Harga Minyak Meledak ke $110, Bursa Saham Global Bertumbangan Terimbas Pidato Trump

Pidato nasional Presiden Donald Trump pada Rabu malam waktu setempat ternyata tidak membawa angin segar yang diharapkan pasar. Alih-alih deeskalasi, retorika keras Trump justru memicu aksi jual massal di bursa saham global dan melambungkan kembali harga minyak mentah ke level psikologis $110 per barel.
JERNIH – Harapan investor akan berakhirnya perang di Timur Tengah pupus seketika. Harga minyak melonjak tajam dan pasar ekuitas global rontok pada perdagangan Kamis (2/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan akan terus menggempur Iran “sangat keras” dalam beberapa minggu ke depan.
Harga minyak mentah jenis Brent melompat lebih dari 7% ke kisaran $108,70 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS naik ke $106,52. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Trump dalam pidato primetime-nya yang bersumpah akan membawa Iran “kembali ke Zaman Batu.”
Meskipun Trump menyebut kampanye militer AS mendekati akhir, pasar justru menangkap sinyal ketidakpastian. “Fakta bahwa kita harus bersiap untuk 2-3 minggu aksi militer lagi, ditambah ancaman terhadap infrastruktur, membuat pasar kembali dalam posisi defensif,” ujar Jon Withaar dari Pictet Asset Management.
Bursa saham Asia menjadi yang paling terpukul karena ketergantungan mereka yang tinggi pada energi untuk industri teknologi. Nikkei Jepang ditutup anjlok 2,4%, Kospi Korea Selatan merosot tajam hingga 4,7% serta di Wall Street, kontrak berjangka (futures) menunjukkan pembukaan yang lebih rendah sekitar 1,3%.
Di tengah gejolak ini, investor berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka ke dalam Dolar AS. Greenback menguat terhadap hampir semua mata uang utama. Euro melemah 0,5% ke level $1,1526, dan Poundsterling terdepresiasi 0,8% ke bawah $1,32. Rupee India sempat menyentuh rekor terendah sebelum Bank Sentral melakukan intervensi darurat dengan melarang perdagangan non-deliverable forwards.
Fokus utama pelaku pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Trump menyatakan AS tidak membutuhkan gerbang minyak tersebut dan memprediksi selat itu akan terbuka secara alami setelah konflik usai.
Namun, analis pasar tetap skeptis. “Satu-satunya hal yang benar-benar penting adalah apakah Selat Hormuz akan segera dibuka. Pidato Trump tidak mengindikasikan hal itu akan terjadi secepat yang diharapkan pasar,” kata Prashant Newnaha, pakar strategi dari TD Securities.





