SolilokuiVeritas

80.000 Koperasi dan Ancaman Wayang Tanpa Dalang

Apa yang membuat sebuah koperasi benar-benar hidup? Pertanyaan itu menjadi sangat penting ketika Indonesia sedang membangun sekitar 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Delapan puluh ribu adalah angka yang besar. Tetapi justru karena besar, pertanyaannya tak boleh berhenti pada: berapa koperasi yang berhasil didirikan? Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa yang kelak benar-benar hidup?

Oleh     :  Agus Pakpahan*

JERNIH– Apa yang membuat sebuah koperasi benar-benar hidup? Bukan sekadar punya papan nama. Bukan karena gedungnya berdiri, pengurusnya lengkap, anggotanya tercatat, atau modalnya tersedia. Sebuah koperasi baru bisa disebut hidup ketika ia mampu bertahan setelah bantuan berhenti, tumbuh ketika keadaan berubah, dan—yang paling penting—membuat kehidupan anggotanya menjadi lebih baik.

Pertanyaan itu menjadi sangat penting ketika Indonesia sedang membangun sekitar 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Delapan puluh ribu adalah angka yang besar. Tetapi justru karena besar, pertanyaannya tak boleh berhenti pada: berapa koperasi yang berhasil didirikan? Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa yang kelak benar-benar hidup?

Sejarah koperasi Indonesia memberi cukup banyak pelajaran. Kita pernah menyaksikan koperasi tumbuh cepat karena program pemerintah, fasilitas, kredit, bahkan subsidi. Tetapi tidak sedikit yang ikut layu ketika fasilitas itu dihentikan. Artinya, membangun koperasi tidak sama dengan membangun gedung koperasi.

Dari perjalanan 32 tahun Koperasi Kredit Keling Kumang (KKKK/CUKK), Koperasi Kuantum (Pakpahan, 2026) menawarkan cara melihat persoalan tersebut melalui tiga unsur sederhana: ruh, jiwa, dan raga. Ruh memberi arah. Jiwa memberi energi. Raga memberi bentuk.

Ruh tanpa jiwa melahirkan idealisme tanpa gerakan. Jiwa tanpa raga menghasilkan semangat tanpa sistem. Sedangkan raga tanpa ruh dan jiwa akan menghasilkan organisasi seperti wayang tanpa dalang: bentuknya ada, tetapi kehidupan tidak. Di situlah tantangan terbesar 80.000 KDKMP.

Belajar dari Keling Kumang

Istilah “kuantum” dalam Koperasi Kuantum tentu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa koperasi bekerja menurut hukum fisika subatomik. Ia adalah metafora untuk menjelaskan organisasi sebagai sistem hidup: rumit, saling terhubung, dan tidak bisa dipahami hanya dari neraca keuangan.

Kerangka tersebut justru lahir secara induktif dari perjalanan panjang Keling Kumang. Pengalaman itulah yang menarik.  KKKK tumbuh selama lebih dari tiga dasawarsa bukan hanya sebagai lembaga keuangan. Ia berkembang menjadi ekosistem sosial-ekonomi yang melahirkan berbagai usaha dan institusi: Institut Teknologi Keling Kumang, SMK Keling Kumang, Keling Kumang Mart, Ladja Hotel, Agrowisata Kelam, hingga Taman Kelempiau.

Bahkan ketika krisis 1998 membuat banyak lembaga keuangan terguncang, simpanan anggota KKKK justru meningkat 15 persen. Mengapa?  Jawabannya tidak cukup dicari dalam modal, bunga, atau kecanggihan manajemen. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dapat dibangun melalui keputusan menteri. Ia tumbuh.

Ruh: Koperasi Harus Tahu untuk Apa Ia Ada

Dalam kerangka Koperasi Kuantum, ruh koperasi dibangun oleh lima pilar: Medan Kesadaran, Keterjeratan, Superposisi, Efek Pengamat, dan Keutuhan. Istilahnya memang terdengar akademis. Tetapi maknanya sesungguhnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Medan Kesadaran adalah nilai bersama yang menjadi kompas organisasi: gotong royong, kejujuran, pelayanan, dan kesadaran bahwa koperasi adalah milik bersama.

Di Keling Kumang, nilai handep—gotong royong—dan hidop barentin—hidup beraturan—bukan slogan yang ditempelkan di dinding. Nilai itu hidup dalam keputusan organisasi. Keterjeratan adalah jaringan kepercayaan. Keberhasilan seorang anggota memperkuat kepercayaan anggota lainnya. Sebaliknya, kecurangan satu orang dapat merusak kepercayaan seluruh komunitas.

Superposisi berarti koperasi tidak memaksa orang memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Keduanya harus berjalan sekaligus. Di KKKK, misalnya, 45 persen SHU dialokasikan untuk kepentingan individual berupa dividen, sementara 55 persen kembali kepada kepentingan kolektif melalui cadangan, dana sosial, dan pendidikan.

Efek Pengamat mengingatkan betapa besar pengaruh pemimpin. Pengurus yang jujur akan menciptakan budaya kejujuran. Pengurus yang merasa dirinya “bos” lambat laun akan mengubah koperasi menjadi perusahaan milik segelintir orang.  Sedangkan Keutuhan berarti koperasi tidak semata-mata dipandang sebagai mesin ekonomi. Ia juga sekolah demokrasi, jaringan sosial, tempat belajar, bahkan jaring pengaman ketika anggota menghadapi kesulitan.

Lima hal inilah yang menjadi “dalang”. Tanpanya, koperasi mungkin bergerak. Tetapi ia tidak tahu ke mana harus berjalan.

Jiwa: Kepercayaan Tak Bisa Dibeli

Kalau ruh memberi arah, jiwa menyediakan energi. Ada enam nilai dasar yang ditemukan dalam perjalanan Keling Kumang: Kekeluargaan, Kepercayaan, Usaha Bersama, Demokrasi Ekonomi, Loyalitas, dan Integritas. Semua terdengar sederhana. Justru karena itulah sering disepelekan.

Kekeluargaan membuat anggota tidak merasa sekadar sebagai konsumen. Kepercayaan membuat orang yakin uangnya aman dan keputusan bersama akan dihormati. Usaha bersama mengubah anggota dari pembeli menjadi pelaku ekonomi.

Demokrasi ekonomi menjadikan prinsip satu anggota, satu suara benar-benar hidup. Di KKKK, Rapat Anggota Tahunan bahkan dapat berlangsung dua sampai tiga hari. Anggota berdiskusi sebelum mengambil keputusan. RAT bukan ritual tahunan untuk mengetuk palu atas keputusan yang sebelumnya sudah dibuat pengurus.

Hasilnya terlihat. Retensi anggota KKKK tercatat lebih dari 90 persen selama lebih dari tiga dekade. Tingkat kepercayaannya mencapai 0,91. Bahkan opini Wajar Tanpa Pengecualian diperoleh 13 kali berturut-turut. Angka-angka itu penting. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang berada di belakang angka tersebut: orang percaya kepada organisasinya.

Inilah modal yang paling sulit dibangun oleh 80.000 KDKMP. Pemerintah dapat menyediakan modal. Pemerintah dapat membangun gudang. Pemerintah dapat membuat aplikasi dan sistem distribusi. Tetapi pemerintah tidak bisa mengirimkan satu kontainer berisi “kepercayaan” ke sebuah desa. Kepercayaan harus tumbuh dari perilaku sehari-hari.

Raga: Koperasi Harus Bisa Diperiksa Denyutnya

Ruh dan jiwa saja tidak cukup. Semangat yang besar tanpa organisasi yang sehat mudah berubah menjadi romantisme. Karena itulah koperasi memerlukan raga. Koperasi Kuantum menawarkan 13 parameter untuk membaca kesehatan organisasi. Nama-namanya menggunakan huruf Yunani, tetapi maknanya dapat disederhanakan.

Lambda (λ) mengukur kekuatan nilai inti. Apakah gotong royong dan kejujuran benar-benar hidup, atau sekadar tulisan di spanduk?

Phi (φ) membaca kepadatan hubungan sosial. Apakah anggota saling mengenal dan saling menjaga?

Alpha (α) mengukur kemampuan kelembagaan mengubah modal sosial menjadi kekuatan ekonomi. Di dalamnya terdapat transparansi, ritual kolektif, teknologi partisipatif, kaderisasi, serta sistem penghargaan dan sanksi.

Delta (δ) melihat hubungan koperasi dengan dunia luar: pasar, pemerintah, mitra, dan masyarakat.

Sigma (σ) mengukur efisiensi pelayanan. Kalau menjadi anggota koperasi justru membuat orang menghadapi birokrasi lebih rumit daripada berbelanja di toko biasa, ada sesuatu yang salah.

Mu (μ) adalah kemampuan beradaptasi. Harga berubah, teknologi berubah, musim berubah, kebijakan pemerintah berubah. Koperasi yang kaku akan patah.

Nu (ν) mengukur kekuatan cerita bersama. Apakah anggota masih tahu mengapa koperasi itu didirikan dan untuk siapa ia bekerja?

Omicron (ο) membaca keseimbangan antara otonomi lokal dan kendali organisasi.

Rho (ρ) adalah reputasi. Apakah masyarakat mempercayai koperasi?

Tau (τ) menyangkut ketepatan waktu dalam mengambil keputusan.

Epsilon (ε) adalah cadangan energi sosial: solidaritas, dana sosial, relawan, dan jaringan yang dapat digerakkan ketika krisis datang.

Theta (θ) barangkali yang paling penting: apakah koperasi benar-benar mengubah kehidupan anggotanya?

Dan terakhir, Omega (ω): regenerasi. Apakah koperasi mampu hidup setelah para pendirinya pergi?

Tiga belas parameter itu jangan diperlakukan sebagai kumpulan rumus yang membuat koperasi semakin rumit. Ia seharusnya menjadi semacam pemeriksaan kesehatan. Seperti tubuh manusia, masalah yang berbeda membutuhkan obat yang berbeda.

Kalau nilai melemah, jawabannya bukan selalu tambahan modal. Kalau jaringan sosial rusak, solusinya bukan otomatis aplikasi digital. Kalau regenerasi gagal, membangun gedung baru juga tidak akan menyelesaikan persoalan.

Inilah salah satu penyakit lama pembangunan kita: setiap masalah sering dijawab dengan proyek. Padahal tidak semua penyakit organisasi dapat disembuhkan dengan uang.

Pelajaran untuk 80.000 KDKMP

Dari sini pelajaran bagi KDKMP menjadi cukup terang. Kesalahan terbesar adalah jika pemerintah terlalu sibuk menghitung raga: berapa koperasi terbentuk, berapa gerai dibangun, berapa gudang tersedia, berapa anggota terdaftar, berapa triliun rupiah transaksi terjadi.

Semua itu penting. Tetapi semuanya baru tubuh. Pertanyaannya: di mana ruhnya? Di mana jiwanya?  Kita pernah mempunyai pengalaman panjang dengan Koperasi Unit Desa. Banyak KUD tumbuh ketika fasilitas pemerintah mengalir, tetapi kemudian melemah ketika lingkungan kebijakan berubah

Jangan sampai sejarah itu berulang dalam skala yang jauh lebih besar.

Karena 80.000 koperasi yang hidup dapat menjadi kekuatan ekonomi luar biasa. Tetapi 80.000 koperasi yang bergantung pada subsidi juga dapat menjadi 80.000 persoalan baru. Maka pembangunan KDKMP seharusnya dimulai bukan hanya dengan pembentukan badan hukum dan pembangunan fasilitas, melainkan dengan pendidikan anggota dan pengurus, pembentukan nilai, transparansi, kaderisasi, serta demokrasi internal.

Pengurus tidak boleh dipilih hanya karena dekat dengan kekuasaan desa. Mereka harus dipercaya. Rapat anggota tidak boleh menjadi seremoni. Laporan keuangan tidak boleh hanya dimengerti bendahara. Teknologi tidak boleh sekadar menjadi aplikasi yang dipaksakan dari Jakarta. Dan model bisnis tidak bisa seragam dari Aceh sampai Papua.

Desa nelayan berbeda dengan desa perkebunan. Sentra sayur berbeda dengan desa penghasil padi. Daerah wisata membutuhkan pendekatan berbeda dari desa yang hidup dari peternakan. Di sinilah otonomi lokal menjadi penting.  Pemerintah boleh menyediakan jalan raya. Tetapi orang desa harus diberi ruang menentukan kendaraan apa yang paling cocok untuk melewatinya.

Tidak Ada Jalan Pintas

Pelajaran lain dari Keling Kumang mungkin justru yang paling tidak menyenangkan: keberhasilan membutuhkan waktu. KKKK tidak menjadi besar dalam satu periode anggaran. Ia bertumbuh selama lebih dari tiga dasawarsa.

Nilai dipelihara. Kepercayaan dikumpulkan sedikit demi sedikit. Kesalahan diperbaiki. Kader dibentuk. Sistem diperkuat. Anggota melihat sendiri bahwa janji organisasi benar-benar dilaksanakan.  ada akhirnya organisasi itu tumbuh dari modal awal sekitar Rp291 ribu menjadi aset sekitar Rp2,3 triliun.  Itu bukan sulap.  Itulah akumulasi kepercayaan.

Maka kita harus berhati-hati terhadap obsesi pada kecepatan. Dalam proyek fisik, cepat sering berarti baik. Dalam pembangunan kelembagaan, terlalu cepat kadang justru berbahaya. Pohon dapat dipaksa berdiri dengan tiang penyangga. Tetapi akar tidak dapat diperintah tumbuh dalam semalam. Begitu pula koperasi.

Jangan Hanya Menghitung Papan Nama

Pada akhirnya, keberhasilan 80.000 KDKMP tidak boleh hanya diukur dari angka statistik. Keberhasilan adalah ketika petani tidak lagi panik menimbun pupuk karena percaya koperasinya mampu menjaga pasokan.

Keberhasilan adalah ketika seorang ibu datang ke rapat anggota dan berani mempertanyakan keputusan pengurus karena ia sadar koperasi itu juga miliknya. Keberhasilan adalah ketika laporan keuangan dapat dibuka dan dipahami anggota. Keberhasilan adalah ketika anak muda desa melihat koperasi bukan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai tempat yang masuk akal untuk membangun masa depan. Dan keberhasilan terbesar terjadi ketika pengurus pertama telah pergi, pejabat yang meresmikan telah berganti, program pemerintah telah berubah nama—tetapi koperasi tetap hidup.

Di situlah kita tahu bahwa yang dibangun bukan sekadar organisasi. Ia telah menjadi institusi. Maka pertanyaan terhadap program 80.000 KDKMP sesungguhnya sederhana: apakah kita sedang membangun koperasi, atau sekadar mendirikan 80.000 papan nama koperasi?

Metafora wayang memberi peringatan yang baik. Kita membutuhkan wayang. Kita membutuhkan panggung. Kita bahkan membutuhkan gamelan. Tetapi jangan lupa mencari dalangnya. Sebab gedung dapat dibangun dengan anggaran. Sistem dapat dibuat dengan peraturan. Modal dapat dikucurkan melalui keputusan politik.  Tetapi kehidupan sebuah koperasi hanya lahir ketika orang-orang di dalamnya percaya bahwa koperasi itu benar-benar milik mereka.

Jika ruh memberi arah, jiwa memberi energi, dan raga memberi bentuk, 80.000 KDKMP bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada jaringan distribusi barang dan modal. Ia dapat menjadi jaringan kepercayaan yang menghubungkan desa-desa Indonesia. Dan barangkali justru di situlah cita-cita koperasi yang sesungguhnya: bukan membuat masyarakat bergantung kepada negara, tetapi membuat masyarakat semakin mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri. []

*Guru Besar IPB, mantan Dirjen Perkebunan

Back to top button