Drone Hizbullah Kejutkan Israel, Teknologi Baru Ubah Peta Peperangan

JERNIH – Seorang pejabat keamanan senior Israel mengakui bahwa militer mereka tidak siap menghadapi gelombang serangan drone peledak Hizbullah di front Lebanon. Munculnya teknologi baru di medan tempur ini disebut sebagai “kejutan besar dan nyata” yang berhasil menembus pertahanan Israel.
Laporan dari i24News mengungkapkan bahwa militer pendudukan Israel (IOF) tidak memiliki persiapan yang cukup untuk menghadapi ancaman ini, yang kini telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di pihak mereka.
Hizbullah dilaporkan mengerahkan puluhan drone penyerang setiap minggunya di berbagai front. Sistem ini mencakup dua jenis utama yakni drone penjatuh amunisi yang melepaskan bahan peledak dari ketinggian serta drone Kamikaze yang dirancang untuk meledak langsung saat menabrak target (pasukan atau kendaraan militer).
Keberhasilan drone-drone ini memaksa Kementerian Perang Israel dan industri pertahanan domestik untuk bekerja ekstra keras dalam mengembangkan alat penangkal dan kemampuan intersepsi baru secara cepat.
Laporan tersebut menyoroti kegagalan fatal dalam operasi di wilayah al-Taybeh, Lebanon Selatan. Empat drone Hizbullah dilaporkan berhasil menembus zona penempatan Divisi ke-36 Israel.
Dua dari drone tersebut menghantam target dengan akurasi tinggi. Salah satunya menghantam kru tank dari Batalyon ke-77, yang menewaskan Sersan Idan Fox dan melukai enam tentara lainnya. Insiden ini memicu kritik internal di militer Israel, yang mempertanyakan mengapa ancaman ini baru ditangani secara serius setelah memakan korban jiwa.
Apa yang membuat drone Hizbullah kali ini begitu berbahaya? Laporan militer mencatat beberapa keunggulan teknis dibandingkan sistem lama. Drone ini mampu beroperasi dengan ketergantungan minimal pada penerimaan sinyal, sehingga sangat sulit dideteksi atau dinetralkan melalui perang elektronik (electronic warfare) konvensional.
Beberapa platform menggunakan panduan serat optik jarak jauh. Hal ini membuat drone tersebut kebal terhadap gangguan elektronik (jamming) atau upaya pengalihan kendali jarak jauh. Iterasi terbaru ini jauh lebih maju dibandingkan sistem yang digunakan pada tahun 2024, menjadikannya senjata presisi yang mematikan.






