Ancaman Sabotase Kabel Bawah Laut Iran Berisiko Runtuhnya Ekonomi Global $10 Triliun Per Hari

Iran secara geografis memegang kendali atas rute-rute vital di Selat Hormuz dan Teluk Oman. Setelah berhasil mengganggu lalu lintas pengapalan, Teheran kini memiliki kartu truf lain: serangan terhadap infrastruktur bawah laut.
JERNIH – Di tengah kecemasan dunia terhadap blokade Selat Hormuz terkait pasokan minyak mentah, sebuah ancaman yang jauh lebih mengerikan kini mengintai dari dasar samudra. Di bawah ombak Laut Merah dan Teluk Persia, terbentang jaringan kabel serat optik yang menjadi “tulang punggung” peradaban digital modern.
Jika Iran memutuskan untuk memutus kabel-kabel ini sebagai bagian dari perang asimetrisnya melawan Amerika Serikat dan sekutunya, dunia bukan hanya akan gelap gulita secara informasi, tetapi juga lumpuh secara finansial.
Data menunjukkan bahwa kabel bawah laut membawa lebih dari 99% lalu lintas digital internasional dan memfasilitasi transaksi keuangan harian senilai lebih dari $10 triliun (sekitar Rp160.000 triliun). Angka ini setara dengan denyut nadi ekonomi global yang melintasi 1,5 juta kilometer kabel bawah laut.
Iran secara geografis memegang kendali atas rute-rute vital di Selat Hormuz dan Teluk Oman. Setelah berhasil mengganggu lalu lintas pengapalan, Teheran kini memiliki kartu truf lain: serangan terhadap infrastruktur bawah laut.
Strategi ini disebut sebagai Hybrid Warfare atau perang zona abu-abu. Iran tidak perlu meluncurkan rudal balistik yang mahal untuk melumpuhkan musuhnya; cukup dengan memutus kabel serat optik setebal pergelangan tangan manusia, mereka dapat menyebabkan gangguan massal dari Mumbai hingga Frankfurt dalam hitungan menit.
Kabel-kabel ini adalah “perut lunak” dari ekonomi dunia. Terbungkus dalam pelindung baja dan isolasi plastik, serat-serat optik di dalamnya mampu mentransmisikan data dengan kecepatan 180.000 mil per detik. Namun, karena lokasinya yang statis dan sulit diawasi terus-menerus, mereka menjadi target empuk bagi aktor negara maupun kelompok proksinya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pada 6 September 2025, gangguan besar dilaporkan terjadi pada beberapa kabel serat optik di dekat Jeddah, Arab Saudi. Dampaknya instan: internet di India, Pakistan, dan UEA mengalami lonjakan latensi yang parah. Microsoft bahkan mengonfirmasi adanya masalah konektivitas global.
Jauh sebelumnya, pada Februari 2024, pemutusan kabel di Laut Merah diduga kuat merupakan ulah pemberontak Houthi di Yaman—proksi utama Iran. Meski Houthi membantah, insiden tersebut menegaskan bahwa kabel bawah laut kini menjadi instrumen politik yang nyata di zona konflik.
Setidaknya ada lebih dari 20 kabel serat optik utama yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah. Sistem kabel raksasa seperti AAE-1, FALCON, dan GBI adalah jalur utama yang menghubungkan negara-negara Teluk, India, hingga Afrika Timur dengan Eropa.
Eskalasi konflik antara AS-Israel melawan Iran telah menghentikan berbagai proyek ambisius di kawasan tersebut, antara lain SilkLink berinvestasi di Arab Saudi senilai $800 juta untuk jaringan kabel sepanjang 4.500 km. Ada juga Fiber in the Gulf (FIG), koridor kabel Qatar senilai $500 juta yang menghubungkan Teluk Oman menuju Prancis via Irak dan Turki.
Termauk Gulf2Africa (2Africa), proyek raksasa konsorsium Meta yang diproyeksikan membawa internet cepat bagi tiga miliar orang di Afrika dan Asia. Semua investasi bernilai miliaran dolar ini kini berada dalam status “siaga merah” karena posisi geografis Iran yang mampu menjangkau infrastruktur dasar laut tersebut kapan saja.
Jika kabel-kabel ini diputus, dampaknya akan sangat destruktif bagi militer AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) akan kehilangan jalur komunikasi utama dan terpaksa bergantung pada satelit cadangan yang memiliki bandwidth terbatas.
Secara ekonomi, keterlambatan dalam penyelesaian perbankan internasional akan memicu kekacauan pasar modal. Layanan cloud yang digunakan oleh rumah sakit, maskapai penerbangan, hingga jaringan listrik nasional akan mengalami degradasi layanan yang membahayakan nyawa dan stabilitas negara.
Hingga saat ini, belum ada otoritas regulasi internasional yang secara khusus mengawasi keamanan kabel bawah laut. Meskipun para ahli mengusulkan pembentukan “Zona Perlindungan Kabel” yang melarang penjangkaran dan penangkapan ikan di area tertentu, implementasinya sangat sulit.
Negara-negara besar seperti AS, Rusia, China, dan India jarang sekali berada di frekuensi yang sama untuk menyepakati perjanjian yang mengkriminalisasi campur tangan asing terhadap kabel bawah laut. Inilah yang dimanfaatkan Iran. Dengan tidak adanya hukum yang tegas, mereka dapat melakukan sabotase tanpa harus memicu perang terbuka secara langsung.
Dunia saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang ancaman minyak, tetapi tentang kedaulatan data. Iran, dengan keuntungan geografisnya di pesisir utara Selat Hormuz, memegang kendali atas “saklar internet” dunia.
Langkah-langkah seperti kontrol dasar laut (seabed controls) dan kemampuan identifikasi cepat (rapid attribution) memang terus didorong oleh negara-negara Barat. Namun, tantangannya adalah bagaimana merespons sebelum kabel-kabel tersebut “padam”.
Di tengah ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah, publik global kini harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk: sebuah pagi di mana internet tidak lagi berfungsi, transaksi perbankan membeku, dan dunia kembali ke era sebelum digital—semuanya karena beberapa kabel serat optik di dasar Teluk Persia yang terputus.






