CrispyVeritas

Efek ‘BrahMos Boom’: Setelah Filipina, Kini Giliran Indonesia Amankan Rudal Supersonik Paling Mematikan di Dunia

BrahMos bukan rudal biasa. Senjata ini memegang predikat sebagai salah satu rudal jelajah tercepat di dunia dengan karakteristik yang mengerikan bagi sistem pertahanan lawan.

JERNIH – Setelah bertahun-tahun melalui negosiasi yang alot, Indonesia akhirnya resmi bergabung dalam barisan elit pemilik BrahMos, rudal jelajah supersonik hasil kolaborasi India-Rusia. Langkah besar ini menandai babak baru dalam modernisasi militer Indonesia yang dipacu secara signifikan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan RI, Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi pada 9 Maret bahwa Jakarta telah sepakat mengakuisisi sistem rudal BrahMos sebagai bagian dari penguatan pertahanan maritim dan udara nasional. Meski detail nilai kontrak belum diumumkan secara resmi, laporan sebelumnya memperkirakan kesepakatan ini bernilai sekitar US$450 juta (sekitar Rp7 triliun).

Mengutip Eurasian Times, BrahMos bukan rudal biasa. Senjata ini memegang predikat sebagai salah satu rudal jelajah tercepat di dunia dengan karakteristik yang mengerikan bagi sistem pertahanan lawan. Menggunakan mesin ramjet berbahan bakar cair, rudal ini memiliki kecepatan supersonik mampu melesat hingga kecepatan Mach 3 (tiga kali kecepatan suara).

Dengan prinsip ‘fire and forget’, sekali diluncurkan, rudal ini akan mencari targetnya sendiri tanpa perlu panduan lebih lanjut. Kemampuannya terbang rendah menyusuri permukaan laut (terrain-hugging) dan jejak radar yang kecil membuatnya hampir mustahil dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.

Reputasi BrahMos meroket setelah “debut tempur” yang intens dalam konflik singkat India-Pakistan pada Mei 2025. Laporan menyebutkan India meluncurkan 15 hingga 19 rudal BrahMos dalam konflik empat hari tersebut untuk menghantam pangkalan militer strategis, termasuk Pangkalan Nur Khan di Rawalpindi.

Hasilnya? Tidak ada satu pun rudal yang berhasil dicegat oleh pertahanan Pakistan. Keberhasilan ini membuat banyak negara berebut untuk masuk dalam daftar antrean pembeli.

Tiga Negara Berpeluang Menyusul Indonesia

Keberhasilan Filipina (US$375 juta) dan kini Indonesia dalam mengakuisisi BrahMos telah memicu efek domino di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah. Berikut adalah tiga negara yang paling mungkin menjadi pembeli berikutnya:

1. Vietnam

Vietnam disebut sedang dalam tahap finalisasi kesepakatan senilai US$700 juta untuk baterai pertahanan pesisir. Bagi Hanoi, BrahMos adalah instrumen krusial untuk menjaga kedaulatan di Laut China Selatan di tengah ketegangan yang terus meningkat.

2. Uni Emirat Arab (UEA)

Direktur BrahMos Aerospace secara eksplisit menyebut UEA sebagai calon pembeli prospektif. Sebagai negara yang masuk dalam daftar “negara sahabat” India, UEA tertarik mengintegrasikan rudal ini untuk memperkuat pertahanan strategis mereka di kawasan Teluk.

3. Malaysia

Kuala Lumpur dilaporkan tengah melakukan negosiasi awal untuk varian udara (air-launched). Malaysia berencana mengintegrasikan BrahMos pada jet tempur Su-30MKM milik Angkatan Udara Kerajaan Malaysia, mirip dengan skema yang digunakan India pada Sukhoi-30 MKI mereka.

Sejak menjabat pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto telah mempercepat modernisasi alutsista yang sebelumnya sempat mandek. Prioritas utama adalah pertahanan kepulauan. Berbeda dengan Filipina yang fokus pada ancaman spesifik, Indonesia melihat BrahMos sebagai instrumen untuk diversifikasi pemasok senjata.

Indonesia memiliki keunggulan strategis dibanding Filipina dalam penggunaan senjata ini: TNI Angkatan Udara telah mengoperasikan jet tempur Su-30, platform yang sudah teruji mampu menggotong varian udara BrahMos. Jika integrasi ini dilakukan, Indonesia akan memiliki daya pukul jarak jauh (stand-off) yang mampu menjangkau target hingga radius 450 km hingga 800 km di masa depan.

Back to top button