Iran Resmi Pungut Biaya Transit Selat Hormuz, Pendapatan Perdana Masuk ke Bank Sentral

- Jika biaya transit ini permanen, biaya logistik minyak dunia akan naik secara struktural, yang ujung-ujungnya bisa memicu inflasi global.
- Selat Hormuz masih dalam kondisi terblokade akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut, yang kian memperparah tekanan terhadap ekonomi global.
JERNIH – Wakil Ketua Parlemen Iran, Hamid Reza Haji Babai, mengumumkan pada Kamis (23/4/2026) bahwa pendapatan pertama dari biaya transit yang dikenakan pada kapal-kapal saat melintasi Selat Hormuz telah resmi disetorkan ke rekening Bank Sentral.
Langkah ini mempertegas posisi Teheran dalam mengontrol jalur perairan paling strategis di dunia tersebut. Babai mencatat bahwa sekitar 20% perdagangan minyak global dan 35% pengiriman gas dunia melewati Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa kendali atas jalur ini merupakan bukti nyata dari peran vital Iran dalam ekonomi internasional.
Sementara itu, Ahmad Naderi, anggota Presidium Parlemen Iran, mengonfirmasi bahwa biaya transit tersebut akan dikumpulkan dalam mata uang Rial Iran. Ia juga menekankan bahwa kebijakan pungutan ini akan bersifat permanen.
Iran sebelumnya sempat melontarkan ide untuk mengenakan biaya dalam mata uang Yuan China sebagai upaya membangun regulasi finansial modern yang terlepas dari ketergantungan terhadap Dolar AS. Langkah ini diambil sebagai respons atas apa yang disebut Iran sebagai agresi berkelanjutan terhadap kedaulatan mereka.
Hingga saat ini, Selat Hormuz masih dalam kondisi terblokade akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut, yang kian memperparah tekanan terhadap ekonomi global.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan dengan tegas bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran kritis ini bersifat kondisional. “Pembukaan kembali selat tidak mungkin dilakukan selama gencatan senjata terus dilanggar secara terang-terangan,” ujar Ghalibaf.
Pihak Teheran menetapkan syarat utama untuk membuka kembali rute laut sempit ini, yaitu penghentian agresi militer di Lebanon serta penghentian blokade angkatan laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Langkah Iran menggunakan Rial untuk transaksi internasional di Selat Hormuz adalah manuver “de-dolarisasi” yang sangat berani. Jika kapal-kapal tanker dunia dipaksa membeli Rial dalam jumlah besar untuk membayar biaya transit, ini bisa menjadi upaya Iran untuk menyelamatkan nilai tukar mata uang mereka yang selama ini tertekan sanksi.






