Crispy

Drone Israel Buru dan Bunuh Seorang Nenek di Gaza, Korban Tewas Terus Bertambah

JERNIH – Seorang perempuan berusia 70 tahun dan putranya diburu serta dibunuh oleh pesawat tak berawak milik militer Israel di Kota Gaza pada hari Sabtu (6/12/2025). Serangan Israel pada hari yang sama telah menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina di Beit Lahiya, Jabalia, dan Zeitoun meskipun telah terjadi gencatan senjata.

Laporan saksi mata dari Al Jazeera di Kota Gaza, Hani Mahmoud, menyebutkan bahwa korban dan putranya dikejar oleh drone tersebut sekitar satu kilometer dari garis gencatan senjata yang tidak terlihat. “Mereka ditinggalkan di sana hingga kehabisan darah,” lapor Mahmoud. Drone tersebut terus berputar di atas lokasi, secara efektif mencegah siapa pun mendekat untuk memberikan pertolongan.

Mahmoud menegaskan insiden ini hanyalah salah satu dari banyak pelanggaran yang terjadi sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober. Ia menyoroti banyak warga Palestina mungkin secara tidak sengaja melewati batas larangan (yellow line) karena tidak ada penanda atau rambu-rambu yang jelas untuk menunjukkan area terlarang tersebut.

Militer Israel mengklaim pihaknya menewaskan tiga orang karena melintasi garis batas tersebut. Namun, fakta di lapangan menunjukkan militer Israel juga mendorong tank dan kendaraan lapis baja hingga 300 hingga 500 meter melampaui batas, serta membangun penghalang pasir yang mengisolasi bagian timur Kota Gaza.

Pelanggaran ini terjadi di tengah peringatan keras dari pemimpin politik kawasan. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, menyatakan di Forum Doha bahwa gencatan senjata Gaza berada di “momen kritis” dan berisiko runtuh tanpa upaya serius menuju penghentian perang permanen.

Senada dengan itu, Manal Radwan dari Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan, “Kami tidak melihat bahwa kami memiliki mitra untuk perdamaian. Bahkan mitra untuk gencatan senjata berkelanjutan pun tidak.”

Korban tewas sejak gencatan senjata (Oktober) kini mencapai sedikitnya 367 warga Palestina, dengan 70 di antaranya adalah anak-anak, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza dan UNICEF.

Sementara itu, krisis kemanusiaan semakin mendalam seiring datangnya musim dingin. Kelompok HAM Israel, B’Tselem, melaporkan pembatasan Israel pada bantuan, termasuk kebutuhan musim dingin, menyebabkan anak-anak kedinginan hanya dengan pakaian musim panas setelah badai menghancurkan 13.000 tenda bulan lalu.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) juga melaporkan, satu dari empat rumah tangga hanya makan satu kali sehari, sementara 10% warga menghabiskan satu hari penuh tanpa makanan dalam sebulan terakhir.

Di tengah situasi ini, delapan negara mayoritas Muslim (termasuk Mesir dan Qatar) menolak rencana Israel menjadikan penyeberangan Rafah hanya satu arah bagi warga Palestina yang meninggalkan Gaza, memperingatkan bahwa hal itu berisiko memicu perpindahan paksa yang melanggar perjanjian damai. Total 1,9 juta orang—sekitar 90% populasi Gaza—telah mengungsi akibat perang ini.

Back to top button