Prof Dr Achmad Mochtar dan Vaksin Maut Klender 1944

- Jepang menuduh Eijkman Instituut menyabotase vaksin yang diberikan ke Romusha, dan menyiksa seluruh staf untuk mengaku.
- Tidak ada yang mengaku meski disiksa sampai mati. Prof Achmad Mochtar akhirnya mengaku untuk menyelamatkan nasib rekan-rekannya.
JERNIH — Sempatkan berkunjung ke Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, dulu Lembaga Eijkman. Anda akan menemukan foto besar tiga legenda peneliti; Christian Eijkman di pemenang Nobel bidang Kedokteran 1929 dan direktur pertama lembaga ini ketika masih bernama Geneeskundig Laboratorium, Gerrit Grijns — peneliti dan co-discover vitamin B1 yang sempat masuk nominasi Nobel Kedokteran 1926 — dan Prof Dr Achmad Mochtar, pribumi pertama yang menjadi direktur Eijkman instituut, lembaga yang semula bernama Geneeskundig Laboratorium.
Siapa Achmad Mochtar
Lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, 10 November 1890. Ayahnya, Omar gelar Sutan Nagari, seorang guru dari Bonjol. Roekayah, ibunya, cucu seorang Kepala Laras, juga dari Bonjol. Sejak kecil, Achmad Mochtar biasa berpindah dari satu ke lain kota atau kabupaten mengikuti tugas mengajar sang ayah.
Perlu penelitian lebih dalam untuk mengetahui riwayat pendidikan Achmad Mochtar. Akhir Matua Harahap, dosen Fakultas Ekonomi UI, tak memperoleh informasi di mana Achmad Mochtar menyelesaikan Europesch Lager School (ELS). Yang diketahui banyak orang adalah Achmad Mochtar masuk STOVIA tahun 1907 dan lulus 1916.
Ia memulai karier sebagai dokter Hindia di Panyabungan, desa terpencil di Mandailing Natal, selama dua tahun. Di sinilah dia bertemu WAP Schuffner, peneliti Belanda yang sedang meneliti malaria. Schuffner memperkenalkan Achmad Mochtar pada dunia penelitian, menjadi mentor, dan mengirimnya ke Universitas Amsterdam untuk mengikuti program doktoral.
Desertasi doktoralnya, yang diselesaikan 1927, menggugurkan hipotesis Dr Hideyo Noguchi — ilmuwan terkemuka Jepang yang berkali-kali dinominasikan menerima Nobel bidang Kedoketeran — tentang leptospira sebagai penyebab demam kuning. Achmad Mochtar kembali ke Hindia-Belanda tahun 1927 dan melanjutkan penelitian tentang leptospirosis. Ia berpindah-pindah tugas antara Pulau Jawa dan Sumatera, tapi aktif menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasian di berbagai jurnal ternama.
Achmad Mochtar adalah ilmuwan kelas dunia. Itulah yang membuatnya bergabung dengan Geneeskundig Laboratorium tahun 1937. Satu tahun kemudian Geneeskundig Laboratorium berganti nama menjadi Eijkman Instituut.
Jepang dan Eksperimen Keji
Maret 1942 Jepang menduduki Pulau Jawa. Serdadu Jepang segera menggebah warga kulit putih ke kamp interniran. WK Mertens, direktur Eijkman Instituut saat itu, menderita penyakit beri-beri di kamp interniran. Mertens tak mendapat pengobatan layak dan tewas. Achmad Mochtar segera ditunjuk menggantikannya.
Sebagai direktur lembaga penelitian di tengah perang, Achmad Mochtar tak sempat mencetak pencapaian tertinggi. Ia justru terjerumus dan menjadi kambing hitam sebuah peristiwa yang disebut Vaksin Maut Klender 1944.
Agustus 1944, ratusan romusha di Kamp Klender — letaknya di samping Stasiun KA Klender — dikumpulkan untuk menerima vaksin kombinasi. Tak lama setelah penyuntikan, penerima vaksin kejang-kejang, mengalami gangguan pernafasan, otot kaku, dan tewas. Jumlah korban mencapai ratusan.
Kamp Klender ditutup. Penanganan kasus ini diserahkan ke dokter militer Jepang. Beberapa bulan kemudian muncul cerita penyebab kematian di Kamp Klender adalah sabotase oleh ahli medis Eijkman Instituut yang dipimpin Achmad Mochtar. Sabotase terjadi saat vaksin yang didatangkan dari Lembaga Pasteur Bandung ditempatkan di Eijkman Instituut.
Serdadu Jepang menyiksa seluruh staf dan peneliti Eijkman Instituut, yang seluruhnya pribumi. Beberapa tewas disiksa tanpa pernah mengaku. Yang lain menderita luar biasa, sekarat, dan terus disiksa agar mengaku telah melakukan sabotase. Namun, tak satu pun mengaku melakukan yang dituduhkan dan berpotensi menjalani eksekusi tebasan samurai.
Achmad Mochtar mengakhiri semuanya dengan membuat pengakuan. Ia mengorbankan nyawa dan reputasinya untuk menyelamatkan rekan-rekannya dari tebasan samurai serdadu Jepang. Setelah pengakuan Mochtar, serdadu Jepang berhenti menyiksa staf dan peneliti Eijkman Instituut.
Di pantai Ancol pada 3 Juli 1945, Achmad Mochtar menjalani eksekusi mati. Catatan harian tentara Jepang menyebutkan jenazah Achmad Mochtar dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massal.
Berbagai Penelitian
Kasus Vaksin Maut Klender menyita perhatian hampir seluruh pemimpin Indonesia saat itu. Mereka membicarakannya, dan mengambil kesimpulan masing-masing. Bung Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Otto Iskandar Di Nata, KH Mas Mansyur, mengakui jasa Achmad Mochtar dan mengampuninya.
Bung Karno, dalam biografi resminya mengatakan Achmad Mochtar dan seluruh staf Lembaga Eijkman bersalah atas kematian romusha di Klender. Bung Hatta, berbeda dengan Soekarno, menyatakan Mochtar telah dituduh dan dihukum secara tidak adil.
Tahun-tahun setelah kemerdekaan, sosok Achmad Mochtar terlupa cukup lama. Prof Sangkot Marzuki, bersama J Kevin Baird, melakukan penelitian bertahun-tahun agar Vaksin Maut Klender 1944 yang menyeret Achmad Mochtar ke tebasan samurai serdadu Jepang memperoleh narasi yang benar.
Di Belanda, Februari 1989 — saat Kaisar Hirohito dimakamkan — De Locomotief edisi 24-02-1989 menurunkan artikel yang menyinggung Vaksin Maut Klender 1944. Koran terbitan Belanda itu menyebutnya Kasus Serum, dan mengaitkannya dengan Unit 732 Angkatan Darat Jepang, proyek sangat rahasia untuk memproduksi bom penyebar penyakit. Proyek ini berpusat di Manchuria.
Tidak ada yang bisa memastikan berapa korban tragedi ini. Prof Sangkot dan Kevin Baird, yang merangkum hasil penelitiannya dalam buku Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang, menyebut korban tewas Vaksin Maut Klender 1944 adalah 900 orang. De Locomotief, menguitp film dokumenter berjudul Unit 731: Apakah Kaisar Mengetahuinya? yang diproduksi BBC, korban tewas di Kamp Klender 368 romusha.
Staf Lembaga Eijkman menemukan lokasi makam Achmad Mochtar di Ancol, dan pada 3 Juli 2010 diadakan peringatan 60 tahun kematian Achmad Mochtar di tempat sang ilmuwan hebat dimakamkan. Sebagai penanda lokasi makam, agar bisa diziarahi keluarga dan peneliti, ditanam pohon kering yang disemen.
Unit 732, Demam Kuning, dan Institut Pasteur
Unit 731, tulis De Locomotief, tampaknya memanfaatkan penelitian yang dilakukan Institut Pasteur di Bandung selama tahun-tahun perang. David Wallace, yang melakukan investigasi untuk film dokumentar BBC berjudul Unit 731: Apakah Kaisar Mengetahuinya?, menemukan dokumen rahasia mengenai hal ini. Dokumen itu menyebutkan seorang perwira Jepang dengan gembira melaporkan bahwa virus demam kuning yang sangat didambakan telah ditemukan di sebuah laboratorium di Institut Pasteur di Bandung.
Selama bertahun-tahu Jepang mencari virus demam kuning, tapi gagal. Mereka berencana menggunakan virus demam kuning untuk membuat bom penyebar penyakit atau senjata biologis, yang diyakini efektif melenyapkan unit-unit tentara besar.
Intelejen AS mengetahui rencana ini. Sebelum Jepang mendara di Pulau Jawa, AS mengingatkan pemerintah Hindia-Belanda untuk melakukan imunisasi kepada penduduk secara besar-besaran. AS secara rahasia mengirim strain virus demam kuning pada Februari 1942 ke Institut Pasteur di Bandung untuk pengembangan vaksin.
Situasi perang membuat Institut Pasteur kesulitan membuat vaksin demam kuning. Setelah Jepang masuk ke Pulau Jawa, Institut Pasteur diambil alih Kapten Yamada dari Angkatan Darat Dai Nippon. Staf Belanda digebah ke kamp interniran.
Institut Pasteur sempat dikunjungi tangan kanan Jenderal Shiro Ischii — Dr. Mengele versi Jepang, yang menggunakan ratusan tawanan perang Inggris dan Amerika sebagai kelinci percobaan. Tak lama kemudian, Institut Pasteur terlibat dalam pembuatan vaksin yang diuji-coba ke ratusan romusha di Kamp Klender.
Para ahli Indonesia mengatakan Vaksin Maut Klender 1944 sebenarnya dimaksudkan untuk menutupi eksperimen medis rahasia Jepang. Setelah perang, seorang dokter militer Jepang mengatakan kepada pengadilan militer Australia bahwa ia telah menguji vaksin tetanus yang ia kembangkan ke 17 narapidana hukuman mati di Hindia-Belanda.
Selama tahun-tahun perang, para peneliti Jepang berhasil menginduksi tukak tropis pada subjek uji Indonesia melalui suntikan. Tentara Jepang bermaksud menggunakan ini untuk menentukan seberapa cepat dan murah para tahanan dapat dilumpuhkan.






