Crispy

Cina Kenakan Pajak Kondom untuk Tingkatkan Angka Kelahiran, Penduduk tak Peduli

  • Generasi muda Cina saat ini khawatir apakah mereka mampu memikul tanggung jawab sebagai orang tua.
  • Pajak kontrasepsi itu urusan kecil, yang sangat menakutkan adalah biaya membesarkan anak.

JERNIHTiongkok mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 13 persen untuk kondom dan alat kontrasepsi lain, sebagai upaya menaikan angka kelahiran. Namun, menurut sejumlah pengamat, langkah itu berdampak kecil.

Cina menghadapi penyusutan populasi dalam tiga tahun terakhir. PBB memperkirakan jumlah penduduk Tiongkok akan turun dari 1,4 miliar saat ini menjadi 633 juta tahun 2100.

Beijing berusaha mengatasi situasi ini ketika tahun 2016 mencabut kebijakan satu anak yang ketat, dan mengizinkan setiap pasangan suami-istri memiliki dua anak. Namun, kebijakan itu tak mengubah penduduk Cina ingin punya lebih dari satu anak. Yang terjadi justri keluarga di Cina enggan punya anak.

Hanya ada 9,54 juta kelahiran di Tiongkok pada 2024, atau setengah dari tahun 2016. Akibatnya, kekhawatiran tentang penyusutan dan penuaan populasi semakin meningkat.

Kini, Cina mencoba cara lain. Namun, pengenaan pajak alat kontrasepsi tampaknya tidak akan mengatasi akar masalah yang menghalangi penduduk memiliki anak.

“Tekanan besar pada kaum muda Cina saat ini, dari pekerjaan sampai kehidupan sehari-hari, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondom,” kata seorang warga berusia 30 tahun yang menyebut dirinya bernama Jessica.

Menurutnya, ada kesenjangan kelas yang mencolok di masyarakat Cina, dan banyak yang merasa masa depan mereka tidak pasti untuk memulai sebuah keluarga.

“Orang kaya semakin terlalu kaya, dan yang miskin tetap miskin. Orang tidak percaya diri dengan masa depan mereka, yang membuat mereka tidak ingin punya anak,” kata Jessica.

Xu Wanting, berusia 33 tahun, tidak percaya pengenaan pajak alat kontrasepsi akan meningkatkan angka kelahiran. Artinya, orang berani bayar mahal agar tidak punya anak.

“Mereka akan tetap membeli alat kontrasepsi karena itu produk perencanaan keluarga,” kata Xu. “Kondom itu bukan hanya alat kontrasepsi, tapi menyangkut kesehatan reproduksi wanita.”

Alfred Wu, profesor madya di Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew di Singapura, mengatakan pajak kontrasepsi itu urusan sepele dibanding biaya membesarkan anak di Tiongkok. Perlu diketahui Tiongkok adalah salah satu negara termahal di dunia dalam urusan membesarkan anak.

“Pasangan muda yang memutuskan memiliki anak tidak menghitung apakah mereka mampu membayar pajak kontrasepsi, tapi apakah bias membesarkan anak dalam situasi ketidak-pastian ekonomi,” kata Wu.

Hambatan paling nyata yang dihadapi generasi muda Tiongkok adalah pasar kerja yang lemah, biaya perumahan yang sangat mahal, budaya kerja yang penuh tekanan, dan diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja.

“Generasi muda saat ini khawatir apakah mereka mampu memikul tanggung jawab sebagai orang tua,” kata Du, mahasiswi berusia 19 tahun.

Back to top button