan dari dirinya sendiri. Aliansi ini akan hancur total,” tambah Profesor John Mearsheimer dari Chicago University.

Hadiah Terbesar untuk Putin

Para analis menilai bahwa langkah agresif Trump di Greenland adalah “kado” terbesar bagi Moskow. Dengan melemahnya NATO, posisi Rusia di Ukraina akan semakin kuat. Ideologi bahwa negara besar boleh melakukan apa saja di “halaman belakang” mereka sendiri—seperti yang dilakukan AS di Venezuela—sangat sesuai dengan kepentingan Vladimir Putin.

Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, dalam sebuah simposium pekan ini memperingatkan bahaya hilangnya nilai-nilai bersama. “Kita harus mencegah dunia berubah menjadi sarang perampok, di mana pihak yang paling tidak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan,” tegasnya.

Trump tidak hanya mempertimbangkan kekuatan militer. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Washington tengah mengkaji opsi “menyuap” warga Greenland dengan uang tunai berkisar antara $10.000 hingga $100.000 (sekitar Rp150 juta – Rp1,5 miliar) per kapita agar mau bergabung dengan AS.

Selain itu, AS diduga mulai bermain di ranah domestik dengan mendukung gerakan otonomi di Greenland agar mereka bernegosiasi langsung dengan Washington tanpa melibatkan Denmark. Pele Broberg, pemimpin partai oposisi utama di Greenland, secara terbuka menyerukan agar Copenhagen tidak menghalangi dialog langsung antara negaranya dan Amerika Serikat.

Mengapa Greenland Begitu Berharga?

Bagi Trump, ini bukan sekadar soal kebanggaan, melainkan keamanan ekonomi dan militer:

  • Rute Pelayaran Baru: Mencairnya es di Kutub Utara (Arktik) membuka jalur perdagangan strategis yang volumenya meningkat sembilan kali lipat dalam satu dekade terakhir.
  • Sumber Daya Alam: Greenland dianggap sebagai salah satu sumber mineral langka (rare earth) terbesar yang sangat dibutuhkan industri teknologi dan senjata.
  • Dominasi Arktik: Siapa pun yang menguasai Greenland, ia menguasai gerbang utara dunia, mengungguli persaingan dengan Rusia dan China di wilayah Arktik.

Eropa kini berada di persimpangan jalan. Antara terus mencoba merayu Trump agar tetap dalam aliansi, atau mempersiapkan diri untuk perpecahan total dengan Amerika Serikat. Prancis bahkan telah memberikan sinyal keras dengan mengirimkan kapal selam nuklir ke perairan dekat Kanada sebagai pengingat akan kedaulatan wilayah mereka di wilayah tersebut.

Back to top button