Produksi Terjun 50%, Warga Gaza Mengantre Roti Sejak Jam 4 Pagi demi Bertahan Hidup

JERNIH – Krisis pangan di Jalur Gaza memasuki babak baru yang semakin kelam. Kantor Media Pemerintah Gaza memperingatkan bahwa produksi roti telah anjlok drastis dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh penurunan tajam pasokan tepung yang masuk serta kehancuran infrastruktur toko roti akibat perang yang berkepanjangan.
Bagi jutaan pengungsi di Gaza, mencari roti kini bukan lagi aktivitas belanja biasa, melainkan “ritual harian” untuk bertahan hidup yang dimulai jauh sebelum fajar menyingsing.
Fadi Abu Shamala (39), seorang pengungsi di Al-Mawasi, Khan Younis, harus berjalan menembus kamp pengungsian pada pukul 04.00 subuh setiap harinya. Ia membawa kursi plastik kecil, bersiap untuk mengantre berjam-jam di depan toko roti demi menghidupi enam anggota keluarganya.
“Jika Anda datang setelah jam 5 pagi, kemungkinan besar Anda tidak akan mendapatkan apa-apa,” ujar Abu Shamala. “Terkadang orang-orang sampai menginap di depan toko roti. Kami menunggu berjam-jam, hanya untuk diberitahu bahwa tepung sudah habis atau toko berhenti beroperasi karena tidak ada bahan bakar.”
Di tengah lonjakan harga nasi, pasta, dan sayuran yang sudah tidak terjangkau lagi oleh keluarga pengungsi, roti menjadi cara termurah untuk “membungkam rasa lapar,” meski hanya sementara.
Kisah serupa dialami Sarah Baraka (33) di Deir al-Balah. Ia harus meninggalkan tiga anaknya yang masih tertidur di tenda usang setiap subuh untuk berburu roti. “Anak-anak terus meminta roti karena hanya itu makanan yang membuat mereka merasa kenyang. Saat saya pulang dengan tangan hampa, saya merasa sangat tidak berdaya,” ungkapnya pilu.
Data dari Asosiasi Pemilik Toko Roti Gaza menunjukkan kesenjangan yang mengerikan antara kebutuhan dan ketersediaan. Kebutuhan tepung harian 450 ton, pasokan yang masuk maksimal 260 ton, level pasokan hanya 38% dari tingkat sebelum perang. Sementara Program Pangan Dunia (WFP) hanya mampu menanggung 30% kebutuhan harian penduduk.
Abdul Nasser al-Ajrami, ketua asosiasi tersebut, menjelaskan bahwa hambatan utama bukan hanya tepung, tetapi juga blokade Israel terhadap masuknya minyak industri untuk generator dan suku cadang untuk memperbaiki mesin toko roti yang rusak.
Ekonom Palestina, Samir Abu Mudallala, memperingatkan bahwa roti telah bergeser dari produk biasa menjadi komoditas yang menguras waktu dan tenaga warga setiap hari. “Pembatasan bahan bakar dan bahan baku telah menghancurkan rantai pasok lokal,” ujarnya.
Tanpa adanya solusi segera untuk memasukkan lebih banyak bantuan, para ahli memperingatkan ancaman malnutrisi akut, terutama pada anak-anak, karena keluarga pengungsi sudah tidak memiliki alternatif makanan murah lainnya.






