
Mengusung agenda kesehatan gratis hingga usulan penghentian bantuan militer, Dr. Abdul El-Sayed sukses mengguncang panggung politik AS dengan menumbangkan kandidat pilihan elite Demokrat di Michigan.
WWW.JERNIH.CO – Siapa sangka seorang dokter dan epidemiolog keturunan Mesir mampu membuat Donald Trump kebakaran jenggot di media sosial? Nama Dr. Abdul El-Sayed mendadak menjadi perbincangan panas di panggung politik Amerika Serikat setelah politisi progresif Partai Demokrat ini secara mengejutkan memenangkan primary Senat AS di Michigan.
Kemenangan tak terduga ini tidak hanya mengacak-acak kalkulasi elite Washington, tetapi juga menyulut api persaingan sengit jelang panggung besar Pemilu Sela Amerika Serikat.
Abdul El-Sayed sendiri adalah seorang dokter, epidemiolog, dan mantan direktur dinas kesehatan di Detroit dan Wayne County, Michigan. Sebagai putra imigran asal Mesir yang lahir di Michigan, ia dikenal berpendidikan tinggi sebagai lulusan University of Michigan, penerima beasiswa Rhodes di Oxford, serta pemegang gelar doktor medis dari Columbia University.
Dalam kontestasi primary Partai Demokrat, El-Sayed bertarung di bawah faksi progresif dengan dukungan tokoh-tokoh sayap kiri seperti Senator Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez. Ia mengusung gagasan perubahan sosial yang radikal, termasuk program layanan kesehatan universal, penghapusan utang medis, serta kritik tajam terhadap kebijakan militer Israel di Gaza dan desakan agar AS menghentikan bantuan militer. Gagasan tersebut membawanya mengalahkan kandidat moderat yang didukung elite partai, Haley Stevens.
Sorotan terhadap kemenangan El-Sayed ini tidak lepas dari momentum politik Pemilu Sela itu sendiri. Pemilu Sela (Midterm Election) merupakan pemilihan umum di Amerika Serikat yang diadakan tepat di pertengahan masa jabatan presiden, yakni pada tahun kedua dari empat tahun masa jabatan. Dalam ajang ini, masyarakat AS tidak memilih presiden secara langsung, melainkan menentukan komposisi parlemen dan pemerintah daerah.
Seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR/House of Representatives) diperebutkan kembali, bersama dengan sekitar sepertiga dari total 100 kursi Senat—seperti kursi Michigan yang dimenangkan El-Sayed—serta puluhan posisi gubernur dan pejabat lokal. Pemilu sela kerap dianggap sebagai “rapor” atau referendum publik terhadap kinerja presiden yang sedang menjabat beserta partainya. Penguasaan atas Senat dan DPR AS sangat vital karena menentukan apakah presiden dapat meloloskan undang-undang dan anggaran atau justru menghadapi kebuntuan politik.
Isu pemilu sela ini kian memanas setelah kemenangan El-Sayed langsung memicu reaksi keras dari Donald Trump. Melalui platform Truth Social, Trump melontarkan tuduhan tanpa bukti bahwa proses pemungutan suara di Wayne County diwarnai kecurangan, sambil secara terbuka melabeli El-Sayed sebagai sosok “komunis” dan menuduhnya membenci kelompok tertentu.
Kemarahan Trump pada dasarnya berakar pada kalkulasi politik yang krusial, mengingat Michigan merupakan negara bagian penentu (swing state). Kehadiran kandidat progresif yang mampu memobilisasi pemilih akar rumput seperti El-Sayed dipandang menjadi ancaman besar bagi kandidat Partai Republik, Mike Rogers, dalam memperebutkan kendali atas Senat AS.(*)
BACA JUGA: Benteng Teheran Tak Goyah, Diplomasi Tekanan Maksimal Trump Membentur Tembok






