
Operasi evakuasi rahasia ini diduga dijalankan oleh sebuah organisasi misterius berbasis di Eropa bernama “Al-Majd Europe”. Bukannya melalui proses formal otoritas Palestina, keberangkatan ini lebih menyerupai operasi penyelundupan yang mendapatkan lampu hijau langsung dari pihak keamanan Israel.
JERNIH – Di tengah puing-puing perang yang telah berlangsung selama dua tahun, sebuah fenomena mencurigakan mulai terendus di Jalur Gaza. Sejumlah tokoh publik, akademisi, hingga tenaga medis dilaporkan meninggalkan wilayah tersebut melalui jalur-jalur tak resmi yang tertutup rapat, memicu kekhawatiran akan adanya skema pengusiran massal secara halus (covert displacement).
Operasi evakuasi rahasia ini diduga dijalankan oleh sebuah organisasi misterius berbasis di Eropa bernama “Al-Majd Europe”. Bukannya melalui proses formal otoritas Palestina, keberangkatan ini lebih menyerupai operasi penyelundupan yang mendapatkan lampu hijau langsung dari pihak keamanan Israel.
Identitas organisasi Al-Majd Europe hingga kini masih menjadi teka-teki. Namun, pejabat informasi pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabteh, mengungkapkan indikasi kuat bahwa entitas ini dikelola oleh individu Israel berkewarganegaraan Estonia.
Prosesnya pun tidak mudah dan transparan dengan seleksi ketat. Hanya individu tertentu, terutama kaum elit, akademisi, dan tenaga ahli yang dipilih. Calon warga yang ikut program ini harus membayar sekitar US$2.500 (sekitar Rp39 juta) melalui perantara. Setelah lolos pemindaian keamanan Israel, mereka dilarang membawa koper; hanya dokumen pribadi dan ponsel yang diizinkan dibawa keluar.
“Kurangnya transparansi ini mengonfirmasi bahwa organisasi ini beroperasi di bawah perlindungan langsung atau integrasi fungsional dengan otoritas pendudukan,” tegas Al-Thawabteh. Ia menyebut ini sebagai kejahatan “pemindahan paksa” yang dibungkus dengan narasi keberangkatan sukarela.
Eksodus ini menghantam jantung layanan publik Gaza. Zaher al-Wahidi dari Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sekitar 600 staf medis, termasuk 300 dokter spesialis, telah meninggalkan Gaza melalui jalur-jalur ini.
Beberapa tokoh yang mengonfirmasi keberangkatan mereka antara lain:
- Khamis al-Issi (Ahli Saraf): Menuju Norwegia demi masa depan keluarga setelah bertugas sejak awal perang.
- Yusri al-Ghul (Novelis): Menuju Swiss untuk bekerja di sebuah universitas.
- Ali M. (Jurnalis): Menuju Afrika Selatan setelah kehilangan rumah, pekerjaan, dan mengalami tekanan psikologis berat.
“Masa depan yang tidak pasti mendorong saya mengambil keputusan nasib ini demi mencari kehidupan yang bermartabat,” ungkap Ali kepada Al-Araby Al-Jadeed.
Empat Jalur Menuju Luar Gaza
Saat ini, Kerem Shalom menjadi satu-satunya gerbang keluar tersisa, yang terbagi dalam empat skema: Skema pertama adalah evakuasi kemanusiaan nelalui Al-Majd Europe (jalur yang paling diperdebatkan). Skema kedua adalah koordinasi konsulat melalui kedutaan besar negara-negara Eropa. Ada juga yang berjalan dengan skema beasiswa pendidikan untuk para mahasiswa serta pengobatan medis bagi pasien dengan kondisi kritis.
Kritik keras datang dari berbagai pihak yang melihat fenomena ini sebagai upaya sistematis untuk mengubah realitas demografis Gaza. Dengan memfasilitasi kepergian para intelektual dan tenaga ahli, Gaza tidak hanya kehilangan penduduknya, tetapi juga kehilangan kapasitas untuk membangun kembali wilayah tersebut di masa depan.
Hingga saat ini, Al-Majd Europe menolak memberikan komentar terkait tuduhan keterlibatan mereka dalam skema pengosongan wilayah ini. Namun, bagi warga Gaza yang bertahan, setiap keberangkatan rahasia ini adalah lubang besar bagi masa depan bangsa yang kian mengecil.






