Gaza Kian Terhimpit: Israel Kuasai Lebih dari 50% Wilayah dan Perluas ‘Garis Kuning’

JERNIH – Harapan warga Palestina untuk mendapatkan ketenangan di bawah kesepakatan gencatan senjata kini sirna. Militer Israel dilaporkan terus memperluas pendudukan fisiknya di Jalur Gaza, melampaui apa yang disebut sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line) di wilayah utara, sembari terus menghujani wilayah selatan dengan bom.
Hingga Senin (5/1/2026), militer Israel secara fisik telah menduduki lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza. Langkah ini memaksa jutaan pengungsi masuk ke dalam klaster-klaster pemukiman yang semakin sempit dan tidak manusiawi.
Dalam 24 jam terakhir, pasukan Israel terpantau memperluas zona pendudukan di bagian timur Kota Gaza, khususnya di lingkungan Tuffah, Shujayea, dan Zeitoun. Ekspansi ini mendorong garis militer semakin dekat ke Jalan Salah al-Din, yang merupakan arteri utama penghubung utara dan selatan Gaza.
“Ekspansi ‘Garis Kuning’ ini dimaksudkan untuk melahap lebih banyak wilayah di bagian timur, yang benar-benar mempersempit area perlindungan warga,” lapor Hani Mahmoud dari Al Jazeera. Akibatnya, populasi di beberapa lingkungan yang tersisa membengkak hingga tiga kali lipat karena pengungsi tidak memiliki tempat lain untuk kembali.
Gencatan Senjata yang Berdarah
Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat telah berlaku sejak 10 Oktober lalu, pelanggaran terjadi hampir setiap hari. Data menunjukkan dampak yang mengerikan sejak dimulainya “truce” tersebut:
- Korban Tewas: Sedikitnya 414 warga Palestina gugur.
- Korban Luka: Sebanyak 1.145 orang mengalami cedera.
- Total Korban Sejak Oktober 2023: 71.386 tewas dan 171.264 luka-luka.
Di wilayah tengah, sebuah bangunan lima lantai milik keluarga al-Shana di kamp Maghazi runtuh total setelah sebelumnya sempat dibom. Tim Pertahanan Sipil saat ini masih berjuang mencari korban hilang di bawah reruntuhan.
Dilema Gerbang Rafah: Harapan atau Jebakan?
Di tengah keputusasaan, muncul kabar mengenai kemungkinan pembukaan kembali penyeberangan Rafah. Namun, pengumuman ini disambut dengan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan akan pembersihan etnis (ethnic cleansing).
Bagi sebagian warga, Rafah adalah jalur penyelamat untuk pengobatan dan reuni keluarga. Namun, bagi sebagian besar lainnya, ada kekhawatiran besar bahwa Israel berencana menjadikan Rafah sebagai “pintu keluar satu arah” (one-way exit).
“Sejauh ini, kami tahu militer Israel mendesak agar Rafah hanya menjadi pintu keluar saja,” lapor Mahmoud. Hal ini memicu ketakutan bahwa warga yang pergi tidak akan pernah diizinkan kembali ke tanah air mereka, sebuah pola yang mirip dengan pengusiran permanen di masa lalu.
Blokade Bantuan yang Terus Berlanjut
Di saat krisis pangan dan medis mencapai titik nadir, militer Israel tetap memblokir tumpukan bantuan kemanusiaan internasional di perbatasan. Meskipun PBB dan lembaga bantuan lapangan memberikan testimoni mengenai kelaparan yang meluas, pihak Israel bersikeras menyatakan bahwa “tidak ada kekurangan bantuan.”
Pengepungan yang kian mencekik dan ekspansi wilayah yang tak kunjung henti menunjukkan bahwa kedaulatan dan ruang hidup bagi warga Palestina di Gaza kini berada di ambang kepunahan.






